Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Merindui.


__ADS_3

Pagi itu anak-anak merengek ingin jalan-jalan. Seperti biasa mereka akan menuju lembang mencari tempat yang cocok untuk bermain anak-anak. Ratna dan keluarga Raisya berangkat untuk menikmati liburan di wisata kota Lembang.


Raisya dan Ratna bisa bernafas lega. Kesibukan anak-anak bisa teratasi karena adik-adiknya Raisya begitu antusias mengasuh tiga bocil yang lucu-lucu. Mulai dari memandikan, memakaikan baju sampai menyuapi mereka. Ketiga bocil pun senang karena mereka benar-benar dimanjakan oleh keluarga Raisya.


"Ah... lega. Mahmud bisa healing kalau datang ke Bandung. Babysitter nya banyak eung.. " Ratna menyeruput kelapa muda sambil melihat anak-anak naik kuda diawasi oleh ketiga adiknya Raisya.


"Kita bisa pacaran lagi ya beb." Irwan menimpali sambil mengunyah kripik tempe khas Bandung.


"Ah.. suka ambil kesempatan. Mahmud lagi pengen me time." Ucap Raisya menolak suaminya.


"Gak pa-pa. Mengambil kesempatan kepingin yang kesempitan." Irwan langsung memeluk mesra Ratna.


"Ih mesum.." Pipi Ratna merah menahan malu.


"Eh.. Raisya mana beb?" Irwan tak melihat Raisya bersama. Ratna.


"Dia sedang menelepon tuan Robert. Tuh di lantai atas. Biar tidak terlalu berisik." Ucap Ratna sambil menatap suaminya.


"Mmm.. gimana dia jadi rujuk beb?" Irwan ikut mengkhawatirkan Raisya. Selama hampir empat tahun lebih Irwan ikut merawat Raisya dan juga Arsel. Jadi baginya Raisya sudah menjadi bagian dari keluarganya.


"Kita doakan aja sih mas. Kasihan juga melihat mereka yang pada berpisah gitu." Ratna menghela nafas seolah ikut merasakan beban Raisya.


"Iya. Semoga Nathan bisa lebih baik. Kasihan Raisya sama anak-anak kalau dia tidak berubah juga." Irwan menimpali ucapan istrinya lalu mengecup kepala Ratna dengan lembut.


Dia lain tempat Raisya sedang menelepon tuan Robert.


"Assalamualaikum pih." Ucap Raisya dengan perasaan berdebar-debar.


"Waalaikumsalam Raisya." Tuan Robert menjawab salam.


"Mmm... pih. Tadi Raisya sudah bicara sama orang tua Raisya." Raisya diam sejenak mengambil nafas untuk menenangkan hatinya agar bisa bicara tenang.


"Iya bagaimana Raisya? Apakah orang tua kamu setuju?" Tuan Robert sepertinya tidak sabar mendengar kabar tentang lamarannya.

__ADS_1


"Orang tua Raisya setuju pih. Tapi.. " Raisya diam sejenak. Dia segan untuk mengutarakan persyaratan orang tuanya jika Raisya jadi rujuk.


"Tapi apa Raisya?" Tuan Robert sejenak keningnya berkerut memikirkan kelanjutan maksud Raisya.


"Kalau nanti Raisya rujuk, Raisya mesti tinggal. di rumah bersama mamah. Orangtua Raisya masih khawatir jika Raisya di lepas sendiri dengan mas Nathan." Ucap Raisya akhirnya dengan terus terang mengungkapkan persyaratan orangtua Raisya.


"Oh.. iya. Buat papih tidak masalah. Selama kamu nyaman dan Nathan bisa. Ada baiknya begitu agar orang tua kamu tenang. Papih setuju aja. Kalau mau nanti papih belikan rumah yang besar agar kalian bisa tinggal bersama." Dengan kekayaannya tuan Robert mudah sekali untuk membelikan satu rumah untuk Raisya. Itu tidak akan menghabiskan kekayaannya.


'Iya pih terima kasih." Ucap Raisya lirih. Ternyat mertuanya tidak keberatan dengan syarat yang diminta oleh orangtuanya. Itu dibuat agar Raisya gampang diawasi. Takutnya Nathan berbuat kasar lagi pada Raisya.


"Mana cucu papih Raisya? Papih kepingin lihat!" Tuan Robert sangat merindui cucunya.


