Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Bertukar Udara


__ADS_3

"Apa maksudnya?" Raisya berkata dalam hati sambil melirik sebentar melihat Nathan. Dalam hatinya berkata-kata. Sedangkan bibirnya hanya mengatup tak berani berbicara lagi.


Dalam lift hanya ada tiga orang yang sedang berdiri. Ketiganya bertujuan menuju lantai yang sama.


Rasanya lift ini berjalan merayap. Padahal kecepatan naik turun lift ini seperti biasanya. Tidak berubah pelan ataupun menjadi cepat. Mungkin karena perasaan mereka saja yang membuat lift ini bergerak seabad.


Raisya berdiri di ujung sebelah kanan sambil menyenderkan tubuhnya di ujung besi kotak itu sambil membuka layar handphone nya agar tidak terlalu menegangkan satu lift dengan Nathan.


Diakui oleh Raisya hatinya memang agak takut jika berdekatan dengan Nathan setelah perlakuannya waktu itu.


Tiba-tiba lift bergoncang lalu lampu lift kerlap-kerlip dan lift pun berhenti.


"Mati lampu." Ucap Reza yang memprediksi sedang mati lampu. Tapi lift bergoyang tak menentu arah seperti terkena guncangan.


"Akhh... akhh... " Terdengar seperti suara tercekik. Reza dan Nathan menoleh ke arah Raisya. Wajahnya pucat dan dia tak bisa bernafas dengan baik alias sesak nafas.


"Za.. kenapa dia?" Nathan menatap heran Raisya yang tiba-tiba ambruk ke lantai tangannya memegang dada.


"Seperti sesak nafas pak! Reza dan Nathan langsung berjongkok lalu Nathan meraih Raisya dan menyenderkannya di depan dadanya.


"Za.. coba hubungi nomor darurat!" Reza langsung menelpon bagian security.


"Pak, gak ada sinyal!" Jawab Reza sedikit cemas. Lift seperti bergoyang-goyang dan membuat penghuninya merasakan pusing.


"Coba tekan tombol darurat di atas sana!" Nathan mengarahkan Reza untuk menekan tombol darurat meski badannya tak bisa berdiri seimbang.


Reza menekan tombol yang ada di atas angka-angka yang berada di pintu lift.


"Halo ada orang di sana?" Reza mulai berteriak. Sementara Nathan mengkhawatirkan Raisya yang nampak kesusahan bernafas.


"Raisya.. Raisya... " Nathan menepuk-nepuk pipinya. Tapi Raisya seperti setengah sadar.


"Za.. ini kenapa? Dia kok gak bisa nafas gitu?" Nathan menatap Raisya sangat cemas.


"Coba longgarkan kerudungnya pak!" Nathan membuka penitik yang mengait di bawah dagu Raisya.


"Za... gimana nih! Dia kok kaya setengah sadar?" Nathan terus saja bertanya pada Reza. Padahal Reza sendiri tidak tahu bagaimana solusinya.

__ADS_1


"Coba ambil nafas buatan pak! Sepertinya Raisya sok berat karena mati listrik." Reza menduga-duga.


Reza menekan tombol darurat sambil meminta pertolongan sementara Nathan kebingungan harus menangani Raisya yang semakin terpuruk karena sesak nafas.


Nathan mengambil inisiatif yang tadi disarankan Reza. Dia langsung menempelkan mulutnya ke mulut Raisya setelah membukanya terlebih dahulu. Nathan langsung mentrasfer udara dari mulut ke mulutnya beberapa kali.


Ohok.. ohok.. terdengar batuk dari mulut Raisya.


"Kamu baik-baik saja?" Nathan memastikan Raisya sadar dan menjawabnya.


Setelah batuk beberapa kali Raisya terkulai lemas. Untung Nathan langsung meraih tubuhnya langsung memeluknya ke dalam dada bidangnya. Spontan Nathan mendekapnya dan memeluknya dengan lembut. Entah apa yang sedang hadir di hati Nathan begitu dia mendekap tubuh Raisya. Dia malah mencium pucuk kepalanya Raisya. Ada desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuh Nathan tanpa bisa ditolak malah menyengat seperti listrik sampai ke ubun-ubun. Menghadirkan rasa yang tak dimengerti olehnya, yang terkumpul untuk bisa diterjemahkan oleh rasa yang tak tampak oleh kasat mata tapi terasa oleh hati.


