Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sebuah rasa


__ADS_3

Jason hanya menahan diri untuk tidak bicara lagi. Rasanya ada rasa sakit ketika kenyataan berbicara. Siapalah dia kalau dibandingkan dengan Baron. Bukan tak mau bersaing, tapi selama ini Jason lebih memilih untuk menjadi sederhana dan memilih perempuan yang benar-benar mencintainya apa adanya bukan karena ada apa.


Jason menghentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan mes.


"Apa sudah sampai?" Raisya berusaha mencairkan suasana dengan bertanya. Aneh rasanya yang tadinya Jason ramah tiba-tiba seperti yang sakit gigi saja, diam seribu bahasa.


"Mmm." Jason menjawab dengan mulut terkunci. Dia segera membuka pintu bagian kemudi, sedangkan Raisya masih membuka sabuk pengaman yang agak terasa macet.


Jason membuka pintu sebelah kiri dimana Raisya duduk. Dia melihat Raisya masih kesusahan membuka sabuk. Tanpa menunggu Jason pun bergerak mendekati sabuk itu dan ikut membantu membuka.


"Maaf jadi merepotkan." Ucap Raisya agak malu karena lambat membuka sabuk pengaman.


Jason hanya terdiam. Sikapnya kembali pada semula. Dingin dan tak banyak bicara. Itulah sifat asli Jason sehari-hari nya.


Setelah sabuk terbuka, Raisya hendak turun dari mobil Jeep yang dudukannya lumayan tinggi membuat Raisya agak ragu untuk turun tidak seperti waktu naik.


Mobil Jeep yang biasa dikendarai perusahaan Baron memang dibuat seperti mobil gunung karena trek perjalanan menuju perusahaan lumayan berliku-liku, terjal dan bebatuannya masih tajam. Namanya juga perusahaan tambang, selain jalannya yang memang penuh debu, kendaraan berat sering bolak-balik sehingga jalanan mudah sekali rusak.


Jason yang melihat Raisya masih terdiam langsung bisa membaca kecemasan perempuan itu. Tanpa ragu dia langsung memegang pinggang Raisya yang ramping dan langsung mengangkatnya tanpa izin membuat Raisya kaget.


"Ahhh.. " Suara itu membuat perhatian semua orang yang ada di sana mengarah pada Jason juga Raisya.


"Maaf." Ucap Jason datar.


Raisya masih terdiam memaku setelah badannya seperti melayang barusan. Dia tak menyangka laki-laki itu berani menyentuhnya tanpa izin.


Jason tanpa merasa bersalah langsung berjalan ke belakang membuka pintu Jeep dan menurunkan semua barang yang ada di belakang jok.


Ramos dan kedua bawahannya segera menghampiri Jason.


"Biar kami yang bawa pak!" Salah satu anak buahnya bicara.


"Hhmm." Jawab Jason tanpa membuka mulut.


"Ada dengan bu Raisya?" Ramos berbisik pelan di pinggir Jason.


Jason melihat ke arah Ramos lalu menatap ke arah Raisya yang kini sudah ditemani Baron.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kau lihat?" Ketus Jason pada Ramos.


"Ih.. dasar es batu! Ditanya baik-baik malah menyebalkan." Gumam Ramos yang masih terdengar oleh Jason.


Jason hanya melirik sebentar pada Ramos lalu dia berjalan menuju mes tanpa mengindahkan orang-orang yang berada di belakangnya.


Jason mengeluarkan benda pipih persegi empat miliknya dan menghubungi seseorang.


"Bi Riri, kamu dimana?" Tanya Jason sambil mempercepat langkahnya. Entah kenapa dia begitu terburu-buru.


Baron dan beberapa orang masih berjalan di belakang Jason menuju mes.


"Maaf tuan Jason.. saya masih membersihkan kamar tuan. Dan saya belum berani mengeluarkan baju-baju tuan." Ucap perempuan paruh baya yang berada di seberang telepon.


"Gak apa-apa sekarang saya sudah sampai kok di mes. Sekarang saya menuju ke kamar saya bi." Ucap Jason pada bi Riri yang biasa membersihkan mes para staff termasuk kamar Jason.


"Ada apa dengan Jason?" Tanya Baron pad Ramos.


Ramos hanya menggidikkan bahunya, tanda dia pun tidak tahu menahu dengan sikap Jason yang terlihat terburu-buru.