"Mmm.. Arsel sedang berkuda pih." Mata Raisya mengedar mencari keberadaan Arsel yang sedang diasuh oleh adiknya.


"Papih minta tolong Sya.. papih beneran pengen lihat cucu papih." Tuan Robert betul-betul hatinya sedang rindu melihat Arsel.


"Iya pih. Sebentar Raisya cari dulu." Raisya turun ke bawah lalu mencari Arsel yang sedang berkeliling naik kuda dipandu oleh tukang kuda dan adiknya setia ikut menjaga berkeliling.


"Itu pih." Raisya menunjukkan keberadaan Arsel. Kebetulan kuda yang ditumpangi Arsel sedang mendekat ke arah Raisya.


"Sebentar.. Arsel.. nih ada oppa mau bicara sama Arsel." Raisya mendekat layar handphone pada Arsel.


"Ayo sapa oppa-nya!" Raisya menyuruh Arsel yang sedang duduk di atas kuda untuk menyapa tuan Robert.


"Halo oppa." Arsel menurut saja tanpa tahu siapa yang diajak bicara olehnya.


"Halo sayang.. jagoan oppa." Tuan Robert begitu senang melihat Arsel di layar handphonenya.


Michel dan Nathan menatap ke arah tuan Robert yang terlihat berseri-seri karena saking senangnya.


"Opa.. aku ingin bicara sama Arsel!" Michel mendekati tuan Robert. Dalam hati kecil Michel, dia juga kangen melihat adiknya juga Raisya.


"Eh.. oppa lupa. Ayo kita lihat bersama-sama ya!" Tuan Robert mengambil meja untuk makan pasien dan menaruh handphone di atas meja sambil ditahan oleh benda lain agar posisi handphonenya bisa tertahan.

__ADS_1


Ketiga orang itu antusias melakukan video call bersama Arsel.


"Eh.. kak Micel... aku naik lho sama kak lili dan lala." Celoteh Arsel agak cadel. Dia senang begitu Michel muncul di layar handphone.


"Wah.. kakak kenapa gak diajak?" Michel pura-pura merajuk.


"Kaka cini.. lame naik kuda!" Arsel mengajak Michel untuk datang.


"Kakak lagi nunggu daddy.. kakak gak bisa!" Nathan tersenyum melihat keakraban adik kakak itu. Hatinya begitu senang melihat kemunculan Arsel di layar handphone.


"Oh.. daddy cakit? napa belum cembuh?" Arsel menggaruk kepalanya bingung. Karena belum akrab dengan Nathan juga dengan tuan Robert.


"Ayo doakan daddy nya biar cepet sembuh!" Tuan Robert memberi saran agar Arsel ikut mendoakan Nathan cepat sembuh.


"Iya.. Acel doakan daddy cembuh. Aamiin." Anak itu dengan lucunya menengadahkan tangannya lalu mengucapkan aamiin sambil mengusap. wajahnya.


"Arsel kangen sama opa?" Tuan Robert masih betah bicara sama cucunya.


"Acel.. kangen... cama kakak Micel.. " Jawaban Arsel tidak sesuai dengan petanyay. Dia hanya berkata jujur apa adanya. Mungkin keakraban dengan Michel selama di rumah sakit membuat anak itu merasa kehilangan.


"Waduh.. kok oppa gak. dikangenin?" Tuan Robert agak cemberut, pura-pura merajuk.


"Maaf pih.. Arsel tidak bermaksud begitu!" Raisya langsung memberikan alasan.


"Gak pa-pa, papih mengerti. Makanya papih ingin segera menyusul ke sana agar bisa dekat dengan cuci papih." Ucapnya terlihat sudah tidak sabar.


"Iya pih. Apa. kabar maa Nathan?" Raisya melihat Nathan.


Nathan mengangguk sambil bicara "Baik" dibelakang alat yang masih menutupi area mulut dan hidungnya. Suasana hati Nathan sekarang lebih baik. Apalagi mendapatkan video call dari Raisya dan Arsel.


"Baiklah. Papih besok akan berangkat ke Bandung Sya, mau menemui orang tua kamu." Ucap tuan Robert sambil tersenyum bahagia.


"Iya pih." Jawab Raisya.

__ADS_1


"Oppa mau ke Bandung? Mau ngapain?" Michel agak terkejut mendengar ucapan tuan Robert.


__ADS_2