
"Kenapa mas?" Aisyah melihat wajah suaminya kebingungan.
"Biaya rumah sakitnya." Keluh Anwar agak mengernyitkan keningnya. Tabungan Anwar dalam rekeningnya memang tidak banyak. Keduanya menyisihkan tiap bulan sisa dari pengeluaran biaya hidupnya. Mulai cicilan rumah, mobil dan kebutuhan sehari-hari. Itupun sudah terpakai biaya Raisya waktu pertama kali ke rumah sakit dan dipakai biaya tindakan kuret juga perawatan.
"Mmm... bagaimana kalau mas Anwar tarik saja dari rekening mbak Raisya. InsyaAllah mbak Raisya juga bakal mengerti. Dia menitipkan kartu ATM nya di Aisyah mas." Aisyah memberikan saran untuk suaminya.
"Mmm.. baiklah. Nanti kumpulkan bon nya dek. Khawatir mbak Raisya nanti bertanya-tanya." Anwar takut terkena fitnah atas pemakaian kartu Atm Raisya.
"Baik mas. InsyaAllah nanti Aisyah simpan berkas-berkas pengeluaran selama di rumah sakit. Ini kartu ATM mbak Raisya. Mas bisa tarik sesuai kebutuhan mbak Raisya." Aisyah mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan kartu ATM Raisya yang selama ini dititipkan.
Di lain tempat.
Kring
Kring
Kring
Suara panggilan dari handphone Jacky.
Dengan buru-buru Jacky mengangkat panggilan itu dengan perasaan berdebar-debar. Meski kemarin di depan Sherly dia berusaha tidak peduli, tapi sekarang dia begitu sangat ingin tahu.
'Halo. Tuan Jacky.. " Suara di seberang telepon menyapa.
"Iya pak. Bagaimana apa ada kabar terbaru?" Tanya Jacky begitu antusias mendengarkan apa yang akan dikatakan orang di seberang telepon.
"Iya tuan Jacky. Saya menemukan jejak penarikan uang tunai di sebuah rumah sakit. Saya sudah meluncur ke rumah sakit tersebut dan mencari pasien bernama nona Raisya. Pencarian kita akhirnya ketemu tuan Jacky." Ucap orang di seberang telepon.
"Apa itu benar?" Jantung Jacky seolah meloncat mendengar penuturan orang yang ditugasi untuk mencari keberadaan Raisya selama ini.
"Benar tuan. Saya sudah memastikannya dan saya masih menunggu tuan di rumah sakit." Ucap orang itu yang sama-sama merasakan kegembiraan setelah orang yang selama ini dicarinya sudah ketemu. Sebelumnya dia sudah memastikan bahwa orang yang dicarinya itu sudah sesuai dengan data yang dia pegang.
"Baiklah. Aku akan datang ke sana. Tolong kirimkan alamat rumah sakitnya!" Jacky langsung berdiri dari meja kerja nya membawa kunci mobil.
__ADS_1
"Za.. kamu atur semua pekerjaanku. Aku pergi dulu." Jacky yang sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan Reza, sekarang malah menyerahkan pekerjaan pada Reza.
Reza melongo melihat sikap para bos nya.
Dasar bos. Selalu saja seenaknya menyuruh. Tidak kenal waktu pergi begitu saja.
Sayangnya Reza hanya berteriak di dalam hatinya. Tapi Reza masih beruntung karena Jacky tidak separah Nathan. Dulu ketika dia masih jadi asistennya Nathan, banyak masalah yang ditimbulkan dan terkadang membahayakan nyawa. Itu sudah membuat Reza kewalahan. Untungnya keluarga Raisya tidak menuntut ke ranah hukum.
"Baik." Kalau sudah begini Reza tak bisa menolak lagi.
Perasaan Jacky mirip gado-gado antara senang dan khawatir. Senangnya dia kini bisa menemukan keberadaan Raisya. Sedihnya pasti, keadaan Raisya tidak baik-baik saja.
Jacky melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata agar dia bisa cepat sampai di rumah sakit yang dituju.
Kurang dari dua puluh menit, mobilnya sampai di area parkir. Dengan langkah setengah berlari dia segera menyusuri lorong dan menemui sang detektif.
"Tuan Jacky." Dia memberi hormat begitu Jacky datang.
