Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Depresi


__ADS_3

Raisya pura-pura tidur untuk menghindari banyaknya pertanyaan. Padahal sejak Baron membawanya, tak satu kalimat pertanyaan pun keluar dari bibir nya mengenai masalah yang dihadapi Raisya. Laki-laki itu tak ingin membuat Raisya tidak nyaman. Dia hanya bertanya seputar apakah dirinya akan beristirahat dulu di hotel atau tidak. Hanya itu saja.


Dalam benak pikiran Baron bukan tidak penasaran. Pastinya sangat banyak. Dia penasaran dengan sosok siapa Raisya sebenarnya dan apa yang terjadi dengan kehidupan Raisya. Setahu Baron Raisya adalah janda ditinggal mati. Itu pun berdasarkan pengakuannya waktu itu. Tapi dia lebih memilih meniaga privasi Raisya. Dia pura-pura tak ingin tahu. Seperti sekarang ini, dia hanya sesekali melirik ke samping melihat Raisya lalu kembali membaca laporan dari layar i-pad nya.


Setelah kurang lebih 1 jam 50 menit mengudara, pesawat pun mendarat di Banjarmasin. Tapi perjalanannya belum lah sampai. Dari bandara itu dia harus menumpang kembali pesawat kecil untuk sampai ke Kotabaru dimana perusahaan batubaranya ada di sana.


"Apakah kamu mau beristirahat dulu? Disini ada penginapan. Jika lelah, kita bisa istirahat sejenak. Karena kita harus naik pesawat lagi ke pulau." Ucap Baron sambil menyodorkan sebotol air mineral yang tadi dibelinya di cafe bandara.


"Terima kasih." Raisya menerima botol itu yang botolnya tadi sudah dibuka oleh Baron. Ternyata laki-laki itu romantis dan perhatian juga. Raisya meneguk air mineral itu lalu menutup kembali.


"Menurut bapak baiknya bagaimana? Saya baru pertama kali datang kesini. Jadi kurang tahu baiknya bagaimana." Raisya tak ingin egois mengikuti keinginannya sendiri.


"Lebih baik kita istirahat dulu saja. Anak buah saya sudah menunggu di hotel. Kalau kita mau, jadi mereka akan menjemput kita." Ucap Baron yang sudah koordinasi dengan bawahannya yang sudah duluan datang ke Banjarmasin.


"Baiklah. Saya ikut saja." Jawab Raisya tidak mempermasalahkan keputusan atasannya itu.


"Baik. Kalau begitu saya kabari mereka sekarang juga." Baron mengambil benda pipih miliknya dan menghubungi anak buahnya agar menjemput mereka berdua ke bandara.


Tak lama kemudian mereka pun menjemput Baron juga Raisya. Mereka membawa keduanya ke hotel terdekat dengan bandara dimana mereka menginap juga.


"Oh iya kenalkan ini bu Raisya. Dia staff keuangan saya. Dan ini Jason, dia manager disini." Baron mengenalkan Raisya dengan orang kepercayaannya yang selama ini mengurus perusahaan batubaranya di Banjarmasin.


"Jason." Jason yang usianya kurang lebih sama dengan Raisya menyodorkan tangan pada Raisya.


"Raisya." Raisya menjabat tangan laki-laki yang baru saja dikenalkannya.


"Baiklah. Kita istirahat dulu. Nanti kita turun bersama untuk makan." Baron melihat pada Raisya dan diikuti dengan anggukan.


"Maaf ini kunci kamarnya pak." Jason menyodorkan kunci kamar pada Baron juga Raisya.


Tapi begitu dia menyodorkan kunci pada Raisya dia terlihat gugup sampai kunci kamar hotel itu jatuh, dan spontan Raisya dan Jason mengambil kunci itu bersamaan dan berakhir dengan benturan kepala di keduanya.


"Aww.. " Raisya meringis sambil mengusap-ngusap kening Raisya.

__ADS_1


Begitu pun Jason di mengusap-ngusap bagian rambutnya yang sama halnya merasa sakit, tapi malu untuk mengeluh.


"Maaf.. " Keduanya kompak mengucapkan kata maaf.


"Eh.. " Keduanya karena merasa malu jadi tersenyum.


