Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Kesan pertama


__ADS_3

Setiap orang mempunyai cerita kehidupan berbeda-beda begitu pun yang dialami Ratna.


Ratna yang memiliki wajah yang cantik, badan yang proporsional juga mempunyai kepintaran di atas rata-rata tak ada yang tahu di balik kesempurnaan nya itu menyimpan sebuah trauma.


Sejak SMP sampai Sma Ratna sering berpindah-pindah sekolah karena Ratna mudah stress jika sedikit saja diuji teman-temanya. Ratna mudah tertekan. Semua itu karena dia pernah mengalami bully di waktu kecil. Dan trauma itu membekas sampai dia dewasa.


Begitu dia kuliah di Bandung dan bertemu Raisya, dirinya seolah merasa nyaman menemukan orang yang selalu menjadi pahlawannya. Kemana pun Raisya pergi dia selalu menempel pada Raisya.


Seperti sekarang, dimana Raisya bekerja disitu juga Ratna ikut bekerja. Dia seolah ketergantungan pada Raisya karena trauma masa lalunya.


Sejak pagi ini Ratna sudah merasa tidak enak. Pengumuman pergantian atasannya membuat dirinya tak bisa tidur tenang. Bahkan semenjak kemarin Ratna sudah sibuk memikirkan bagaimana sifat bos nya yang sekarang? Dan bla bla..Pikiran-pikiran negatif kini sedang menyelimuti Ratna.


Pagi ini Ratna sudah mengabari Raisya, bahwa dia akan menjemputnya lebih pagi. Agar ada kesempatan untuk menyiapkan performanya sebelum bertemu bos barunya. Pikiran Ratna yang terlalu tegang berlebihan membuat dia sulit konsentrasi.


Dan benar saja pagi ini Ratna dikejutkan dengan sebuah insiden keteledoran.Ratna telah menabrak sebuah mobil sedan hitam mewah di depannya karena telat menginjak rem.


Ratna terkulai lemas. Bahkan jantungnya seolah melemah tak bisa memompa darah dengan baik ke seluruh tubuhnya. Dia hanya menunduk dalam mobil tanpa tahu harus bagaimana menyelesaikan permasalahannya.


Untung pagi ini Raisya bisa mengambil alih semua hukumannya. Tapi jantung Ratna tak begitu saja lolos dari kekagetan. Begitu sosok laki-laki tampan blasteran yang tadi pagi dilihatnya kini masuk ke ruangannya dibarengi Reza.


Dan eng ing eng...dia ternyata bos barunya.


Keringat dingin seolah berlomba lari keluar dari pori-pori nya begitu giliran Ratna memperkenalkan diri. Bibirnya bergetar dan matanya tak berani menatap pada laki-laki di depannya yang mempunyai sorot mata yang tajam seperti panah yang siap meluncur.


Benar saja, Nathan yang tak suka dengan Ratna yang gerogi langsung mengeluarkan ultimatum pertama pada stafnya.


"Eh.. kamu kenapa?" Suaranya yang terdengar kharismatik seolah mematikan aura sekelilingnya.


Dan Ratna secara replek merasa bersalah karena kejadian tadi pagi langsung duduk berlutut.


"Ampunn pak! Saya bersalah!"


Semua orang yang ada dalam ruangan itu menatap Ratna merasakan keanehan, dengan apa yang dilakukan Ratna.


Caper


Seseorang dari rekan kerjanya menilai perbuatan Ratna adalah bentuk mencari perhatian bos


Nathan hanya mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti maksud diucapkan Ratna.

__ADS_1


Wajah Ratna kian memucat. Bibirnya bergetar begitu pula dengan tangannya.


Nathan yang melihat perubahan dalam diri Ratna seakan tahu isi pikirannya Ratna. Dia melangkah mendekati Ratna perlahan dengan tatapan yang tak lepas mengamati wajahnya.


Tatapan itu diartikan Ratna seolah menghunuskan pedang ke jantung Ratna.


Langkah Nathan seolah sedang dihitung Ratna sebagai menit-menit dia bernafas. Ratna semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Itu semua membuat pikiran Ratna sedang diobrak-abrik.


Brukk


Ratna terkulai lemas dan pingsan. Semua orang dalam ruangan itu bukan lagi aneh malah kaget.


Ada apa dengan Ratna?


Sepertinya kalau hati bersuara. Kalimat ini sedang kompak disuarakan.