"Tenang.. aku disini!" Kata itu diucapkannya tanpa sadar. Seolah ingin melindungi seseorang sebagai belahan jiwanya yang telah lama menghilang dan kini hadir kembali dalam relung yang paling dalam.


Energi itu seakan mengalir ke tubuh Raisya, mentranfer membagikannya pada tubuh lemah yang sedang di dekatnya.


Sedikit demi sedikit Raisya menggeliat halus di dada bidang Nathan.


Nathan menatap dan meraih dagu Raisya yang sedang menempel di dadanya.


Raisya hanya mengangguk.


"Baguslah!"


"Za.. gimana? Sudah bisa menghubungi orang luar? Raisya sepertinya harus diberi oksigen." Nathan kembali memerintahkan Reza.


"Iya Pak. Belum terhubung."


"Halo. Ada orang di sana?" Suara masuk melalui speaker yang ada dalam lift.


"Iya. Kami ada tiga orang. Yang satu membutuhkan pertolongan segera karena sesak nafas." Reza membalas tim penyelamat yang baru saja bisa menghubunginya.


"Iya baik. Karena gempa di area sekitar Jakarta menyebabkan mati listrik sementara. Harap bersabar! kami sedang memperbaiki sistem listrik di gedung ini agar lift bisa naik sampai lantai yang bisa kami buka. Harap tenang dan tetap berkomunikasi.


"Baik."


Suhu lift memanas karena AC dalam lift mati. Reza membuka jasnya dan beberapa kancing kemejanya. Keringat mulai mengucur dan oksigen dalam lift perlahan-lahan menipis.

__ADS_1


"Duduklah Za.. Kita harus menghemat tenaga sebelum pintu ini bisa terbuka." Saran Nathan mengajak Reza untuk duduk.


"Baik pak!" Reza duduk sambil menselonjorkan kakinya duduk di samping Nathan.


Reza melirik sebentar pada Raisya.


"Sepertinya dia juga kepanasan pak!" Keringatnya begitu basah." Kening Raisya seperti habis terkena air.


"Pegang sebentar! Aku mau membuka jas ku."


Reza langsung menahan badan Raisya di pangkuannya dan membiarkan Nathan membuka jas juga kancing kemeja serta menggulung tangannya sampai sikut.


Nathan kembali meraih tubuh Raisya dan membaringkannya dengan nyaman, menahan kepalanya di pangkuan Nathan.


"Apa kerudungnya tidak dibuka saja pak?" Reza melihat keringat Raisya lebih deras keluar dari pori-pori nya.


"Ishh.. bagi wanita berkerudung itu pantrang bukan?" Biar aku tiup-tiup saja, agar dia tidak kegerahan." Nathan mulai meniup-niup area wajah dan area bekas penitik dibuka.


Sekarang netranya tajam detail mengamati Raisya dari dekat. Apalagi tengkuk Raisya agak terbuka membuat insting ke laki-laki an nya muncul begitu saja tanpa bisa dikendalikan.


Nathan berhenti meniup Raisya dan mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata. Hasratnya yang tiba-tiba muncul ke permukaan lebih gerah dari ruangan lift.


"Bapak kenapa?" Reza melihat ke samping Nathan.


"Ssst. Jangan banyak bicara! Waktunya menghemat energi." Desah Nathan yang sedang menahan gejolak..


"Iya pak!" Reza menurut begitu saja. Tak ada sangkaan sedikit pun pada apa yang sedang dirasakan Nathan saat ini.


Reza malah mengikuti langkah Nathan ikut memejamkan matanya.


Guncangan kini dirasakan lagi. Lift seperti bergerak.


"Ini naik apa turun ya?" Cemas Reza.


"Berdoa saja!" Jawab Nathan pendek. Sebenarnya pikiran Nathan pun sedang dilanda kecemasan memikirkan Michel yang tadi ditinggalkannya.


"Semoga saja Michel selamat." Ucap Nathan di dalam hatinya. Perasaan khawatir sedang menyelimuti dirinya saat ini. Dalam musibah atau bencana setiap orang akan memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan orang yang ada di sampingnya. Entah itu lawan atau pun kawan. Kini semua terlihat sama.

__ADS_1


__ADS_2