
Setelah mendapatkan kabar bahwa Raisya masuk rumah sakit Jacky langsung pergi dengan terburu-buru. Terpaksa Reza harus menghandle sisa pekerjaannya.
Mobil Jacky terparkir di depan klinik. Keningnya mengerut ketika yang dilihatnya sebuah klinik alternatif"Apa tidak salah alamat aku nyasar ke klinik ini?" Jacky menajamkan matanya mengulang membaca nama klinik dan pesan yang dikirimkan tuan Robert padanya.
Jacky menekan nomor ayahnya karena ragu akan klinik yang ada di depannya.
"Halo pih.. " Jacky menelpon tuan Robert ingin memastikan alamat yang diberikannya itu benar.
"Iya.. ada apa?" Jawab tuan Robert tidak berbasa-basi.
"Ini benar pih, alamatnya?" Tanya Jacky pada tuan Robert masih menatap heran pada tulisan yang ada di klinik itu.
"Benar. Memang kenapa?" Tuan Robert agak heran kenapa Jacky sepertinya terdengar ragu.
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit kita aja sih pih? Ini apaaan klinik alternatif?" Jacky belum juga turun dari mobilnya.
"Di situ juga ada klinik umumnya bukan hanya klinik alternatif." Ucap tuan Robert pada Jacky.
"Papih memang setuju Raisya dirawat di sini pih?" Jacky mulai membuka safety belt nya dan handle pintu mobil untuk turun.
"Memangnya ada yang salah? Yang penting pertolongan pertama dulu. Nanti kalau sudah lewat masa kritis bisa dipindahkan. Demam berdarah membutuhkan penanganan cepat Jacky. Kalau dibawa ke rumah sakit kita jaraknya lumayan jauh." Tuan Robert yang sudah mengetahui lebih dulu siapa pemilik klinik, merasa tenang kalau Raisya ditangani olehnya.
"Ya sudahlah." Jacky akhirnya menyerah lalu masuk ke dalam klinik.
Setelah menanyakan dimana Raisya dirawat, Jacky langsung mencari kamar Raisya.
Krekk...
Pintu terbuka, Jacky melongokkan kepalanya memeriksa isi ruangan.
Degg
Jantung Jacky terhenyak melihat laki-laki berkulit bersih dengan penampilan casual sedang meraba-raba badan Raisya.
__ADS_1
"Hei.. lagi ngapain kau disini?" Jacky cepat-cepat menghampiri ranjang dan menepis tangan dokter Ferdi dari tubuh Raisya. Jacky menatap nyalang pada dokter Ferdi karena merasa marah sudah tidak sopan meraba-raba tubuh Raisya.
Raisya menatap lemah pada Jacky yang sedang diselimuti kemarahan.
"Maaf.. anda siapa?" Dokter Ferdi dengan wajah tenang melihat ke arah Jacky.
"Nanya lagi? He.. seharusnya gue yang nanya sama elu. Elu lagi ngapain disini?" Jacky meninggikan suaranya setengah membentak.
"Jacky.. " Raisya berkata lirih. Dia tahu sikap Jacky seperti itu karena sudah salah paham. Raisya tidak bisa banyak bicara, suara di kerongkongannya sakit sekali dan kepalanya sangat pusing.
"Iya.. ada apa sayang? Kamu tidak diapa-apain kan sama dia? Mana yang sudah disentuhnya? Biar aku laporankan pada polisi karena pelecehan seksual. Biar laki-laki mesum ini mendekam di penjara." Jacky begitu posesif dan terus saja nyerocos bicara tanpa tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Dokter Ferdi mengerutkan dahi.
Siapa laki-laki ini? Datang-datang langsung nyerocos. Sebentar.. kenapa dia menyebutnya sayang? Bukankah Raisya seorang janda? Apalagi suaminya baru saja meninggal. Ah.. masa iya pacarnya sih!
Dokter Ferdi yang sedang mengobati Raisya dengan teknik akupresur pun jadi bingung setelah kedatangan Jacky.
"Heh.. kenapa masih berdiri disitu? Keluar kamu!" Jacky heran melihat laki-laki asing yang sudah ketahuan mesum, masih berdiri di tempatnya.
