
Raisya mengeluarkan satu bungkus biskuit juga susu kotak yang biasa dikonsumsi nya.
"Michel mau?" Raisya menyodorkan biskuit yang sudah dibukanya terlebih dahulu.
Michel mengangguk.
"Anak sholehah.. anak siapa ini?" Raisya gemes melihat Michel lalu membelai rambutnya yang tergerai. Entahlah tiba-tiba hatinya meleleh melihat anak bule di depan nya. Tangannya yang munggil juga pipinya yang lucu Michel terlihat menggemaskan.
"Coba kamu teh baik kaya gini. Pastinya banyak yang suka." Raisya tanpa sadar telah berceloteh sendiri. Raisya mengamati lamat-lamat Michel yang sedang mengunyah biskuit. Sesekali dia mengelap pinggir bibirnya dengan tisu. Bibirnya tersenyum melihat Michel. Ada rasa haru juga bahagia tumbuh di hati Raisya.
"I want to drink" Cicit Michel.
"Sebentar ya tante ambil air putih dulu!" Raisya bangkit dari kursinya lalu berjalan ke pantry mengambil air putih dalam cangkir yang terbuat dari melamin.
"Ya ampun.. Michel.. kenapa minum susu?" Raisya kaget. Karena susu kotak yang baru saja dikeluarkannya sedang disesap oleh Michel.
Raisya mendekati Michel tapi tak berani meminta susu kotak itu takut dia menjerit.
"Ini tante ganti ya sama air putih biar Michel minum ini dulu ya!" Raisya berusaha merayu Michel agar mau melepaskan kotak susu dari tangannya.
"Ah.. untung saja dia mau melepaskannya." Raisya merasa lega. Dia menyodorkan air putih untuk diminum Michel.
Michel meneguk beberapa tegukan. Raisya kembali menyimpan cangkir jauh dari jangkauan juga menyembunyikan sisa susu kotak dibawah meja meja.
"Oo.. Ooo.. " Mulut Michel membentuk bulat. Seperti mau memuntahkan sesuatu.
"Michel.. kenapa?" Raisya panik.
"Hhh.. Hhh.. Michel mau muntah." Dia merengek dan bicara katanya mau muntah.
"Ya Allah.. kenapa anak ini?" Raisya segera menggendongnya dan membawanya ke toilet.
"Uooo... Uooo... Uooo.. " Suara itu memenuhi toilet karena Michel mengeluarkan muntahan yang baru saja ditahannya.
"Ya Allah... kenapa anak ini?" Raisya bertambah panik.
"Hhh.. Hhh.. Hhh... " Michel menangis dan badanya terlihat lemas.
"Aduh sayang... cup cup.. " Raisya tak bisa berbuat apa-apa selain memijat-mijat tengkuk Michel perlahan-lahan.
"Masih ingin muntah?" Raisya menatap Michel dengan perasaan was-was. Dia takut sekali jika ada apa-apa dengan Michel.
Dia mengangguk lemah.
"Uooo... Uooo... Uooo." Michel kembali memuntahkan isi perutnya kali ini cairannya hanya kuning mungkin makanan yang baru saja dimakan sudah habis dimuntahkan. Jadi hanya cairan itu saja yang keluar membuat perut Michel sakit karena tak ada yang bisa dimuntahkan, tapi rasa mualnya begitu kuat.
__ADS_1
"Sakiiittt." Michel menangis sambil mengeluh sakit.
"Ya Allah.. Gimana ini?" Raisya langsung memeluk Michel yang masih menangis lemah. Dia membawa Michel ke luar toilet setelah membersihkan kotoran bekas muntahan
"Tante gosokin perutnya ya... takutnya masuk angin." Tawar Raisya.
Michel hanya mengangguk pasrah.
Raisya membawa kayu putih yang ada di dalam tasnya. Lalu membuka baju Michel.
"Ya ampuun.. anak ini kaya alergi." Raisya melihat ruam-ruam merah disekitar perut dan leher Michel.
Raisya segera menggosok badan Michel agar mengurangi rasa mual nya. Hati Raisya sekarang dilanda kepanikan. Karena dia bertanggungjawab penuh untuk menjaga Michel. Kalau ada apa-apa pastinya dia akan disalahkan.
