Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Pembatalan perjanjian


__ADS_3

Raisya masuk kamar dengan menahan air mata.


"Teganya kamu... menuduh aku tidur sama laki-laki lain. Hiks hiks... " Raisya duduk meluruh di belakang pintu menahan sakit hati menerima tuduhan Nathan. Padahal sedari siang dia sudah menahan rasa sakit hatinya atas perbuatannya mengundang wanita bayaran alias pelacur ke rumahnya. Sekarang malah pulang-pulang malah menuduhnya berbuat zina. Sungguh tak punya hati.


"Rasa sakit yang diberikan Nathan tak kunjung berhenti sampai sekarang. Sikapnya selalu saja begitu. Bagaimana kalau dia tahu siapa aku yang sebenarnya? Akankah dia bersikap sama seperti itu padaku?"


"Padahal kalau dihitung semenjak bertemu dengan Nathan sudah berapa kali dia menyakiti dirinya. Entah itu pisik atau psikis. Apa itu tidak cukup? Apakah aku pantas mendapatkan perlakuan seperti itu? Lalu apa haknya berbuat seperti itu?" Kalau ingat rasa sakit yang ditanamkan Nathan, rasanya Raisya ingin sekali mengambil pisau tajam menusuknya berkali-kali untuk membalaskan perbuatan dirinya di masa lalu juga sekarang.


"Kenapa dia seperti itu? Bukankah dia sendiri yang melakukannya dengan terang-terangan? Apa yang dirasakannya ketika melakukan itu padaku? Apa karena perjanjian itu?"


Namun lagi-lagi Raisya hanya bisa berbicara dalam hatinya sambil berderai air mata.


Nathan yang masih berdiri mendengar tangisan sedih Raisya di balik pintu.


"Sial... " Dia mendengus kesal mengusap wajahnya kasar.


Bisa-bisanya aku seperti itu.


"Ahhhh... " Nathan berteriak seperti orang stress. Dia duduk di sofa menghempaskan tubuhnya dan memejamkan mata.


Raisya mendengar teriakan Nathan jadi terkejut.


Ya Allah... kenapa bisa rumit begini? Mau baik saja cobaannya berat.


Raisya mengusap menyeka wajahnya dari lelehan air mata.


"Kamu harus kuat Raisya! Ayoo tunjukan dirimu bisa! Kamu harus mencobanya lagi!" Raisya menyemangati dirinya sendiri meski hatinya masih sakit.


Raisya sudah kembali pada Raisya yang dulu. Dia kalau sedih jarang lama. Setelah menumpahkan kesedihannya dia biasanya cepat move on.


Raisya berdiri lalu membuka pintu. Dilihatnya Nathan sedang memejamkan mata. Raisya mendekati Nathan meski dia juga takut kalau Nathan akan bereaksi kasar.


Nathan masih tidak membuka mata, ternyata dia tidak mendengar suara pintu kamar terbuka.


"Mas Nathan mau aku buatkan minuman?" Raisya melembutkan suaranya agar Nathan tidak kaget.


Mendengar suara Raisya, Nathan langsung membuka mata dan menoleh ke arah Raisya. Dia melihat mata Raisya masih merah juga sembab. Tapi dia seperti berusaha tersenyum kembali menatapnya dengan penuh harap.

__ADS_1


Rasa kemanusiaannya masih normal. Tapi rasa gengsinya lah yang membuat dia tidak mau meminta maaf. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.


"Teh manis hangat." Nathan menjawab juga tawaran Raisya. Selain tak mau menolak kebaikan Raisya, perutnya yang baru saja dari luar perlu dihangatkan.


"Sebentar saya buatkan." Raisya kembali menata kembali hatinya seolah tidak terjadi apa-apa. Dia ingin merubah keadaan yang mulai membosankan, yaitu selalu bersiteru dengan Nathan.


Raisya berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk Nathan.


"Alhamdulillah.. dia menjawab juga. Mudah-mudahan kalau aku berbuat lemah lembut dia bisa berubah" Ucap Raisya dalam hatinya.


"Setelah selesai membuatkan teh manis, dia membawa teh itu dengan camilan manis yang ada di lemari. Rasanya tidak lengkap jika teh manis disuguhkan tanpa temannya.


