
"Baiklah.. kak Nuri boleh panggil mama aku dengan mama. Mama aku baik kan?" Arsel sedikit mencondongkan kepalanya melihat Nuri.
"Iya.. mama kamu baik banget. Sampai aku di donor darah sama mama kamu?" Nuri memberitahu Arsel bahwa ibunya pernah mendonorkan darahnya.
"Sebaiknya kamu jaga jarak! Raisya hanya boleh dipanggil mama oleh anaknya bukan oleh anakmu! Hubungan kamu dan Raisya hanya sebatas atasan dan pegawai jangan sampai Raisya berkorban banyak dan diperalat!" Jacky yang mendengar Raisya telah mendonorkan darahnya tidak setuju kalau Raisya hanya diperalat oleh Baron. Dia harus memberi ketegasan pada laki-laki itu jangan sampai dia semena-mena memperlakukan Raisya. Apalagi yang hubungannya pribadi bukan pekerjaan.
"Saya mohon maaf. Atas kelancangan anak saya. Untuk masalah donor, saya... waktu itu benar-benar darurat. Ke depannya insyaallah saya tak mau merepotkan bu Raisya lagi." Baron merasa bersalah. Meski Nuri haus akan kasih sayang seorang ibu, memang tak seharusnya dia berlebihan pada Raisya. Begitupun dengan masalah donor, karena waktu itu dia benar-benar. sangat membutuhkan bukan karena memperalat nya. Sejak itu Baron selalu mengetik darah di Bank darah agar jika sewaktu-waktu Nuri membutuhkan dia bisa tertolong.
"Kalau bisa kasih tahu juga anakmu jangan sampai salah paham memanggil Raisya lagi dengan panggilan yang bukan seharusnya!" Jacky memberitahu Baron dengan nada setengah kesal.
"Sebaiknya kita makan dulu! Keburu dingin nih!" Anwar ingin menghentikan hawa panas yang sekarang berada di meja, padahal suhu udara di kawasan itu lumayan cukup dingin.
"Iya.. aku juga lapar nih! Ayo imel.. makanannya dimakan!" Kebetulan Imelda duduk di sebelah Michel. Michel berusaha mengakrabkan diri agar suasana tidak canggung.
"Iya nih kayanya ayam sama liwetnya enak." Ucap Anwar mengajak semuanya untuk fokus pada makanan.
Semua orang mulai menyantap pesanannya masing-masing.
Jacky tetap dengan tatapannya menatap tajam. pada Baron dan juga Raisya. Dia tak mau memberikan kesempatan bagi Baron juga Raisya untuk menjadi akrab. Yang ditatap pun merasa agak kikuk. Keduanya hanya fokus pada makanan dan tak berani mengangkat wajah. Bukan karena takut, tapi lebih ke menghormati orang yang sama-sama duduk di meja itu. Jangan sampai semua orang tidak nyaman atas sikap dan perbuatan mereka.
Baron berdiri dari kursinya sebelum yang lain selesai dengan makannya. Sejak awal dirinya hanya sekedar mencicipi makanan. Rasa makanan yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Bukan karena tidak enak, tapi lebih ke suasana yang tidak nyaman membuat mood makannya terganggu.
Krek
Baron menarik kursinya.
"Maaf saya.. permisi dulu mau ke depan!" Ucap Baron sambil membungkukkan badan untuk bersopan santun pada semua orang.
Dia berjalan melangkahkan kakinya menuju tempat pembayaran. Dia tidak mau dikatakan menjadi orang yang tidak tahu diri. Sengaja mendahului mereka untuk membayar semua pesanan.
__ADS_1
Baron pun membayar total semua pesanan pada kasir restoran tanpa mereka ketahui. Setelah beres membayar semua tagihan, Baron pergi ke sebuah supermarket kecil di dekat restoran. Dia membeli cemilan yang disukai anak-anak dan juga es krim yang tadi dijanjikannya pada Arsel. Semua dia lakukan agar anak-anak bisa senang juga mencoba mencairkan suasana yang tegang.
Sekarang dia tangannya penuh dengan belanjaan aneka cemilan juga es krim. Baron menentangnya kembali ke meja yang masih mereka duduki.
"Papa darimana?" Tanya Nuri ketika melihat ayahnya menenteng dua kresek di tangannya.
"Tadi papa beli rokok sambil beli cemilan." Jawab Baron pada Nuri. Dia duduk kembali di kursi yang tadi ditempatinya.