"Raisya.. tenang kamu harus tenang." Raisya bergumam sendiri mengatasi kecemasannya.
"Ayo.. berpikir Raisya.." Raisya kembali bergumam. Menekan pikirannya agar mendapatkan solusi.
"Sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit terdekat jangan sampai Michel bertambah parah." Raisya mengambil tindakan spontan tanpa kompromi pada ayahnya Michel. Karena dalam. pikirannya saat ini, bagaimana mengatasi alergi dengan cepat.
Raisya langsung mengemas dompet juga handphonenya ke dalam tas. Dia langsung menggendong Michel ke luar ruangan.
Hati Raisya tak tenang. Laju lift seakan melambat untuk sampai di lantai satu.
Rasa hangat mulai Raisya rasakan dari hawa badan Michel.
"Ya Allah.. Michel demam." Raisya kian tak tenang.
"Duh ieu lift meni lelet kieu." Keluh Raisya dengan. logat sundanya.
Tling
Suara itu begitu indah di dengar ketika sejak tadi diharapkan Raisya agar segera sampai di lantai yang dituju.
Setelah pintu lift terbuka, Raisya setengah berlari sambil menggendong Michel ke luar gedung.
"Taxi!" Raisya berteriak memanggil taxi karena saking paniknya.
"Pak tolong antar ke rumah sakit terdekat! Cepat ya pak!" Raisya meminta supir taxi mengantarkannya dengan cepat.
"Baik mbak."
Sepanjang perjalanan jantung Raisya seperti sedang nerlari maraton. Dia terus melafalkan doa-doa agar Michel bisa tertolong.
"Alhamdulillah. Berapa pak?" Tanya Raisya begitu taxi sampai di depan ruang UGD.
__ADS_1
"Terserah mbak saja." Supir taxi rupanya tak tega melihat Raisya yang sejak naik terlihat cemas.
"Ini pak!" Raisya mengeluarkan selembar uang Seratus ribu rupiah dan menyodorkan pada supir taxi.
"Wah mbak kebanyakan." Keluh supir taxi.
"Gak pa-pa. Sisanya ambil saja!" Teriak Raisya sambil keluar dari mobil taxi.
"Ya Allah... semoga anak itu sehat kembali." Supir taxi menatap punggung Raisya merasa iba sambil mendoakannya.
"Maaf dok.. bisa tolong anak ini?" Raisya sangat panik menerobos masuk ke ruang UGD tanpa mengindahkan peraturan.
"Baringkan disini mbak!" Perintah salah satu perawat yang berjaga di dalam UGD.
"Saya panggilkan dokternya dulu!" Perawat itu berjalan ke ruangan dokter jaga. Dan tak lama kemudian dia keluar bersama seorang dokter laki-laki.
"Kenapa anaknya bu?" Tanya dokter itu sambil menekankan stetoskop nya pada dada Michel
"Gak tau dokter tiba-tiba muntah dan sakit perut
Terus ini ada ruam-ruam gitu dok!" Terang Raisya dengan nada bicara cemas.
"Baik.Tadi sebelumnya tidak apa-apa?" Tanya dokter sambil memeriksa Michel disekitar mulut dan matanya.
"Tidak dok. Tapi setelah minum susu dia langsung mual." Terang Raisya.
"Susu kotak merk xxx" Terang Raisya.
"Anda membawa sisanya?" Dokter itu menatap Raisya.
"Tidak dok!"
"Baik. Saya akan kasih infus dulu sama pencuci perut agar racun yang diperutnya bisa keluar. Saya juga akan mengambil sample darah anak ini. Ada kemungkinan dia alergi susu atau keracunan susu yang tidak tepat untuk umurnya." Terang dokter.
"Baik dok! Saya minta yang terbaik untuk anak saya." Tanpa sadar Raisya menyebutkan Raisya anaknya.
"Ibu tenang ya. InsyaAllah kita tangani anak ibu." Dokter itu berusaha menenangkan Raisya.
Michel yang tergeletak lemah menatap Raisya. Bibir munggilnya memanggil.
"Tante... " Suaranya begitu lemah.
"Iya sayang.. ini tante. Tante disini sayang... " Raisya mengelus lembut rambut Raisya. Matanya berkaca-kaca.
"Tante.. Michel takuttt." Raisya segera memeluk erat tubuh Michel.
__ADS_1