Nathan dan Reza segera menghampiri Ratna yang pingsan.


Nathan memeriksa hidung Ratna juga nadinya dengan telunjuk jarinya.


"Dia lemah."


"Sebelah sini pak!" Reza mengarahkan Nathan ke sebuah ruangan tempat beristirahat bos sebelumya. Disana ada sebuah kasur juga kamar mandi yang khusus diperuntukkan untuk direktur pemasaran sebelumnya, pak Ericsson.


Nathan membaringkan Ratna di tempat tidur juga membuka sepatu high heels nya. Nathan menekan beberapa titik untuk membuat kesadaran Ratna kembali.


Beberapa saat kemudian Ratna mengerjapkan matanya. Dia mengedarkan pandangan. Dan dia terhenyak ada dua laki-laki sedang menatap ke arahnya.


"Kamu sudah sadar?" Nathan bicara dingin. Tapi pesonanya seperti magnet bagi yang melihatnya.


"Bawakan air!" Nathan memerintah Reza lalu berdiri meninggalkan Ratna di ruangan itu dengan tatapan mengandung sesuatu.


"Ini minumnya!" Reza menyodorkan segelas air putih ke tangan Ratna. Ratna mengambilnya dan meneguk air itu.


"Terimakasih!" Ratna berkata pelan.


Reza hanya mengangguk.


"Jika sudah baikan. Kembali ke ruangan!" Reza melangkahkan kakinya ke luar ruangan. Setelah acara perkenalan tadi akan ada pengarahan juga pembagian tugas oleh Nathan di hari pertama bekerja. Reza tak ingin berlama-lama karena tugasnya kini menanti.

__ADS_1


Setelah merasa siap. Ratna keluar dari dalam ruangan itu. Dia masuk perlahan-lahan tak ingin semua orang terganggu oleh kedatangannya yang terlambat. Lima orang sudah berkumpul di tempat biasa mengadakan rapat team. Nathan dengan ujung matanya melihat Ratna mendekati kursi. Melirik sebentar lalu kembali fokus pada kertas-kertas yang sedang dilaporkan stafnya.


Ratna duduk lalu dengan menunduk dia berusaha mendengarkan pembahasan. Dia dengan cepat bisa menyeimbangi keterlambatannya.


"Kamu sekarang ikut aku survei pasar!" Sebuah perintah mengarah pada Ratna.


"Ratna!" Irwan memanggil namanya karena melihat Ratna tak merespon Nathan.


"Eh.. iy ya. Saya pak?" Ratna mengangkat wajahnya lalu memastikan bahwa dirinya dipanggil.


"Saya tak mau bekerja dengan orang yang gak fokus." Nathan dengan tatapan yang tajam juga dingin bediri meninggalkan meja team. Reza melirik pada Ratna, menggerakkan matanya agar mengikuti Nathan.


"Kamu bawa mobil kantor kan?" Nathan memastikan Reza tentang kendaraan yang akan dibawanya.


"Ada pak!" Reza menjawab cepat.


"Aku ingin yang paling nyaman!" pinta Nathan yang biasa difasilitasi kendaraan mewah selama di Amerika.


"Baik pak!" Reza menelpon seseorang untuk menyiapkan mobil.


"Sekalian kita makan di luar. Kamu siapkan tempat!"


"Baik pak!" Jawab Reza. Pengalaman sebagai asisten, Reza sudah terlebih dahulu mempelajari apa yang disukai bosnya dan apa yang tidak disukai bosnya. Begitu juga dengan karakter dan sifatnya. Jadi Reza dengan cekatan langsung siap ketika Nathan memerintah.


Ratna mengikuti Langkah Reza dan Nathan ke sebuah mobil yang sudah disiapkan Perusahaan. Mobil yang tak kalah mewahnya dengan Jaguar Mer-c keluaran terbaru yang biasa dipakai para eksekutif dan pemilik perusahaan.


Ratna yang duduk di samping Nathan diam mematung tak berani berbicara sebelum bosnya mengajaknya bicara.


Nathan hanya menatap layar i-pad nya sedang mempelajari serius semua bahan dan materi yang akan dikembangkan di perusahaan Indonesia.


Lalu setelah selesai, Nathan melirik sebentar pada Ratna.


"Kamu kena mental?"


"Iya pak?" Ratna menoleh pada Nathan.


Keduanya saling memandang.


Deg

__ADS_1


__ADS_2