
Lampu ruangan terlihat padam. Tandanya operasi Raisya sudah selesai. Sepuluh menit kemudian pintu ruangan terbuka, muncul dokter dan beberapa petugas medis dari ruangan operasi.
Jacky dan Ratna berdiri mendekati dokter, kentara sekali mereka kelelahan.
"Maaf dokter.. saya keluarganya pasien. Bagaimana operasinya dok?" Jacky memaksakan diri bertanya, tidak sabar menunggu kabar keadaan Raisya.
"Alhamdulillah operasinya lancar. Pasiennya juga alhamdulillah tidak mengalami kendala. Kita besok bicara lagi ya! Sekarang kami mau istirahat dulu. Pasien juga sedang masa observasi di ruang ICU." Dokter itu memberitahu sebagian keadaan hasil operasinya.
"Alhamdulillah terimakasih dokter!" Ratna tersenyum senang mendengar berita itu.
"Iya sama-sama." Dokter berlalu meninggalkan. Jacky dan Ratna.
"Kamu sebaiknya istirahat Ratna! Ini baru jam 3. Kita cari hotel yang terdekat dari sini. Besok kita kembali untuk melihat keadaan Raisya." Jacky mengusulkan agar beristirahat di hotel saja.
"Baiklah. Kita ke hotel untuk istirahat. Besok kita kembali ke sini." Setuju Ratna.
###
"Pih udah tahu belum Michel ada di rumah sakit?" Adam mencoba mencari tahu apakah ayahnya sudah mengetahui belum bahwa cucunya, Michel. sedang dirawat di rumah sakit.
Tuan Robert hanya terdiam. Dia tak menjawab pertanyaan anak sulungnya.
"Kapan kamu sama Sarah punya anak? Kamu hampir menikah 3 tahun tapi masih juga berdua. Apa kalian program? Ayah gak mau kamu terlalu lemah pada Sarah. Kalau dia tak mau punya anak kenapa tidak kamu tinggalkan? Masih banyak perempuan yang mau sama kamu. Kurang apa kamu?"
Adam terdiam tak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini. Adam memang tergolong kalem tidak terlalu ambil pusing pada masalah rumah tangganya. Apalagi Sarah yang ingin karir menjadi dokter dan tidak mau punya anak lebih dulu. Dia sedang mengambil gelar spesialis yang menganggap hamil adalah suatu penghalang karirnya.
"Aku ke sana dulu pih! Menengok Michel. Walaupun dia adik tiri tetap saja kita bersaudara. Lagian Michel cucu papih juga kan?" Adam berdiri meninggalkan ruangan ayahnya berencana pergi ke rumah sakit menengok Michel.
Di lain tempat Ratna dan Jacky sudah berada di rumah sakit untuk mengetahui perkembangan Raisya. Masa observasi Raisya sudah selesai. Raisya sudah bisa dibawa ke ruangan perawatan.
"Maaf dok! Saya ingin bertanya penyebab Raisya sampai bisa terluka. Jacky menatap serius wajah dokter yang ada di depannya. Begitu pun Ratna yang sejak kemarin sudah penasaran.
__ADS_1
"Kami tidak bisa mengetahui penyebab kenapa pasien terluka, tapi secara pengamatan kami, pasien seperti terkena pukulan. Salah satu OB rumah sakit ini menemukan pasien di belakang rumah sakit sudah dalam keadaan pingsan. Dilihat dari luka lebam dan retak tulangnya sih seperti dipukuli. Dan akibat pukulan keras di bagian perut, lambung dan empedunya terluka. Kami terpaksa mengangkat empedunya khawatir keburu pecah."
"Untuk area sana tidak ada CCTV dok?"
"Sejak kejadian kemarin pihak rumah sakit sudah memasang beberapa CCTV tambahan." Jawab dokter memberikan informasi sekitar perkembangan rumah sakit.
"Apakah pasien bisa ditransfer ke Jakarta dok?" Jacky menanyakan Apakah Raisya bisa dialihkan perawatannya ke Jakarta agar memudahkan dia untuk diawasi.