"Apa dia sudah menyiapkan mes untuk bu Raisya?" Tanya Baron pada Ramos.


"Ohh." Jawab Baron ber oh ria.


"Memangnya disini tidak ada pekerja perempuan?" Heran Raisya mendengarkan pembicaraan antara Ramos dan Baron.


"Ada. Tapi semuanya penduduk sini. Kita sengaja untuk tidak menyediakan mes perempuan." Ucap Ramos menjawab pertanyaan Raisya.


"Jadi semuanya disini laki-laki?" Wajah Raisya terlihat kaget, ternyata hanya dia sendirian perempuan yang ada di mes.


"Iya bu. Tapi jangan khawatir! Aman kok!" Jawab Ramos sambil menautkan jempol dan telunjuknya sebagai isyarat.


Hah.. Raisya mengeluarkan nafas panjang. Bagaimana ceritanya dia harus diam di mes yang semuanya laki-laki. Apa hal itu tidak akan jadi buah bibir dan pusat perhatian? Itu yang kini yang ada dipikiran Raisya.


"Kenapa kamu takut?" Tanya Baron yang membaca raut wajah Raisya yang terlihat cemas.


"Mmm.. gak sih. Cuman agak tidak tenang saja dikelilingi laki-laki." Jawab Raisya mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


"Ramos, coba tengok sama kamu, apa kamar bu Raisya jauh dari kamarku tidak?" Baron menyuruh Ramos agar menyusul Jason.


"Baik pak." Ramos pun menyusul Jason dan menyampaikan pesan Baron pada Jason.


Jason yang baru sampai di kamarnya melihat Ramos menyusul dirinya agak mengernyitkan dahi.


"Hah.. " Suara Ramos agak tersenggal nafasnya terdengar berat karena Ramos setengah berlari pergi menyusul Jason.


"Ada apa?" Tanya Jason pada Ramos.


"Pak Baron menyuruh kita menyiapkan kamar bu Raisya yang kamarnya berdekatan dengan kamar pak Baron." Ucap Ramos menyampaikan pesan Baron.


"Apa?" Jason agak kaget.


"Kenapa kaya kaget gitu?" Tanya Ramos menatap Jason.


"Pak Baron kan duda sudah lama, dan bu Raisya pun janda. Mereka pastinya butuh kehangatan." Bisik Ramos pada Jason yang diikuti dengan sorot mata tajam yang dilayangkan Jason pad Ramos.


"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Ramos dengan wajah tanpa dosanya.


"Ya sudah.. bereskan juga baju-baju kamu! Jangan sampai pak Baron mengendus bekas percintaan kamu." Ucap Jason mengingatkan Ramos yang suka memanggil wanita panggilan ke kamarnya.


"Ish.. kenapa tidak kamar pak Jason saja?" Tanya Ramos masih belum mengerti.


"Kamarku akan dipakai bu Raisya dan kamar kamu akan dipakai pak Baron. Jadi kita pindah ke kamar tamu." Jason menaikkan suaranya pada Ramos.


"Lah.. gak bisa! Di sana kan ada CCTV, masa iya.. " Ramos menggantung bicaranya.


"Ya.. kamu puasa! Saatnya kamu berhenti atau pak Baron akan mengetahui semua kelakuan kamu." Ancam Jason pada Ramos.


"Yah.. mati gue!" Ramos menepuk jidatnya. Hiburan kesukaannya kini harus berhenti sejenak karena kedatangan bos besarnya. Kamar yang selama ini ditempatinya memang sengaja tak dipasang CCTV agar Ramos bisa bebas memasukkan wanita panggilan.


"Tidak akan mati. Cuman semedi dulu!" Ucap Jason menyindir Ramos yang terlihat stress.


"Lah.. bos sih.. kenapa juga harus bawa cewek kesini?" Ramos melayangkan protes.


"Jangan kawin melulu makanya! Nikah makanya!" Jason memberi saran pada Ramos.

__ADS_1


"Lah.. mending saya ketimbang pak Jason yang puasa melulu kaya yang impoten aja!" Ramos malah menggerutu.


"Apa kamu bilang?" Jason melotot menyadari selama ini memang dia masih perjaka dan tidak pernah menguji benda sakti miliknya.


__ADS_2