Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Bau terasi


__ADS_3

Raisya duduk di belakang kemudi bersama Michel. Sedangkan Nathan duduk di samping Reza di bangku depan


Sejak bertemu dengan Raisya tangan Michel seperti layaknya lem Korea yang susah lepas. Menempel dan menggenggam kuat telapak. tangannya.


Bahkan seperti sekarang Raisya hanya pura-pura tidur memejamkan matanya menghindari tatapan tajam dari Nathan yang sesekali dia lihat dari kaca spion depan tapi masih saja menggelayut manja sambil memeluk tangan Raisya seperti bantal.


"Daddy.. "


"Hhmm.. "


"Aku mau tidur sekamar dengan bunda, boleh?" Michel yang kangen kehadiran Raisya menginginkan dia sekamar dengannya.


Hhhmm.. untung Michel tahu apa yang aku mau. Kalau aku sekamar dengan dia bisa habis lagi seperti waktu di hotel. Aku sebel.. masa kalah sama aku yang amnesia. Surat perjanjian dia buat tapi dia sendiri yang melanggar.


Raisya bermonolog.


"Boleh.. nanti daddy atur lagi kamar kamu biar lebih nyaman." Nathan tak banyak memprotes keinginan Michel.


Ada baiknya juga dia sekamar dengan Michel. Aku takut jika aku tak bisa mengendalikan diri sendiri.


Nathan pun kembali menatap ke arah depan.


Sejak kepulangan Raisya dari rumah sakit belum ada pembicaraan lagi antara Nathan dan Raisya. Keduanya memilih diam dan tak mau saling tegur sapa.


Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Reza terparkir di depan rumah.


Pelayan rumah menyambut dan segera membawakan tas-tas dari dalam bagasi untuk disimpan di dalam kamar masing-masing.


Michel dan Raisya turun bersama. Tangan Raisya masih juga dipegang oleh kedua tangan Michel. Nathan bersama Reza berjalan lebih dulu masuk ke rumah yang dulu pernah ditempatinya.


"Bunda.. mau tahu kamar aku gak?" Michel mendongak menatap Raisya.


Raisya tersenyum tipis, lalu mengangguk.


Michel lalu menarik tangan Raisya dan menunjukkan kamarnya.

__ADS_1


"Ini bunda.. ini kamar Michel. Dulu bunda Raisya juga sering menginap di kamar Michel." Ucap Michel yang terlihat senang.


Raisya mengedarkan pandangan mengamati seluruh isi kamar Michel, berharap ingatannya bisa kembali. Tapi nihil. Tak sedikit pun gambaran dari kamar ini ada di kepalanya.


"Sini bun.. duduk!" Michel mengajak duduk di kasur yang bercorak ungu muda dan sprei warna pink.


Raisya duduk di samping Michel.


"Bunda.. aku senang sekali akhirnya bunda jadi ibu aku!" Michel memeluk pinggang Raisya dan menenggelamkan kepalanya di depan perut Raisya.


Raisya mengelus lembut kerudung Michel.


Walaupun ingatan Raisya tentang masa lalunya hilang dia berusaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dari orang-orang yang tahu seperti Michel.


Sementara Raisya dan Michel sedang asik berduaan di kamar, Nathan dan Reza berbicara di ruang kerja.


"Za.. kamu bisa siapkan kado pernikahan buat Jacky dan Sherly?" Lusa adalah pernikahan Jacky dan Sherly. Semuanya akan diadakan di hotel berbintang yang sudah disewanya jauh-jauh hari.


"Baik Pak Nathan. Nanti akan saya siapkan." Reza langsung menulis di agenda tabletnya.


"Baik. Nanti akan saya hubungi pak. Ada lagi yang bisa saya bantu pak Nathan?"


"Siapkan juga gaun untuk Michel dan Raisya untuk pergi ke acara. Pilih butik yang cocok untuk mereka." Nathan ngin kedatangan mereka ke pernikahan Jacky terlihat sempurna.


