Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Cemas


__ADS_3

Perlahan mata Raisya bergerak. Dia mulai sadar setelah mendapatkan perawatan dari dokter melalui infusan.


"A.. aku dimana?" Suara lirihnya terdengar Aisyah yang sedari setia menunggu di samping ranjang Raisya.


"Mbak.. sudah sadar? Kita sedang berada di rumah sakit. Tadi mbak sempat pingsan." Jawab Aisyah berdiri lalu mendekati Raisya.


"Anak-anak dimana?" Meski kesadarannya belum pulih, hal pertama yang diingat Raisya adalah anak-anak nya.


"Mereka sudah pulang diantar pak Jacky mbak." Jawab Aisyah mengelus lembut kepala Raisya seolah dia adalah kakaknya sendiri.


Raisya menatap wajah Aisyah. Dilihatnya dengan inten wajah teduh itu.


"Maafin mbak ya.. selalu bikin repot kamu." Raisya mengangkat tangannya lalu mengelus wajah teduh di balik cadar itu.


"Gak pa-pq mbak. Mbak jangan banyak pikiran!" Jawab Aisyah tak ingin Raisya memikirkan banyak masalah. Walau dia sendiri tidak tahu seberat apa masalah yang ditanggung Raisya.


"Hah.. kadang mbak merasa lelah Aisyah. Dan mbak tidak tahu harus berbuat apa?" Raisya dengan tatapan kosong menerawang jauh entah sedang menjelajahi apa.


"Istigfar mbak! Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuannya. Di luar sana mungkin banyak yang mempunyai masalah lebih berat dari kita. Yang harus kita lakukan jangan jauh dari Allah mbak!" Jawab Aisyah sambil mengelus wajah Raisya yang sudah mulai berkaca-kaca.


Nasihat Aisyah menguatkan hati Raisya yang sedang rapuh.


"Terimakasih Aisyah.. kamu setia menemani mbak selama ini. Di saat mbak rapuh dan tidak mempunyai sandaran, kalian ada untuk mbak." Raisya kini menoleh pada Aisyah dengan buliran airmata.


Aisyah menyeka air mata Raisya dengan penuh kasih.


"Semuanya karena semata-mata karena Allah mbak. Tak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk mendatangkan seseorang guna menolong kita. Saya yakin mbak adalah orang baik. Kami juga merasa bersyukur telah dipertemukan dengan mbak. Mungkin Allah pun ingin kami mempunyai saudara sebaik mbak." Jawab Aisyah begitu menyentuh hati Raisya.


"Sekali lagi terimakasih. Saat ini mbak butuh nasihat. Mbak tidak mau salah langkah lagi Aisyah. Mbak harus bagaimana dengan hidup mbak? Apakah mbak harus hidup sendiri sampai mati? Apakah mbak harus menikah lagi dengan pria lain? Atau mbak harus kembali pada keluarga Alberto? Mbak bingung Aisyah." Raisya sedang mengeluarkan unek-unek nya yang ada dalam hatinya selama ini.

__ADS_1


Satu sisi Raisya ingin memulai hidup baru, tapi rongrongan dari Jacky selalu saja jadi kendala bagi pekerjaannya juga bagi hubungan Raisya pada orang baru. Itu membuat Raisya tersiksa. Dia seperti tidak mempunyai pilihan baru ataupun menentukan hidupnya sendiri.


"Sabar mbak! Sebaiknya mbak istikharah! Kalau sudah istikharah setidaknya hati mbak akan tenang. Jika menurut mbak hidup disini terlalu berat dan terlalu banyak ujian. Berhijrahlah! Mungkin di tempat yang jauh mbak akan mendapatkan ketenangan dan jodoh yang baru." Aisyah hanya bisa memberi saran sesuai apa yang menurutnya benar.


Raisya menghela nafas panjang.


"Terimakasih Aisyah atas saran kamu. Mbak sangat senang bisa dekat denganmu." Tangan Raisya menggenggam tangan Aisyah. Ada rasa damai yang dia rasakan untuk sementara.


Setelah ujian yang datang bertubi-tubi pada Raisya, dia berpikir tidak semata-mata Tuhan mengujinya, kalau dia sendiri yang salah. Bukankah kebaikan itu datangnya dari Allah dan keburukan datang dari diri kita sendiri?


