Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Nasib janda


__ADS_3

Si kembar mengikuti Michel keluar dari ruang makan. Mereka berempat bermain di halaman rumah.


"Kenapa Sya?" Ratna belum mengerti perkataan Raisya.


"Aku.. takutnya Arsel tidak bisa lepas dari Irwan. Karena sampai sekarang dia masih beranggapan bahwa Irwan ayahnya." Itu menjadi kekhawatiran Raisya di masa depan.


"Aku sih gak keberatan Sya kalau dia menganggap Irwan sebagai ayahnya. Bahkan jika kamu jadi madu Irwan pun aku tak masalah." Ratna dengan entengnya mengatakan hal itu.


"Ratna!" Suara bentakan muncul dari belakang Ratna, membuat Raisya dan Ratna terhenyak kaget. Hampir saja jantungnya melompat dari tempatnya mendengar suara Hendrik yang membentak.


"Sekali lagi kamu ngomong kaya gitu. Kakak gak bakal maafin kamu!" Hendrik nampak marah. Wajahnya yang tampan meski bangun tidur mendadak garang.


"Kakak..bikin kaget saja!" Ratna menoleh ke arah Hendrik sambil meraba dadanya.


"Kamu tuh kalau ngomong suka gak dipikir dulu! main asal aja." Hendrik mengambil air minum lalu duduk sambil meneguknya beberapa tegukan.


"Kata siapa aku ngasal kak? Justru aku tuh mikir kak. Daripada Raisya tinggal di sini tanpa status nantinya jadi fitnah. Lagian aku juga gak khawatir sayangnya Irwan dan Raisya jadi berkurang buat aku kak." Entah apa yang dipikirkan oleh Ratna sampai dia berkata seperti itu.


"Ratna.. " Raisya menegur Ratna dia tidak setuju dengan apa yang dikatakannya. Meski Raisya juga tahu Irwan dari dulu menyukainya, tapi dia juga tahu Irwan bukan laki-laki yang gampang tergoda. Dia laki-laki baik yang bisa bertanggungjawab atas dirinya dan keluarganya. Kalau pun dia sekarang baik pada Raisya, itupun karena dia sangat mencintai istrinya. Irwan tidak berani menolak permintaan Ratna yang telah memohon-mohon untuk bisa menolong Raisya dari keterpurukan. Bukan karena dia menyukai Raisya. Ratna mungkin sudah salah paham. Suatu hari ini perlu diluruskan, pikir Raisya.

__ADS_1


"Kakak sih gak tahu, Irwan tuh cinta banget kak sama Raisya dari dulu. Aku juga tahu itu kak. Dari sorot matanya ketika lihat Raisya itu beda kak." Ratna tiba-tiba bicara begitu.


"Ya ampun Ratna.. " Raisya jadi tidak enak hati. Kenapa dia sampai berpikiran seperti itu. Kalau benar dia sudah salah paham pada dirinya. Ini harus segera diakhiri. Jangan sampai perhatian Irwan malah menyakiti perasaan Ratna. Ternyata Ratna sudah salah paham.


"Kamu gak usah khawatir. Irwan laki-laki baik yang gak mungkin menyakiti aku Sya. Meski aku menyuruhnya menikah pun dia tidak akan mau. Aku hanya ingin menyelamatkan semuanya. Irwan sama Arsel udah deket banget kak.. buktinya mereka saling merindukan. Aku tahu Irwan sangat tersiksa sekarang." Ratna tertunduk meski dia rela suaminya mendua, sebagai perempuan pastilah ada rasa sakit.


"Ratna.. jangan begitu! Itu karena aku yang salah. Aku yang selama ini selalu tergantung sama kalian yang membuat semuanya begini. Kalau waktu itu posisi aku tidak dalam keadaan lemah, aku tidak akan meminta bantuanmu" Raisya merasa bersalah selama ini dia membuat sepasang suami-istri istri ini terikat dengannya, karena Raisya selalu menggantungkan masalahnya. Mata Raisya mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak merasa begitu kok. Aku malah senang kamu ada di sini. Semuanya jadi hangat, tidak sepi." Ratna mengakui keadaannya jadi berubah setelah Raisya meninggalkan rumahnya.


