
Jason mengantarkan es, handuk juga salep. Tapi dia tidak tahu kamar Raisya tepatnya yang mana. Dia hanya menyerahkan kunci tanpa melihat nomor kamar yang telah di bookingnya.
Karena khawatir salah ketuk Jason pun mengeluarkan benda pipinya untuk menghubungi bos besarnya. Dengan jantung yang berdetak agak kencang Jason menunggu di depan dua kamar. Sejak bertemu dengan Raisya, hatinya seperti dilanda badai. Dia tiba-tiba merasa kikuk juga nervous. Seperti sekarang. Meski ruangan hotel ber AC tapi tubuhnya berkeringat deras. Belum pernah dia senervous sekarang. Meski dia pernah berhubungan dengan perempuan, tapi begitu melihat sosok di masa lalunya, dia begitu kehilangan kepercayaan dirinya. Apalagi penampilan Raisya begitu berubah banyak. Selain cantik juga elegan.
"Ya halo." Baron memulai menyapa.
"Iya Pak... ini saya di depan kamar bapak ingin memberikan pesanan bapak." Suara Jason terdengar gerogi seperti sedang menghadapi guru penguji ketika ujian sekolah.
"Oh.. kenapa tidak sama pelayan saja?" Baron yang baru saja membersihkan badan heran kenapa harus Jason sendiri yang mengantarkan pesanannya.
"Mmm... saya merasa bersalah pak. Jadi biarkan saya menebus kesalahan saya." Ucap Jason membuat alasan. Padahal selain itu, ada rasa rindu besar yang selama bertahun-tahun dia pendam untuk sosok perempuan yang baru saja bertemu.
"Oh.. baiklah. Bu Raisya di kamar 102." Jawab Baron sambil mengeringkan rambutnya yang baru selesai dikeramas.
"Baik. Saya antarkan langsung ke kamar bu Raisya kalau begitu." Jason tak mungkin mengganggu bos besarnya hanya untuk mengantarkan pesan tadi.
"Eh.. tunggu! Tunggu aku selesai berpakaian. Biar aku temani." Hati Baron agak tidak enak ketika menyuruh Jason langsung memberikan pesan tadi ke kamar Raisya.
"Baik." Jason tak berani membantah.
Tak lama berselang pintu kamar hotel terbuka, Baron muncul dari balik pintu dengan wajah yang sudah segar.
Dia menghampiri Jason lalu mengambil benda pipinya.
"Halo, Raisya. Aku di depan pintu bersama Jason." Baron mengabari terlebih dahulu agar Raisya tidak terkejut.
__ADS_1
"Baik." Raisya segera membuka pintu dan melihat dia laki-laki yang sedang menatap penuh padanya.
"Ini bu Raisya.. Mmm handuk es dan salepnya." Jason menyodorkan sebuah wadah yang berisi es dan handuk juga sebuah salep.
"Oh.. ya." Raisya menerima wadah itu.
"Terimakasih." Raisya langsung menutup pintu tanpa memberi kesempatan pada keduanya untuk berbicara lagi apalagi mempersilahkan masuk.
Jason menoleh melihat Bara. Begitupun Baron melihat Jason sambil mengedipkan matanya yang masih tidak percaya dengan sikap Raisya yang begitu datar.
"Mmm.. dia memang begitu. Sebaiknya kita ke bawah saja!" Baron menetralisir keheranan Jason agar tidak banyak bertanya. Karena dirinya sudah siap untuk makan, terpaksa Baron mengajak Jason untuk turun ke restoran lebih dahulu. Mungkin itu lebih baik daripada keduanya bingung harus melakukan apa setelah melihat sikap Raisya. Hanya Baron saja yang mungkin tahu penyebab Raisya berbuat seperti itu. Karena menurut nya, Raisya terbilang perempuan kuat. Setelah menerima perbuatan tak senonoh dari Jacky dia bisa langsung bisa cepat mengalihkan perhatian nya pada pekerjaan. Kalau perempuan lain mungkin saat ini sedang meratap.
Jason pun tak banyak bertanya. Meski dia penasaran dan ingin membantu Raisya mengobati lukanya, tapi semuanya jadi gagal. Melihat respon Raisya dan juga bos besarnya Jason hanya mengikuti alur mengalir.