Raisya sedang berpikir, apa yang harus diperbaikinya. Mungkin selama ini ada pola kehidupan yang salah yang dia jalani yang menyebabkan masalah datang bertubi-tubi padanya. Ini tak boleh dibiarkan terus-menerus. Kalau tidak, hidupnya ke depan akan seperti itu selamanya.


Botol infus perlahan-lahan habis masuk ke tubuh Raisya. Sesuai saran dokter Raisya sudah diperbolehkan pulang setelah cairan infusnya habis. Dan Raisya pun sudah merasakan badannya lebih baik.


"Mbak.. apa sudah baikan?" Tanya Anwar melihat Raisya sudah melepaskan jarum infus dibantu perawat.


"Alhamdulillah." Jawab Raisya sambil menekan kapas untuk menghentikan darah bekas lubang jarum.


Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, ketiganya pun kembali ke rumah.


Setelah sampai di rumah semua orang mengistirahatkan dirinya masing-masing karena lelahnya perjalanan dan juga harus mengurus Raisya di rawat di rumah sakit.


Di lain tempat Jacky mondar-mandir tidak tenang. Meski sudah mendapatkan kabar dari Anwar bahwa Raisya baik-baik saja, dirinya tetap tidak tenang sebelum bertemu dengannya. Seperti biasa Jacky selalu menyesali perbuatannya. Janji-janjinya hanya sebatas kata, bukan perbuatan. Dia berjanji tidak akan berbuat kasar pada Raisya tapi pada kenyataannya dia selalu mengulangi perbuatannya itu.


"Ah... kenapa. aku begini?" Sesal Jacky sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa Jack? Bukannya habis piknik harusnya bergembira?" Tanya Sherly agak heran melihat sikap Jacky yang gelisah.


"Mmm.. gak pa-pa." Jawabnya menutupi kebenaran.

__ADS_1


"Itu pipi kamu kenapa?" Biru lebam di pipinya semakin terlihat. Karena sejak pulang Jacky tidak mengindahkan bekas pukulan Baron yang sempat mendarat di pipinya.


"Gak apa-apa. Tadi aku tak sengaja kena benturan dan lupa belum diobati." Bohong Jacky yang tak mau ketahuan bahwa dia habis kena tinjunya Baron.


"Aku bawakan es ya?" Tawar Sherly pada Jacky.


"Mmm." Jawab Jacky singkat.


"Tak lama kemudian Sherly menyuruh pembantu nya membawakan es batu dan handuk ke kamarnya.


"Duduklah! Biar aku bantu memgompresnya." Ucap Sherly sambil menarik tangan Jacky agar duduk di kursi sofa.


Jacky pun duduk di samping Sherly. Sesekali dia mengernyit kesakitan begitu handuk yang membungkus es itu menyentuh pipinya.


"Bagaimana tadi acaranya? Apa lancar?" Sherly tahu kalau Jacky pasti bertemu mantan istrinya. Tapi dia sudah berusaha ikhlas pada sikap Jacky mau bagaimanapun. Apalagi dengan kondisi kesehatan dirinya kini, dia tak mau banyak menuntut pada Jacky. Jacky sudah menikahinya saja sudah beruntung.


"Lancar." Jawab Jacky tak mau terus terang.


"Syukurlah. Semoga kamu dan Michel bisa menikmatinya." Ucap Sherly pura-pura tidak tahu. Padahal tadi melihat kedatangan putrinya dengan bibir cemberut menandakan di sana pasti ada masalah. Dia menunggu Jacky bicara sendiri.


"Kamu sudah berobat lagi Sher?" Tanya Jacky yang beberapa hari ini tak mendengar istrinya memberitahu soal pengobatannya.


"Tadi dokter Ferdy datang ke sini. Jadi aku tak pergi ke rumah sakit." Jawab Sherly apa adanya.


"Kenapa kamu membiarkan dia datang ke rumah kita di saat aku tak ada?" Nada Jacky terdengar agak tidak senang mendengar dokter Ferdy datang ke rumahnya. Apalagi di saat dirinya tidak ada.


Sherly menghentikan kompresan di pipi Jacky dan menatap Jacky.


"Memangnya kenapa?" Sherly ingin tahu kenapa Jacky seperti tidak senang mendengar berita itu.

__ADS_1


"Kamu tahu dia itu membahayakan Sherly!" Nada bicara Jacky naik satu oktaf.


__ADS_2