"Sepertinya pasien belum bisa ditransfer. Karena belum kuat menerima goncangan. Di beberapa bagian ada retak tulang seperti bagian ini." Dokter memperlihatkan foto hasil x-Ray Raisya di layar.
"Sementara pasien harus bedrest selama 3 hari dulu untuk siap dipindahkan. Hasil operasi juga membutuhkan pemulihan. Khawatir ketika dibawa sekarang pasien belum kuat, malah memperlambat penyembuhannya." Saran Dokter pada Jacky.
"Baik dok!" Jacky memahami apa yang baru saja dibicarakan dokter.
"Kalian berniat melaporkan ke pihak kepolisian tidak? Kalau mau kami akan melakukan beberapa laporan. Jika ini tindakan kriminal yang mengarah ke rencana pembunuhan dipastikan pihak kepolisian harus segera turun tangan." Dokter yang menangani Raisya menerangkan apa yang harus dilakukan keluarga pasien.
Jacky dan Ratna saling memandang. Mereka tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk waktu sekarang.
"Baik. Kabari saja secepatnya agar bisa ditangani lebih cepat! Takutnya ada pelaku balas dendam yang masih ada di sekitar sini. Jadi nyawa pasien sewaktu-waktu bisa saja terancam." Terang dokter pada Jacky.
"Iya baik dokter, kami ucapan banyak terima kasih. atas bantuan dan dukungannya. Kalau begitu kami akan melihat ke ruangan dulu kalau sudah diizinkan." Jacky permisi sambil bersalaman dengan dokter yang menangani Raisya.
"Iya sama-sama." Dokter pun membalas menerima tangan Jacky juga Ratna untuk bersalaman.
Keduanya keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju ruangan perawatan Raisya.
"Assalamualaikum." Keduanya membuka pintu ruangan dengan perlahan. Lalu masuk, mendekati ranjang yang sedang ditempati Raisya.
Kedua pasang mata yang baru saja masuk, fokus melihat pada tubuh pasien yang sedang terbaring di sebuah ranjang dengan tatapan iba.
"Ya Allah... Raisya..? Ratna menutup mulutnya begitu melihat badan Raisya. Wajahnya sudah penuh dengan bengkak dan membiru. Raisya tidak dapat membuka mata dengan sempurna karena bengkak disekitar mata dan wajahnya begitu sakit ketika tertarik atau bergerak.
__ADS_1
Jacky terlihat mengusap wajahnya dengan kasar, kaget melihat keadaan wajah Raisya yang sudah tidak berbentuk.
Ratna menarik kursi lalu duduk di samping Raisya. Air mata Ratna tak kuasa ditahan buliran itu cepat mengalir di pipinya.
Jacky mengelus halus bahu Ratna.
"Sya... kamu kenapa sampai begini?" Ratna terisak sedih melihat kondisi sahabatnya seperti itu.
"Kamu kemarin gak apa-apa kan? Kok sekarang seperti ini Sya?" Ratna melihat Raisya dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Dia tak kuasa menahan sedih melihat keadaannya.
Mata Raisya nampak berkaca-kaca.
"Jangan menangia ayang!" Suaranya terbata-bata dengan pelan.
"Siapa yang melakukan ini semua Sya? Ayo bilang sama gue Sya!" Air mata Ratna kian deras mengalir.
Raisya hanya menatap sendu dengan mata yang sudah tidak sempurna bentuknya.
"Sudahlah Rat! Jangan menangis, kasian Raisya!" Jacky mengambil tisu lalu memberikannya pada Ratna. Jacky menyentuh ujung kelopak mata Raisya menyekanya untuk menahan buliran air tidak jatuh pada luka-lukanya.
"Kamu tunggu dulu disini ya Rat! Aku mau beli makan dulu." Jacky mencari alasan untuk memberi luang pada Raisya dan Ratna.
Ratna mengangguk sambil tetap saja menangis.
Jacky membuka layar handphone nya lalu mengirimkan beberapa pesan dan foto pada seseorang.
"Ini perbuatan kamu?"
"Apa perlu aku bilang sama papih?
"Biar kamu jadi gembel lagi atau memilih keluar dari ahli waris jika aku lapor sama mamih!"
__ADS_1
Seseorang telah menerima pesan itu. Dia terdiam.