
Kata Sah, itulah yang ditungu-tunggu Jacky. Meski ini bukan pernikahan yang pertama, tapi tetap saja ini terasa sakral dan membuat jantunganya berdebar-debar.
Raisya mencium takzim tangan Jacky yang telah menjadi suaminya. Jacky mencium kening Raisya lama dan khidmat. Betapa panjang perjuangan dirinya sampai ke titik ini.
Sepasang mata yang dibakar api cemburu mengintip dibalik gorden hotel dimana acara pernikahan Raisya dan Jacky digelar. Tuan Robert berjanji pada dirinya ingin membuat pesta untuk pernikahan Raisya dan Jacky yang tak kalah mewahnya dengan pernikahan Jacky sebelumnya.
Raisya dengan balutan kebaya putih dan jilbab yang menjuntai sampai lantai begitu terlihat anggun dan cantik. Begitu pun jas putih yang dikenakan Jacky, dia nampak seperti pangeran yang baru saja turun dari kereta kuda kencana.
Semua tamu menikmati pestanya begitupun sepasang pengantin yang bahagia akhirnya keduanya jadi pasangan sah.
Jacky tidak banyak berdiri, bahkan Raisya pun ikut duduk karena sepatu highly lebih cepat membuatnya lelah.
"Kapan pestanya beres pih? Kok tamunya gak berhenti-berhenti." Jacky mulai menggerutu.
"Sabar. Kamu duduk saja. Semua tamu maklum kok kaki kamu sedang cedera." Ucap istrinya tuan Robert tersenyum menyambut tamu.
Jacky ikut tersenyum begitu tamunya menghampirinya.
"Ah.. itu dia tamu yang papih tunggu-tunggu." Tuan Robert yang tidak tahu menahu tentang persoalan dokter Ferdi malah mengundangnya.
Seketika itu juga, Raisya terlihat pucat melihat dokter Ferdi mendekati altar.
"Selamat ya pak Robert." Ucap dokter Ferdi tersenyum palsu.
"Terimakasih. Oh.. aku nanti ingin membahas mengenai rumah sakit. Apakah benar kamu adalah pewaris tunggal tuan Lee?" Tuan Robert malah berlama-lama bicara dengan dokter Ferdi membuat antrian panjang tamu yang ingin mengucapkan kata selamat.
"Mmm.. baik." Dokter Ferdi nampak menjaga image apalagi setelah menjadi pewaris tunggal keluarga Lee yang mempunyai perusahaan di bidang obat-obatan sekaligus pemilik saham di rumah sakit.
Dokter Ferdi melangkah bergeser lalu menyodorkan tangannya pada Raisya. Raisya yang sudah pucat, hanya menyimpan kedua tangannya di depan dadanya dengan bergetar.
__ADS_1
"Kamu lelah sayang?" Jacky melihat perubahan Raisya yang drastis begitu melihat dokter Ferdi langsung memeluk bahunya. Berkata cemas.
"Selamat." Ucapan yang terlalu pendek diucapkan dokter Ferdi pada pasangan pengantin yang sedang berdiri di depannya.
"Iya terimakasih." Ucap Jacky tidak menaruh curiga sedikitpun pada dokter Ferdi.
Dokter Ferdi turun dari altar lalu membawa minuman yang sudah disediakan tuan rumah. Dia menenggaknya tanpa jeda. Meski minuman itu bukan minuman beralkohol tapi rasanya akan sedikit tidak enak di tenggorokan jika cara minumnya seperti itu. Bukan tidak tahu cara, tapi dokter Ferdi benar-benar sedang kesal dan cemburu.
...Sial... kenapa dia mesti menikah. Padahal aku akan bertanggungjawab sama perbuatan aku. Dasar lacur... tidak berguna....
Dokter Ferdi benar-benar marah, karena Raisya menikah dengan Jacky. Setelah perenungannya kemarin dia kembali ke Jakarta untuk menemui Raisya, tapi alhasil sebuah undanganlah yang mendahului dirinya.
"Aku tahu, kamu mencintai aku Raisya. Kenapa. harus pura-pura mencintai orang lain? Apa kekurangan aku? Bahkan kamu adalah yang pertama bagiku Raisya. Ahh.. " Dokter Ferdi sedikit mengeluh. Dia ternyata tidak bisa melupakan malam panasnya bersama Raisya waktu itu. Itu adalah pengalaman pertama bagi dokter Ferdi menyentuh wanita. Tentu saja sangat berkesan mendalam sehingga tubuhnya sekarang selalu ketagihan dan merindukan sosok Raisya di sampingnya.