"Baik Pak. Kalau sudah tidak ada. Saya akan permisi dulu." Reza segera keluar dari ruang kerja Nathan. Nathan memejamkan kedua bola matanya rasanya sangat lelah sekali setelah perjalanan dari Bali. Sejenak dia mengistirahatkan pikirannya dengan menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya untuk melepaskan penat.


"Bunda.. aku lapar.. biasanya bunda Raisya suka membuatkan aku nasi goreng terasi dengan campuran sayuran." Michel masih mengingat kebiasaan-kebiasaan Raisya waktu pernah tinggal bersamanya selama satu bulan sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Baik.. kita ke dapur. Tapi bunda mau berganti pakaian dulu." Izin Raisya yang kurang nyaman memakai pakaian resmi. Dia mengganti pakaian dengan baju kaos dan celana pendek sepaha.


Michel menatap pakaian Raisya yang terlihat pendek.


"Bunda.. kenapa bunda seperti itu?" Michel yang mengidolakan Raisya yang selalu memakai pakaian tertutup kurang setuju dengan penampilan Raisya yang sekarang.


"Mmm... memangnya kenapa Michel?" Raisya heran dengan protesnya Michel.

__ADS_1


"Bunda Raisya tidak pernah membuka aurat. Malah Michel suka dikasih nasehat kalau perempuan itu lebih baik menutup auratnya."


"Begitu ya?" Raisya mengerutkan dahi. Benarkah Raisya yang dulu seperti itu? Lagi-lagi Raisya tak mengingat hal itu.


"Gak pa-pa. Di rumah kan tidak ada laki-laki selain daddy kamu kan?" Raisya menanyakan penghuni rumah ini pada Michel.


"Iya sih. Ada pak satpam di luar. Tukang kebun dan sopir." Michel menyebutkan satu persatu laki-laki yang ada di rumah itu.


"Tapi semuanya ada di luar rumah kita kan?" Raisya memastikan keberadaan mereka yang ada di luar rumah. Tepatnya ada rumah khusus para pegawai di belakang rumahnya.


"Iya." Jawab Michel pendek.


"Kalau begitu aman. Di rumah ada perempuan semua kecuali daddy kan?" Raisya langsung menggulung rambutnya ke atas dan dicapit dengan capitan rambut untuk mencegah rambutnya tergerai.


Raisya yang baru pertama kali masuk di rumah Nathan masih menatap asing itu mencari keberadaan dapur. Setelah dia tahu posisi dapur dia langsung melangkah ke ruangan itu.


"Selamat datang nyonya, perkenalkan saya bi Siti pembantu disini." Ucap bi Siti memperkenalkan diri.


"Oh iya. Perkenalkan saya Raisya bi. Jangan panggil saya nyonya! Panggil saya Raisya saja!"


"Mana berani nyonya. Bagaimana nanti tuan Nathan akan marah jika bibi tidak sopan." Bi Siti sangat takut kalau Nathan marah mengingat dulu Nathan sering kasar.


"He terserah bibi aja. Oh iya bi aku mau masak nasi goreng. Michel pengen dimasakin nasi goreng." Raisya sudah siap-siap mengeksekusi apa yang ada di dapur.


"Wah jangan nyonya. Nanti tuan marah. Biar kami buatkan saja. Nyonya duduk saja di ruang makan. Makanan sudah siap di meja makan nyonya."


"Michel mau bunda yang bikinin. Tidak mau bi Siti!" Tolak Michel yang mengerutkan bibirnya.


Bi Siti tak mau berdebat dengan Michel. Dia akhirnya mundur.


Raisya mulai mencari bahan-bahan nasi goreng lalu mengiris bahan dan menumisnya. Seketika bau terasi mulai menyebar di rumah besar itu.


Nathan yang ada di ruangan kerja langsung mengendus bau aneh yang belum pernah diciumnya.


"Bau apa ini?" Nathan bangkit dari kursi lalu berjalan ke dapur.

__ADS_1


"Kamu masak apa sih, baunya benar-benar seperti bangkai?" Nathan rupanya agak terganggu dengan bau terasi yang sudah Raisya goreng.


__ADS_2