"Ini.. diminum mumpung masih hangat!" Raisya menyodorkan gelas berisi teh ke tangan Nathan dan menyimpan camilan di atas meja. Kedua telapak beda jenis saling bersentuhan. Nathan merasakan lembutnya sentuhan Raisya di tangannya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuh nya meregang menerima aliran-aliran listrik yang tak bisa ditolaknya.


Nathan menerima gelas itu dengan perasaan tak menentu, lalu meneguknya perlahan-lahan. Ada rasa kenikmatan yang menjalar ke dalam perutnya, nyaman dan hangat.


Tak terasa dia meminum teh itu sampai habis. Entah dia suka atau memang membutuhkannya untuk menghangatkan perutnya yang kedinginan.


"Mau nambah?" Raisya melihat gelas itu kosong. Dia senang Nathan menghabiskan teh buatannya tak bersisa. Dia menawarkannya untuk menambah.


Nathan menggelengkan kepala, tanda dia menolak.


"Mmm" Nathan cuman berdehem.


"Istirahat..! Saya mau kembali ke kamar." Ucap Raisya sambil berdiri mau meninggalkan Nathan yang masih duduk di sofa.


Greepp


Tangan Nathan menangkap tangan Raisya lalu menariknya kembali duduk di sofa.


Jantung Raisya berdetak dengan tempo agak cepat, karena kaget tangannya telah ditarik. Raisya pun duduk di samping Nathan sambil menatapnya serius. Menunggu reaksi Nathan selanjutnya.


Nathan menatapnya dingin dengan sorot mata yang tidak ramah.


"Siapa laki-laki yang berdansa di pesta itu?" Ternyata dia masih menyimpan rasa marahnya.


Raisya mengernyitkan dahi untuk menjawab pertanyaan Nathan.

__ADS_1


"Ohh.. dia. Dia Beny." Jawab Raisya.


"Apa hubungannya denganmu?" Selidik Nathan ingin tahu hubungan Raisya dengan laki-laki yang bernama Beny.


"Tak ada. Kami tak ada hubungan apapun." Jawab Raisya jujur.


"Hhh...Aku tak percaya." Ketus Nathan.


Raisya terdiam. Dia sedang berpikir bagaimana supaya Nathan percaya.


"Oke.. diantara aku sama dia tidak ada hubungan. Kami bertemu tidak sengaja di butik. Dia mendapatkan undangan karena kolega keluargamu kan?" Raisya menjelaskan tentang Beny.


"Kenapa kamu bisa seakrab itu kalau baru mengenalnya?" Nathan tidak langsung percaya atas apa yang dikatakan Raisya.


"Entahlah.. aku merasa nyaman. Lagian aku tidak menganali siapapun di pesta itu selain dia."


"Aku tidak salah jika aku berbuat seperti itu. Bukankah dalam perjanjian yang pernah kita buat bersama tertera kita tidak akan melakukan hubungan pisik? Kita tidak akan campur tangan dengan kehidupan pribadi kita masing-masing. Dan yang terakhir kita akan berpisah ketika kita sudah menemukan orang yang sama-sama kita sukai. Bukankah itu isi kesepakatan pernikahan kita?"


Nathan seperti baru menyadari isi kesepakatan itu padahal dia sendiri yang membuatnya.


"Apa kau menyukai pria itu? Dan berniat mengakhiri pernikahan ini?" Entahlah ada rasa sakit yang melanda hati Nathan harus melepaskan Raisya seandainya hal itu terjadi.


"Aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti. Aku berusaha untuk tidak melanggar perjanjian itu. Tapi kamu.. empttt" Raisya tidak melanjutkan bicaranya karena bibirnya tertutup karena Nathan menutupnya dengan telapak tangannya.


"Aku ingin membatalkan semua perjanjian itu. Aku ingin... kita mencobanya."


Kedua pasang netra beradu, saling membaca perasaan dan pikiran lawan bicaranya.


Badan Raisya terasa melayang seolah diangkat ke udara, manakala tangan kekar Nathan mengangkat tubuhnya.


Tubuh Raisya yang ringan memudahkan Nathan untuk menggendongnya ala bridal. Dia berjalan membawa tubuh Raisya ke lantai dua tepatnya ke kamarnya.


Karena takut jatuh Raisya mengalungkan erat kedua lengannya ke leher Nathan.


####################################


Nah ada novel bagus nih.. aku rekomendasikan buat teman-teman readers untuk mampir. Dijamin ketagihan

__ADS_1



__ADS_2