Sekarang melihat Raisya menjadi milik Jacky, tentu hatinya tidak menerima begitu saja. Dia tidak rela jika seorang laki-laki menyentuh tubuh Raisya. Sampai kapan pun dia tak akan melupakan kenangan itu dalam memorinya.
Dokter Ferdi menatap Raisya tanpa henti sampai sepasang pengantin itu turun dari altar keluar gedung mendahului para tamunya.
Jacky dengan setia menggandeng Raisya sampai kamar hotel mewah yang sudah disewa khusus untuk sepasang pengantin.
Tak Tanggung-tanggung, satu lantai kamar mewah luxury telah disewa khusus oleh tuan Robert untik Jacky dan Raisya dengan pengawalan ketat juga fasilitas mewah.
"Kamu istirahatlah sayang. Mungkin kamu kelelahan!" Ucap Jacky mendudukkan Raisya di kasur king size yang sudah di dekorasi seindah mungkin khusus untuk pengantin.
Taburan kelopak mawar merah berbentuk hati juga lilin yang menghias seluruh ruangan itu menambah kesan romantis.
"Terima kasih." Ucap Raisya lirih. Badannya agak sedikit baikan setelah dibawa jauh dari altar tadi
Ada ketakutan yang disembunyikan Raisya dari Jacky. Yaitu dia sangat ketakutan ketika melihat dokter Ferdi mendekatinya. Trauma itu tiba-tiba mengelebat dalam pandangannya, bagaimana dokter Ferdi mencumbu paksa waktu itu. Padahal sebelumnya Raisya sangat menikmati ciuman dokter Ferdi sebelum kejadian bapaknya memberitahu identitas dokter Ferdi.
__ADS_1
"Mau aku bantu membuka gaunnya sayang?' Ucap Jacky lembut.
"Gak pa-pa. Aku bisa sendiri. Raisya membuka kerudung yang berhiaskan batu-batu di kepalanya. Raisya merasa malu harus berdekatan se intim ini dengan Jacky dengan perasaan yang berbeda.
Lain halnya dulu, dia sempat dekat dengan Jacky dalam statusnya sama-sama menyukai dalam diam.
"Jangn sungkan begitu sayang... kita kan sudah sah jadi suami istri. Aku bantu buka ya?" Jacky terdengar parau menahan hasratnya yang bergejolak. Meski Raisya masih dibungkus pakaian tertutup, entahlah hasratnya naik ke ubun-ubun minta disalurkan. Kalau bukan karena janjinya, mungkin malam ini Jacky tak sabar ingin membelah juren alias janda keren.
"Baiklah tolong bukakan jarum-jarum yang menempel di kerudung aku." Setelah berusaha ingin membuka sendiri ternyata Raisya kesusahan.
"Baiklah sayang.. tapi.. tidak gratis." Jacky tersenyum mesum. Dia sedang mencari cara untuk menyentuh Raisya dengan aman.
Raisya mengerutkan dahinya.
"Satu jarum satu kecupan. Bagaimana?" Jacky menatap Raisya penuh harap.
"Ishh... " Raisya antara malu-malu mendesis.
"Bolehkan?" Jacky siap-siap mengecup Raisya.
"Terserah kamu lah!" Raisya pasrah saja. Karena mau tidak mau dia harus mau. Karena sekarang status Jacky sebagai suami dan dia istri. Suami berhak atas semua yang ada dalam tubuhnya.
"Ma kasih sayang... " Jacky langsung memiringkan wajahnya dan men***bibir Raisya yang masih lengkap dengan lipstiknya. Dia ingin mencoba rasa istri bermake-up.
Aih.. aku kita mau mencabut jarum dulu
Raisya membuka matanya merasakan sentuhan Jacky yang sedang menikmati bibirnya dengan penuh hasrat.
Wah ini sih bukan kecupan...
__ADS_1
Jacky malah terlena. Dia terus saja menjelajahi bibir istrinya yang sudah lama dia damba sejak dahulu dia mengenalinya. Rasanya luar biasa. Sekian tahun berpuasa ternyata tak sia-sia, akhirnya dia bisa mendarat dengan sejuta nikmat. Berbeda rasanya kalau sudah menikah, nikmat....