Nafas Jacky masih tersengal-senggal. Jacky mengambil nafas agar bisa bicara dengan tenang.
"Sebelah sini tuan." Jawab laki-laki yang berjaket kulit hitam dengan penampilan plontos dan berbadan tegap mirip seorang aparat keamanan.
Laki-laki itu berjalan lebih dulu sedang Jacky berjalan agak belakangan.
"Ini ruangannya tuan." Tunjuk laki-laki itu. Tertera di depan pintu nama Raisya.
"Terimakasih." Jacky menatap lamat-lamat pintu ruangan itu. Ada rasa ragu dan takut menyelinap. dalam hati Jacky.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Dengan menguatkan mental akhirnya Jacky memberanikan diri mengetuk pintu ruangan.
Krekkk
Pintu pun dibukanya perlahan. Jacky masuk setelah membuka pintu.
Dua pasang mata melihat ke arah pintu. Begitupun Jacky mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia melihat sepasang suami istri itu melihat ke arahnya.
Anwar dan Jacky sama-sama memindai. Mereka saling mengerutkan dahi, karena sebelumnya keduanya pernah melihat. Begitupun Aisyah seperti tidak asing melihat wajah Jacky.
"Anda?" Anwar mendahului bertanya begitu Jacky menghampirinya.
"Iya. Kita pernah bertemu bukan? Sayangnya waktu itu, saya tidak selesai membantu anda. Padahal orang yang anda bantu adalah istri saya sendiri." Ucap Jacky mulai membuka identitas nya.
"Perkenalkan saya Jacky. Suaminya Raisya." Ucap Jacky sambil menyodorkan tangannya.
Anwar menoleh ke arah istrinya. Lalu kembali menatap Jacky lalu menyambut tangan Jacky untuk bersalaman.
"Anwar. Ini istri saya Aisyah." Anwar pun memperkenalkan diri sambil menatap ragu.
"Terimakasih anda sudah merawat istri saya dengan baik. Saya sudah mencarinya kemana-mana. Beruntung istri saya dirawat orang baik seperti anda." Puji Jacky sambil mengucapkan terimakasih pada Anwar dan juga Aisyah.
"Maaf.. kalau boleh tahu. Apa bukti anda adalah suaminya. Maaf jika saya kurang sopan." Anwar ternyata tidak pantas percaya begitu saja pada Jacky yang datang mengaku sebagai suami Raisya. Karena dilihat dari kejadian sebelumnya, Raisya mengaku tidak mempunyai keluarga. Dan sepertinya memang tidak berniat untuk kembali pada keluarganya. Anwar curiga, Raisya mendapatkan masalah dan dia enggan untuk kembali.
"Anda boleh melihat foto ini!" Jacky memperlihatkan foto-foto kebersamaan dirinya sewaktu dengan Raisya dari layar handphonenya.
Anwar mengambil layar handphone Jacky dan melihat secara detail bersama Aisyah. Setelah selesai melihat foto-foto itu Anwar mengembalikan handphone Jacky pada pemiliknya.
"Maaf apa anda mempunyai surat nikah? Saya bukan tidak percaya. Tapi demi melindungi mbak Raisya saya harus lebih berhati-hati. Terlebih mbak Raisya mengaku tidak mempunyai keluarga. Dan sewaktu saya menolongnya waktu itu, dia dalam keadaan depresi berat sehingga kami berdua khawatir jika mbak Raisya akan kembali strest." Anwar bicara jujur dan tak mau gegabah mempercayai Jacky begitu saja.
"Ada. Surat nikah kami ada di rumah. Nanti akan saya kirimkan fotonya pada anda sebagai bukti. Saya tadi pergi dari kantor, begitu teman saya memberitahu bahwa istri saya ada disini." Jawab Jacky.
"Mmm. Baiklah. Untuk sementara saya percaya. Tapi mohon maaf tapi saya belum sepenuhnya mempercayai anda sebelum bukti itu diperlihatkan. Bukan apa-apa, demi kebaikan mbak Raisya sendiri. Kasihan mbak Raisya sepertinya sudah banyak menderita. Apalagi dia sekarang keguguran. Bahkan dokter tadi sudah memeriksanya lebih detail. Ternyata mbak Raisya koma." Anwar memberitahu keadaan Raisya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Apa? Keguguran?" Jacky terhenyak kaget.