
Nathan mengatur nafas bersamaan dengan kekagetannya. Dia melirik ke samping, kekagetannya malah bertambah level. Ternyata ada seorang perempuan yang sedang tertidur lelap memunggunginya. Dia baru tersadar bahwa semalam dia telah berbaring satu selimut dengan perempuan yang tak boleh semestinya.
"Ahhh... " Nathan menumpahkan isi hatinya dengan berteriak. Dia syok manakala perempuan yang terbaring di sampingnya adalah Sherly.
"Sial.. dia sudah meracuniku dengan obat-obatan itu! Sejak kapan dia merencanakannya? Aku malah terjebak." Ucap Nathan yang baru saja mengetahui penyebab kenapa dirinya sekarang ada di ranjang itu.
Padahal seharusnya ranjang ini adalah milik adiknya yang baru saja mengucap janji sehidup semati dengan perempuan yang ada di sampingnya itu.
"Kemana si Jacky? Apa yang diperbuatnya sekarang? Jangan-jangan mereka berdua sedang membalas perbuatanku?"
Nathan turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Dia ingin segera kembali pulang, khawatir Jacky mendatangi Raisya. Padahal sebenarnya dia tak usah khawatir karena Raisya tinggal di rumahnya dan pastinya dia ada yang menjaga. Tapi dasar pikirannya kotor. Dia malah membayangkan Raisya pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukannya.
Curahan air yang jatuh dari atas shower menghujani kepalanya yang sedang diisi benang-benang kusut yang dibuatnya sendiri.
Kalau sudah begini dia bingung. Dia tak tahu harus darimana menarik ujung benangnya agar persoalan yang menimpanya bisa selesai. Nathan seperti mencari masalahnya sendiri dengan berbuat tanpa perhitungan.
"Raisya... " Satu nama yang sekarang dia sebut. Ada perasaan bersalah telah mengkhianati perempuan itu. Pikiran sadarnya masih normal. Tapi bagaimana pula kalau Raisya pun sama mengkhianatinya?
Sejatinya seorang pria yang baik akan memperlakukan perempuan dengan baik dan tidak menghianati kesucian pernikahan. Begitupun sebaliknya. Apapun judul pernikahan itu, sang langit sudah mencatatnya sebagai ikatan yang sah.
Raisya pun sebenarnya salah, ketika di acara pernikahan Jacky dia sudah mengawali bibit perselingkuhan dengan berdansa dengan laki-laki yang nota bene bukan suaminya. Dan hal itu yang memicu Nathan berbuat kasar padanya.
Hanya manusia yang tak tahu agama yang mempermainkan status pernikahan. Dibuat semaunya hanya untuk mengesahkan keinginan nafsunya belaka. Dimata Tuhan satu pernikahan tidak boleh dibuat seperti permainan.
Padahal bertahun-tahun Nathan bisa menahan hasrat tanpa melakukan kesalahan fatal seperti sekarang ini. Kenapa demi mencegah menyakiti Raisya dia memilih jalan yang salah.
"Hah... " Suara nafasnya yang dibuat nyaring menggema di seluruh kamar mandi. Untungnya kamar mandinya kedap suara. Kalau tidak, mungkin akan digedor satu hotel karena mengusik ketenangan penghuni kamar yang lain.
Seiring dengan tetesan air yang menyentuh lantai, air matanya pun luruh. Nathan menangisi dirinya sendiri. Sedih, melihat dirinya yang payah.
__ADS_1
Ruangan berair itu seakan sedang menertawakan perbuatannya. Andai waktu bisa diputar dan diulang, dia lebih memilih duduk manis bersama Raisya dan menikmati steak buatannya.
Nathan menutup kran air dan menyudahi ritual mandinya. Dia berdiri di depan cermin menatap tubuhnya yang masih polos.
"Kenapa dengan diriku?"Di mengusap wajahnya.
"Apa yang dilakukan Raisya sekarang? Apa dia pun sedang tertidur dengan laki-laki lain, sama halnya dengan Sherly? Kalau iya, berarti kita impas.
"Aku harus pulang sebelum Sherly bangun." Dia membawa handuk mengerikan tubuhnya dan memakai pakaiannya. Dia keluar dari kamar mandi membawa beberapa barang miliknya. Untungnya Sherly tidak terbangun.