Sedangkan Raisya di dalam kamar mengompres keningnya dengan es batu sambil tiduran di atas sofa. Dan tak lama kemudian malah tertidur.
Sementara Baron dan bawahannya sudah duduk di restoran dan memesan menu untuk makan.
"Bu Raisya apa akan makan di kamar pak?" Tanya Jason. Dalam hati kecilnya dia berharap perempuan itu akan menyusul ke restoran.
"Kalau dia tidak turun, nanti pesankan saja pada pelayan agar diantar ke kamarnya." Jawab Baron.
"Baik pak." Jawab Jason patuh.
Selanjutnya mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal seputar pekerjaan dan permasalahannya sambil makan.
__ADS_1
*****
Di lain tempat Jacky terbaring lemah setelah dokter menyuntikkan obat penenang. Luka lebam bekas pukulan masih terlihat meski perawat sudah mengobatinya. Tuan Robert dan istri juga Sherly duduk di tepi ranjang yang masih terheran-heran dengan keadaan Jacky.
Setelah tadi mendengar penjelasan dari dokter dan juga Tedi tentang apa yang sudah terjadi tuan Robert masih duduk termangu dengan lamunannya. Dia tak bisa berbuat banyak untuk menolong Jacky selain menyerahkannya pada dokter. Dan mengenai masalah perasaan Jacky yang masih terpaut pada Raisya, tuan Robert tak bisa melakukan apapun. Semuanya diluar kemampuannya. Dia tak mungkin memaksa Raisya untuk kembali pada Jacky. Dia sudah merasa malu untuk meminta. Mengingat sikap Jacky yang kasar dan trauma masa lalu.
"Raisya.. Raisya.. " Jacky memanggil-manggil nama Raisya meski pelan. Dia begitu lemas tak bertenaga setelah dokter memberikan obat penenang. Dia hanya bisa tergolek lemah tanpa bisa berbuat banyak.
Ada rasa getir dan sedih di dada nyonya Robert menyaksikan putra kesayangannya tergolek seperti itu. Hatinya seperti diiris-iris rasa sakit yang dalam. Dia menyeka air mata lalu menghampiri Jacky dan mengelus lembut kening putranya seperti anak kecil yang dulu pernah disayang-sayang.
"Jacky... ini mamih!" Suaranya yang lirih begitu menyayat.
Jacky menoleh ke samping melihat perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Wajah cantiknya kini semakin tua seiring usia. Meski begitu gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas meski sudah di makan waktu.
"Mih.. Raisya mana mih.. aku kangen Raisya. Aku tak bisa hidup tanpa dia mih. Aku... sangat mencintainya mih." Dengan sisa-sisa tenaganya Jacky masih bisa mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Iya sayang... nanti Raisya akan datang. Sekarang kamu tidur saja dulu dan istirahat! Agar badan dan pikiranmu kembali pulih." Ucap nyonya Robert sambil mengelus lembut rambut Jacky penuh kelembutan. Ditatapnya wajah putranya yang lebam dan masih menyisakan bengkak di bagian tertentu bekas pukulan.
"Tidak mih.. tolong bawakan Raisya kesini sekarang juga. Aku ingin melihatnya mih!" Tolak Jacky yang masih bersikukuh ingin bertemu dengan Raisya.
Nyonya Robert menoleh ke arah suaminya yang masih duduk di sampingnya. Berharap suaminya akan membantu untuk memberi jawaban.
Tapi tuan Robert hanya terdiam. Dia tak mempunyai ide apapun untuk menjawab keinginan putranya yang kini sedang dilanda depresi.
"Jacky.. ini aku sayang.. istrimu. Disini ada anak kamu sayang. Kita sangat menyayangi kamu Jacky... " Sherly bangkit dari duduknya menggenggam tangan Jacky erat dan berusaha menguatkan mental Jacky agar tidak terus-menerus mengingat Raisya. Tak terasa air mata Sherly pun menetes. Hatinya hancur akhirnya harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya mencintai wanita lain sampai berakhir seperti sekarang.
__ADS_1