
"Apakah daddy mengenal perempuan yang satunya lagi?" Bola mata Michel beralih melihat Nathan, penasaran apakah ayahnya mengenal wanita yang sedang berpelukan dengan Sarah.
Sejenak Nathan melihat wanita itu dan mengingat-ingat apakah dia pernah mengenalnya. Dia menautkan kedua alisnya. "Rasanya aku tak pernah mengenalnya." Gumam Nathan dalam hati.
"Mmmh. Tidak." Nathan menjawab pertanyaan Michel. Tapi sepasangatanya masih belum lepas melihat wanita itu.
"Cantik." Pujian hanya menggema dala hatinya saja.
"Raisya." Sebait kata lolos dari bibir Michel.
"Raisya?" Heran Nathan sambil mengernyitkan dahi dari sorot matanya seolah dia ingin bertanya pada Michel.
Dari mana dia tahu namanya Raisya? Ah.. Michel mungkin salah. Mungkin karena hari ini akan mengunjungi makan Raisya. Pikirannya sedang tidak konsen.
Nathan menjawab sendiri pertanyaannya.
"Ayo masuk Michel!" Ajak Nathan begitu melihat Sarah dan kedua orang yang tadi sempat berbicara dengan Sarah sudah memasuki mobil.
"Baik." Michel tanpa ragu masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan Reza.
Setelah pantatnya mendarat di jok mobil Nathan langsung mengomandai Reza.
"Ikuti mobil mereka Za!" Nathan menyuruh Reza untuk mengikuti mobil yang dikendarai Sarah.
Reza mengernyitkan dahi, tidak langsung mengikuti perintah Nathan.
"Tenang Reza! Aku sudah sembuh. Aku tidak akan membuat kekacauan. Aku hanya ingin tahu dimana kak Sarah sekarang tinggal." Ucap Nathan mengungkapkan maksudnya.
Setelah kepergian Nathan tiga tahun yang lalu, Adam pernah mengunjunginya di rumah sakit dan di kantor perusahaan pusat yang berada di Amerika. Kabarnya Adam bercerai dengan Sarah dan tak pernah mengetahui keberadaan Sarah setelah itu. Mungkin kali ini jika Nathan tahu keberadaan Sarah bisa membantu Adam untuk kembali rujuk. Karena Nathan merasakan Adam sudah banyak membantunya. Karena hanya Adam lah satu-satunya keluarga Alberto yang menaruh perhatian pada Nathan.
Reza dengan ragu melakukan kemudi mengikuti mobil Sarah dengan jarak aman.
Apa benar pak Nathan sudah normal?
Reza mengkhawatirkan kondisi Nathan yang sebelumnya pernah mengidap gangguan emosional kini malah menyuruh menguntit Sarah. Tapi dia tak berani menolak permintaan Nathan karena ditugaskan untuk mengawal Nathan selama ada di Indonesia. Dia tetap harus berjaga-jaga jika ada kemungkinan Nathan membuat kesalahan lagi.
Pada akhirnya mobil yang dikendarai Nathan sampai di salah satu apartemen di Jakarta.
"Pak Nathan mau naik juga?" Tanya Reza ingin tahu apa yang akan selanjutnya dilakukan Nathan.
"Ayo turun bersama!" Ucap Nathan lagi-lagi mengherankan Reza.
__ADS_1
Reza dan Michel hanya mengikuti apa yang dilakukan Nathan. Mereka berjalan menuju satu lif yang tadi dimasuki Sarah.
"Lantai 8." Ucap Nathan mengamati angka-angka yang terus berganti di atas pintu lift.
Ketiganya masuk, lalu Nathan menekan angka mengikuti Sarah. Tak lama kemudian ketiganya masuk di lantai 8. Mata Nathan langsung mengedar kemana arah yang dituju Sarah.
Untung saja orang yang diikutinya baru saja masuk ke pintu milik apartemennya.
Nathan berjalan menuju pintu apartemen Sarah. Dia gak yakin apakah ini tempat tinggalnya atau milik kedua temannya. Tapi kalau dilihat sekilas kedua orang itu baru masuk setelah Sarah menekan angka pasword di pintu.
Itu angka yang jelas tertulis di depan pintu apartemen Sarah.