"Ratna.. maafin aku ya! Justru aku tuh kesini ingin menjelaskan sama kalian bahwa aku kayanya berencana akan pindah rumah. Setelah kemarin aku berencana ke Bandung, Michel malah ngambek. Aku tuh bingung, tanggung jawab aku banyak. Bukan hanya Arsel, tapi Michel tidak mau berpisah denganku. Aku terlalu lama tinggal di sana juga tidak tenang, karena status aku yang bukan siapa-siapa. Aku pun akan merencanakan memindahkan sekolah biar Michel dan Arsel satu sekolah biar nantinya aku tidak susah antar jemput." Raisya menjelaskan niatnya.


"Aku berencana pindah ke rumah peninggalan Nathan, itupun kalau diizinkan. Karena tuan Robert ingin cucunya tinggal bersamanya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan keduanya bersama mereka dan aku tinggal sendiri. Itu sangat membingungkan untuk aku." Raisya bingung untuk masalah yang dihadapinya. Sebenarnya Raisya belum berencana secepat ini, tapi melihat keadaan yang mendukung, maka Raisya tidak ingin menundanya. Jadi alasan untuk membawa semua barang-barangnya dari rumah Ratna dan memberi jarak agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Hendrik menyimak pembicaraan kedua perempuan yang ada di depannya.


"Kakak... aku mau tanya? Kenapa sih papa melarang kakak menikahi Raisya?" Sontak membuat Raisya dan Hendrik saling memandang.


"Tau.. " Hendrik berdiri melangkah meninggalkan ruang tamu lalu duduk di sofa. Dia menghindari Ratna dan Raisya. Dia tak ingin memikirkan sesuatu yang ribet yang akhirnya membuat pikirannya ikut pusing. Inilah karakter Hendrik sebenarnya. Dia ingin santai dan tak terlalu pusing untuk memikirkan hal-hal yang dianggpnya membuatnya rumit.

__ADS_1


"Maksudnya apa sih Rat?" Raisya jadi tidak enak hati ketika Ratna seperti menodongkan masalah pada dirinya.


"Kemarin kakak sudah minta izin untuk menikahi kamu Sya. Aku sih malah senang kalau kak Hendrik jadi menikahi kamu. Kita kan akan tetap dekat. Tapi... tiba-tiba papa tidak setuju dan hendak menjodohkannya pada anak temen papa." Terang Ratna.


"Mmm.. " Raisya terdiam. Ya.. ada rasa yang tidak bisa dihalangi bahwa dia sedang kecewa. Sekarang dia baru tahu bahwa orang terdekatnya saja tidak mau menikahkan putranya dengan seorang janda apalagi orang lain. Itu membuat hati Raisya sedikit terluka.


"Sya.. " Ratna merasa perkataannya barusan telah sedikit menyinggung Raisya.


"Ya?" Raisya melihat Ratna dengan senyuman yang dibuat-buat agar sahabatnya itu tidak melihatnya sedang bersedih.


"Kamu.. maaf aku barusan ngomong ya?" Ratna menggenggam tangan Raisya.


"Gak pa-pa.. Ray. Wajar aja kok Rat.. papa ingin yang terbaik buat kak Hendrik. Semua orang tua pastinya akan lebih hati-hati ketika memilih janda beranak dia dengan segudang masalah." Raisya berdiri dari tempat duduk.


"Kamu.. mau kemana Sya?" Ratna mulai tidak enak hati melihat reaksinya.


Raisya tersenyum sambil menepuk bahu Ratna.


"Aku mau ke atas.. aku mohon.. kak Hendrik jangan dulu masuk ya! Aku mau beresin kamar." Raisya melangkah meninggalkan Ratna dan langkahnya dipercepat untuk naik ke tangga. Dia tahu hatinya sedang tidak baik-baik saja. Melihat dunia realitanya sekarang yang menyakitkan. Bahwa orang terdekatnya saja sudah berbeda memandangnya. Nasib seorang janda pada kehidupan memang sering dianggap sebelah mata.

__ADS_1


Raisya menutup kamar dan menguncinya sambil menangis.


__ADS_2