"Arsel makannya sudah selesai sayang?" Tanya Baron melihat Arsel yang sudah tidak lagi mengunyah makanan.
"Sudah om. Acel cudah celecai makannya." Jawabnya dengan gemas.
"Oke.. kalau sudah nih om belikan kalian es krim." Baron mengangkat kantong plastik yang tadi disimpan di pinggir kursi.
"Lebih baik simpan saja semua makanan itu untuk anak kalian. Aku masih mampu membelikannya sekaligus dengan pabriknya." Jacky menahan Baron agar tidak mengeluarkan makanan yang dibelinya. Ada rasa gengsi ketika Baron mendahului dirinya dalam membelikan aneka makanan untuk anak-anak.
"Iya aku tahu. Kamu sangat mampu. Tapi aku hanya ingin memberinya. Tanpa ada niat apapun." Jawab Baron tak ingin Jacky terus-terusan salah paham.
"Oh.. baik.. kalian boleh pilih sesuai selera.' Barin menaruh semua es krim yang dibelinya di atas meja.
"Aku pengen yang ini ya om." Michel membawa salah satu rasa yang disukainya.
"Oh boleh.. Ambil saja!" Baron sangat senang sekali melihat sikap Michel yang baik.
"Om.. aku juga mau." Arsel mengikuti kakaknya memilih salah satu es krim kesukaannya.
"Iya boleh sayang." Jawab Baron sambil tersenyum.
"Ayo Nuri Imel.. kok kalian diam aja?" Michel melihat Nuri dan Imel hanya terdiam.
__ADS_1
"Iya." Mereka pun mengambil satu rasa yang menjadi favorit mereka.
"Wah.. orang dewasa boleh tidak memilih?" Anwar ikut bersuara agar Baron bisa merasa nyaman diantara mereka.
"Boleh.. ini aku beli banyak. Silahkan diambil!" Baron menoleh pada Anwar.
"Oke.. paman juga mau seperti kalian." Jawab Anwar antusias.
Raisya dan Aisyah pun ikut mengambil es krim untuk menghargai pemberian Baron. Dia tahu laki-laki itu ingin menyenangkan semua orang dengan caranya.
Jacky mendelik melihat Raisya malah ikutan mengambil es krim yang disodorkan Baron. Kini semua orang sedang menikmati kelezatan es krim yang dibeli Baron, kecuali Jacky seorang.
"Wah.. paman juga suka es krim?" Tanya Michel untuk menghangatkan suasana.
"Iya dong.. paman juga ingin seperti kalian bisa menikmati es krim kesukaan kalian. Waktu kecil paman gak bisa beli es krim seperti kalian sekarang." Jawab Anwar sambil menjilati coklat dan susu yang menempel di bagian es krim yang meleleh.
"Kenapa paman?" Tanya Nuri penasaran.
"Ya.. paman sama ammah Aisyah kan hidup di panti sejak kecil. Mana punya uang untuk membeli ea krim. Paman baru merasakan enaknya es krim ketika sudah bekerja. Makanya paman tidak mau ketinggalan sekarang makan es krim seperti kalian." Jawab Anwar menerangkan keadaannya. sewaktu masih kecil hidup di panti asuhan.
"Wah.. kasihan paman sama temen-temennya." Arsel mengerutkan dahi memikirkan apa yang barusan didengar nya dari Anwar.
"Iya.. paman mana pernah makan enak seperti kalian. Paman bersama teman-teman makan seadanya saja. Apa yang diberi ya paman syukuri. Kalian pun harus begitu. Kalian masih beruntung bisa menikmati makanan enak. Kalau anak panti mana bisa seperti kalian." Jawab Anwar memberikan penerangan bagaimana kondisi anak panti asuhan.
"Ma.. Acel mau beli ec klim yang banyakkk.. sama makanan enak yang banyakkk.. buat anak-anak panti ma." Anak itu tiba-tiba terbersit ingin membelikan mereka makanan yang seperti dimakannya sekarang.
"Boleh sayang.. nanti kalau liburan kita pergi ke sana ya!" Jawab Raisya merasa bangga putranya mempunyai rasa empati yang tinggi.
"Pa.. Nuri juga mau... kita nanti beli baju dan mainan buat mereka." Rengek Nuri tak mau ketinggalan.
__ADS_1
"Boleh sayang.. nanti kita sama-sama pergi ke sana.. kalau ka Imel libur sekolah ya." Jawab Baron mengiyakan.