Nathan keluar dari kamar itu berharap tak ada siapapun yang mengetahui perbuatannya. Dia menuju tempat parkir melajukan kendaraannya seperti melarikan diri.
Nathan mengambil kemudi di subuh hari menuju rumahnya dengan kecepatan di atas rata-rata
Jalanan begitu sepi. Itu memudahkan dia melajukan kendaraannya cepat sampai di rumah.
Nathan buru-buru masuk ke rumah. Dia ingin segera melihat Raisya. Pikiran kotor itu sudah menuntunnya untuk mencari-cari kesalahan Raisya.
"Akhirnya dia pulang juga." Dia bicara sendiri.
Nathan masuk ke dalam rumah dengan derap langkah kaki yang panjang dia sama sekali tidak menyangka Raisya sudah bangun. Karena ini masih jam tiga pagi dimana saat enak-enaknya tidur.
"Mas sudah pulang?"
Degg
Suara lembut Raisya sepertinya berhasil mengagetkan Nathan. Dia tak menyangka kepulangannya yang masih pagi buta akan diketahui Raisya.
Nathan melirik sebentar pada Raisya menatap wajahnya. Dia melihat senyuman Raisya yang begitu manis, tulus menyambutnya. Sejenak netranya beradu dengan bola mata Raisya.
Dia heran, kenapa Raisya tidak nampak marah atau kecewa, malah tersenyum seperti itu.
__ADS_1
Entahlah hatinya seperti terhipnotis melihat Raisya yang tiba-tiba tersenyum ramah. "Apa yang sedang direncanakan Raisya? Apa dia sedang menyusun rencana untuk balas dendam dengan bersikap itu. Atau menutupi dosa yang sama seperti dirinya?" Nathan bermonolog.
Nathan mencurigai sikap Raisya. Karena dia belum pernah menerima senyuman setulus ini kecuali dari Michel anaknya sendiri.
Raisya yang melihat suaminya berdiri menatapnya seperti itu langsung tersipu malu. Panah apa yang kini sedang menghujam dadanya. Wajah tampan itu seperti sihir masuk ke netranya membuat dia terpukau.
"Em.. iya." Nathan menjawab pendek. Lalu dia berjalan menuju kamar Raisya ingin memeriksa kamar itu. Mungkin saja sosok yang sedang dicurigainya ada di dalam. Tapi hanya ada sebuah sajadah yang masih tergelar dan mukena dilipat asal. Dia melongok ke arah toilet, tapi kosong tak berpenghuni.
Raisya mengerutkan dahi. "Ada apa dengan dia? Datang-datang langsung ke kamarku. Apa yang sedang dicarinya?" Raisya mengikuti Nathan masuk ke kamarnya.
"Mas Nathan mencari Michel?" Raisya menduga mungkin suaminya sedang mencari Michel. Dia tak sedikitpun menduga yang tidak-tidak tentang suaminya.Mungkin kepergiannya tadi malam menyusul Michel ke mansion tuan Robert. Mungkin saja Michel tidak ada di sana sehingga Nathan mencari ke sana kemari dan kini baru pulang
"Hah.. apa ini? Kenapa dia masih tersenyum seperti itu?" Nathan merasakan keanehan dengan sikap Raisya yang tiba-tiba saja menjadi ramah tidak seperti kemarin-kemarin, abai dan dingin.
"Mas Nathan.. " Karena Nathan tak menjawab pertanyaan Raisya kembali memanggilnya.
"Apa?" Nathan malah menjawab dengan pertanyaan.
"Apa yang sedang mas cari?" Tanya Raisya penasaran.
"Dimana kamu menyembunyikannya?" Nathan mendekati Raisya dengan tatapan dingin.
"Maksudnya?" Raisya melongo.
"Dimana kamu menyembunyikan laki-laki itu?" Nathan menarik kerudung Raisya dengan kasar.
"Mmmm... laki-laki mana mas?" Tadinya Raisya memasang wajah manis sekarang berubah menjadi ketakutan.
"Jangan munafik kamu! Dimana kamu menyembunyikan laki-laki yang sudah menidurimu?"
"Astaghfirullah aladzim... mas?"
__ADS_1