"Wah.. kalian kompakan, baru saja ketemu sudah adu banteng." Baron menggelengkan kepalanya karena heran melihat kekikukan Jason sampai berakhir dengan kejadian seperti itu.


"Maaf Pak. Tidak sengaja." Jawab Jason tak enak hati dia membungkukkan badannya di depan Raisya juga Baron.


"Sudahlah! Mari bu Raisya kita istirahat dulu!" Baron mengajak Raisya untuk pergi ke kamarnya.


"Baik. Saya tinggal dulu ya bapak-bapak." Raisya dengan sopan sedikit membungkukkan kepalanya yang masih terasa sakit.


Baron dan Raisya pun masuk ke dalam lift menuju kamar yang telah disediakan.


"Coba lihat kesini!" Baron menyuruh Raisya menghadap padanya.


"Kenapa pak?" Ada rasa enggan yang Raisya tahan.


Raisya memutar tumitnya menghadap Baron.


"Wah.. biru. Mesti dikompres." Jawab Baron sambil melihat kening Raisya yang tadi tak sengaja beradu dengan Jason.


"Masa? Pantesan sakit. Kepalanya kuat banget berarti." Raisya kembali memutar tumit berdiri seperti semula menghadap pintu lift.


Baron segera mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.


"Bawakan es dan salep untuk mengobati kening bu Raisya. Keningnya terluka." Baron memberi perintah. Sejak tadi Baron memperhatikan Raisya meski tidak begitu terlihat.


"Baik." Orang diseberang telepon dengan cepat menjawab permintaan bos nya.


Baron segera menutup panggilan dan menyimpan handphonenya kembali.

__ADS_1


"Nanti akan ada yang membawakan air es sama salep ke kamar kamu. Buat ngobatin luka lebamnya." Ucap Baron pada Raisya.


"Siapa pelayan hotel?" Tanya Raisya terlihat sigap. Entah kenapa ada rasa takut jika ada yang datang ke kamar hotelnya. Raisya merasa cemas mengingat masa lalunya yang pernah diper*** Ferdy.


"Kenapa kamu takut?" Tanya Baron melihat Raisya gelisah.


"Mmm... suruh simpan saja, di depan pintu. Bisa tidak pak?" Tanya Raisya menutupi ketakutannya.


"Ya udah.. nanti aku suruh simpan di depan kamar hotel. Kenapa kamu takut?" Tanya Baron kali ini memberanikan diri bertanya.


"Mmm.. saya tidak nyaman membukakan pintu untuk yang tidak saya kenal. Jadi lebih baik simpan saja kalau barangnya sudah ada." Jawab Raisya sambil membuang muka tidak melihat lagi ke arah Baron.


"Mmm." Baron mengangguk. Dalam pikirannya hanya menduga mungkin Raisya masih trauma akan kejadian sebelum keberangkatannya.


Ting


Pintu lift terbuka, keduanya berjalan menuju kamar masing-masing. Kamar Raisya bersebelahan dengan kamar Baron. Sengaja bawahannya memesan kamar yang kebetulan berdampingan.


"Saya masuk dulu pak!" Izin Raisya pada Baron.


"Mmm." Baron hanya menjawab pendek.


Pintu kamar Raisya pun tertutup disusul dengan kamar Baron.


Keduanya langsung duduk di sofa.


Raisya menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata sedangkan Baron sibuk menelpon sana sini, termasuk dia menghubungi Tedi mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di hotel.


"Bagaiamana dengan pak Jacky?" Tanya Baron penasaran bagaimana dengan nasib mantan suaminya Raisya yang tadi ngamuk.


"Untung saja pak Anwar datang pak! Jadi saya tadi ada yang bantu membawanya ke rumah sakit. Dia ngamuk histeris kaya kesurupan pak! Malah sesudah sampai di rumah sakit, dokter menyuntikkan obat penenang." Kabar Tedi yang heran.


"Oh ya?" Mata Baron melebar mendengar itu.

__ADS_1


"Iya pak. Kata dokter, pak Jacky stress." Tedi menambah daftar heran Baron.


"Lah.. aneh. Stress kenapa? Lagian kan Raisya dengan dia sudah tidak ada hubungan. Mungkin itu sebabnya kenapa bu Raisya bercerai.. Jangan-jangan dia mengidap penyakit aneh." Dahi Baron mengerut.


__ADS_2