"Maaf pak, Apa. sebaiknya anda dan Michel beristirahat di hotel saja. Anda pastinya lelah setelah melakukan perjalanan jauh." Reza berusaha menggagalkan aksi Nathan untuk mengetuk pintu apartemen.
"Iya. Sehabis ini kita ke hotel. Aku ingin bertemu kak Sarah dulu. Sudah lama aku tak bertemu dengannya. Mumpung kita lagi di sini apa salahnya aku mengunjunginya terlebih dahulu." Ucap Nathan sambil menekan bel.
Reza terdiam. Padahal hatinya sedang berolahraga senam aerobik.
Bunyi bel terdengar keras beberapa kali dari dalam. apartemen.
Karena dia baru sebulan menempati apartemen ini sebelum kedatangan Raisya adiknya, juga Peter kekasihnya.
Sarah yang baru datang langsung sibuk di dapur akan menyiapkan meja makan perhatiannya teralihkan dengan suara bel itu.
"Biarkan aku saja kak!" Ucap Raisya yang duduk di ruang tamu ingin membantu Sarah membukakan pintu.
"Baiklah. Terimakasih!" Ucap Sarah sambil tersenyum. Dia kembali ke dapur sementara Raisya berjalan ke pintu untuk membukakan pintu.
Ceklek
Pintu terbuka hanya sebatas satu orang. Raisya muncul dari pintu. Pandangannya langsung melihat ketiga tamu yang sudah ada. di depan pintu.
"Eh.. " Begitu netranya jatuh pada Michel. Spontan Raisya kaget.
"Bukannya kita tadi bertemu?" Heran Raisya melihat Michel.
"Maaf.. apakah saya bisa bertemu Sarah?" Nathan mendahului bicara tanpa memberi kesempatan pada Michel untuk menjawab pertanyaan Raisya.
__ADS_1
"Siapa mereka honey?" Peter yang ada di belakang Raisya bertanya tentang tamunya.
"Ada tamu buat kak Sarah."
"Sebentar saya panggilkan." Raisya berlalu menghampiri Sarah.
"Kak ada tamu ingin bertemu kakak." Ucap Raisya pada Sarah yang sedang menata meja.
"Siapa?" Sarah menghentikan aktifitasnya.
"Tidak tahu." Raisya menggelengkan kepala.
"Ih.. kenapa tidak ditanya dulu?" Protes Sarah.
"Maaf.. " Raisya mengusap bahu Sarah.
"Ya sudah kakak ke depan dulu." Sarah berjalan menuju pintu yang sedang ditunggu oleh Peter.
"Thanks." Ucap Sarah pada Peter karena telah membantu menunggu di pintu.
"Your welcome." Ucap Peter sambil berjalan kembali ke sofa mendekati Raisya yang sedang berselancar di handphone.
"Nathan... " Mata Sarah membulat kaget begitu melihat Nathan ada di balik pintu.
"Kak Sarah apa kabar?" Nathan tersenyum ramah menyapa Sarah.
"Ba.. Baik." Sarah tergagap. Hampir saja jantungnya melompat begitu sosok yang dulu dikenal psikopat tiba-tiba ada di depan pintu apartemennya. Untung Sarah tidak mempunyai riwayat jantung. Degup jantung Sarah kian kencang, dia terlihat melongo sambil memegang pintu apartemennya dengan kuat.
Karena reaksi Sarah yang masih kaget dan diam mematung, Nathan memulai pembicaraan.
"Kami baru datang kak, tadi aku melihat kakak di bandara. Jadi.. aku datang kesini untuk bersilaturahmi dengan kakak. Sudah lama juga kita tidak bertemu." Ucap Nathan yang tiba-tiba ramah tidak seperti kebiasaannya dulu yang cool.
"Eh.. iy ya." Sarah masih juga gugup. Bukan hanya takut pada Nathan tapi ada yang lebih ditakutkannya lagi saat ini.
"Halo aunty Sarah. Apa kabarnya?" Michel tersenyum manis hendak menyapa Sarah. Dia menyodorkan tangannya pada Sarah yang masih melongo.
"Eh.. he ba baik. Michel iy. ya?" Sarah terbata-bata menanggapi Michel masih diselimuti kebingungan besar, ibarat sedang ketahuan berdosa.
"Iya aunty." Jawab Michel.
"Kak Sarah pasti kaget melihat kami?" Nathan seperti membaca kebingungan Sarah.
__ADS_1
"Iyy ya. eu."