"Dokter?" Jacky kaget. Dia menilik penampilan dokter Ferdi dari atas sampai bawah.
"Heh.. kamu jangan ngaco ya! Masa dokter kaya kamu." Jacky tidak percaya pada pengakuan dokter Ferdi yang mengaku sebagai dokter.
"Mmm.. maaf mungkin karena penampilan saya, anda tidak percaya pada saya. Tapi.. anda boleh menanyakannya kok di depan. Dan saya akan melanjutkan pengobatan pada pasien saya." Ucap. dokter Ferdi dengan tenangnya mendekati Raisya lagi.
"Heh... mau kamu presiden kek gue tetep gak percaya sama kamu. Sekarang juga gue akan pindahkan Raisya ke rumah sakit lain." Jacky mengambil benda pipih dari saku celananya lalu kembali menghubungi tuan Robert untuk mengadukan apa yang baru dilihatnya.
"Halo pih.. " Mata Jacky tetap mengunci pada dokter Ferdi. Dia sangat waspada. Takutnya dia lengah dan laki-laki di depannya malah mesum kembali pada Raisya.
"Iya.. ada apa lagi?" Tuan Robert agak kesal Jacky menelpon lagi. Pastinya anaknya itu akan melayangkan protes seputar Raisya.
"Pih.. sekarang juga aku pingin Raisya dipindahkan ke rumah sakit keluarga kita." Jacky tak ingin berlama-lama di klinik itu. Apalagi setelah melihat laki-laki yang ada di depannya itu sudah berani meraba-raba tubuh Raisya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Jacky?" Benar saja dugaan tuan Robert. Jacky pastinya akan melayangkan protes padanya.
"Aku tak percaya dengan keamanan klinik ini. Mereka membiarkan orang asing masuk ke kamar Raisya dan meraba-raba tubuhnya. Benar-benar tempat yang kotor." Jacky melayangkan satu hinaan.
"Hehh.. " Dokter Ferdi yang mendengar perkataan Jacky langsung kesal.
"Maksudnya apa Jacky? Papih sudah cek kok. Klinik itu bersih dan bagus. Malah pemilik klinik itu juga seorang Professor yang bekerja di rumah sakit kita. Dia orang profesional, makanya papih membiarkan Raisya dirawat di sana." Tuan Robert tidak tahu, laki-laki yang sedang dibicarakannya bersama Jacky ada di depannya.
"Biarkan aku bicara sama ayah anda!" Dokter Ferdi ingin menyudahi perseteruannya dengan Jacky. Dia meminta Jacky untuk memberikan handphonenya agar dokter Ferdi bisa bicara pada tuan Robert.
"Apa-apaan kamu hah? Sudah mesum, sekarang ingin ikut nimbrung." Jacky menyolot. Dia tak mau laki-laki yang di depannya bicara pada ayahnya.
Tuan Robert yang mendengar dari seberang telepon langsung tahu, Jacky sedang berbicara dengan seseorang.
"Jacky.. kamu sedang bicara dengan siapa?" Tuan Robert ingin tahu dengan siapa Jacky bicara.
"Orang gila yang mengaku-mengaku dokter." Jacky menjawab sekenanya.
"Maaf tuan Robert.. sepertinya anak anada sudah salah paham." Dokter Ferdi bicara agak lantang agar terdengar oleh tuan Robert di seberang telepon.
"Dokter Ferdi.. " Tuan Robert langsung mengenali suaranya.
"Jacky.. apa yang di depan kamu adalah dokter Ferdi?" Tuan Robert menanyakan pada Jacky identitas laki-laki yang ada di depan Jacky.
"Papih mengenalnya?" Jacky agak menurunkan nada bicaranya.
"Kalau benar yanga ada di depan kamu adalah dokter Ferdi, papih mau bicara padanya!" Perintah tuan Robert pada Jacky.
"Tapi pih.. dia orang gila. Bukan dokter." Karena melihat penampilan tidak resmi dokter Ferdi, Jacky tidak percaya profesi laki-laki yang di depannya adalah seorang dokter.
"Kalau kamu tidak mau, tolong keraskan speaker nya! Papih mau bicara." Ucap tuan Robert.
Jacky menurut, dia menekan tombol speaker.
__ADS_1
"Dokter Ferdi..kaukah disitu?"