
"Makanan darimana ini Aisyah?" Raisya melihat beberapa makanan yang baru saja dituangkan ke dalam wadah-wadah.
"Pesanan mbak." Aisyah semakin sulit untuk berbohong. Semakin banyak pemberian Jacky semakin banyak Aisyah dan Anwar berbohong untuk menutupi rahasia.
"Sayang.. kalian selalu pesan makanan dari luar padahal mbak bisa memasak." Raisya menyayangkan begitu banyak makanan yang datang dan Raisya tahu itu bukan dari restoran biasa. Pastinya ada rasa ada harga.
"Gak pa-pa mbak.. sekali-sekali memanjakan diri gak pa-pa." Aisyah mengurut dada ada rasa yang bertentangan dengan hati nuraninya.
"Mmm.. tapi mbak jadi gak enak nih! Masa udah tiga hari ini kalian selalu pesan makanan. Apa itu tidak pemborosan?" Raisya tak ingin pasangan suami istri itu demi memanjakan dirinya harus mengeluarkan keuangan yang cukup besar.
"Gak lah mbak.. InsyaAllah." Aisyah memang tidak kerugian sepeser pun. Malah dia kebanjiran rejeki sejak Raisya tinggal bersama mereka. Makanan selalu melimpah karena dikirim Jacky setiap hari. Ada perasaan bersalah yang besar dalam hati Jacky pada Raisya. Begitupun dengan rasa rindu yang terus saja dia simpan. Jacky tak bisa sehari saja tak melihat Raisya. Dia selalu mengikuti kurir pengiriman makanan agar bisa melihat wajah Raisya, meski dari kejauhan.
"Kalian memang lagi dapat bonus? Sebaiknya kalian tabungkan! Jangan kalian hambur-hamburkan seperti ini!" Raisya kembali berucap menasehati Aisyah.
"Iya mbak.. alhamdulillah ada rejeki." Jawab Aisyah meyakinkan Raisya agar tidak khawatir pada keduanya.
"Maaf ya.. mbak jadi ikut campur mengatur kalian. Mbak cuman tak ingin keberadaan mbak merugikan kalian." Raisya mengusap punggung Aisyah yang sudah duduk di meja makan.
"Gak mbak.. aku sama mas Anwar malah senang. Kami serasa mempunyai saudara. Bisa mbak bayangan kami sejak kecil tidak pernah mempunyai saudara. Jadi begitu ketemu mbak seperti menemukan kakak dalam hidup kami." Aisyah tersenyum bahagia sambil melihat Raisya.
Raisya tersenyum membalas Aisyah. Dia pun merasa senang memiliki teman yang baik seperti Aisyah juga Anwar.
"Oh iya.. mbak mulai besok mau berangkat kerja. Kebetulan mbak kemarin melamar kerja lewat online di bagian keuangan. Ada perusahaan batubara yang membutuhkan tenaga kerja di bagian keuangan. Besok mbak mau wawancara, doakan semoga mbak diterima bekerja." Ucap Raisya memberi kabar baik pada Aisyah.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. aku ikut senang mbak. Semoga mbak diterima kerja dan mendapatkan bos yang baik dan juga teman-teman kerja yang baik." Aisyah ikut bahagia mendengar kabar Raisya ada panggilan kerja.
"Iya aamiin." Jawab Raisya. Sekarang Raisya sudah pulih dan dia memutuskan untuk melamar kerja untuk menopang biaya hidupnya ke depan. Raisya tak bisa berdiam diri dan hanya menghabiskan uang warisannya. Dia juga harus ada kegiatan untuk mengolah hati dan pikirannya agar tidak tertuju pada masalahnya dengan Jacky juga dengan yang lainnya. Dia harus bangkit membangun mental positifnya demi kesehatan juga masa depannya. Selama ini dia terlalu banyak mengalah dan terlalu lemah untuk berdiri. Mulai saat ini dia bertekad ingin membangun karir dan masa depannya.
"Ayo mbak kita makan!" Ajak Aisyah pada Raisya. Hari-hari biasa anak-anak akan berada di kediaman tuan Robert sedang hari libur dan week and akan bersama Raisya. Meski Raisya meminta anaknya full tinggal bersamanya tuan Robert tidak mengizinkannya. Alasannya karena Raisya tidak mampu untuk menjaga anak-anak karena kondisinya yang lemah.
"Baik." Raisya pun duduk bersama Aisyah menikmati aneka makanan berkelas yang dikirim kurir atas perintah Jacky.
Mereka berdua pun makan tenang dan menikmati lezatnya masakan ala koki handal dan berkelas.
Raisya juga sudah berkonsultasi dengan pengacara agar bisa mendapatkan hak asuh, tapi untuk mengajukan ke pengadilan kemungkinan menangnya tipis. Akhirnya Raisya berbicara secara kekeluargaan dengan tuan Robert mengenai hak asuh Arsel, maka diputuskan kalau Arsel tetap harus tinggal di mansion tuan Robert dan ketika libur diperkenankan tinggal bersama Raisya.
Raisya pun tak lupa mengurus semua surat cerainya yang memang harus diselesaikannya. Cepat dan lambat masalah pernikahan akan dituntut kejelasan. Maka Raisya pun bertekad untuk menyelesaikannya di pengadilan. Dan putusan pun akhirnya keluar, bahwa Jacky dan Raisya resmi bercerai.
Waktu wawancara pun tiba. Penampilan Raisya begitu menarik. Raisya telah mengubah penampilannya menjadi seorang perempuan fashionable. Dengan memakai kemeja putih berumbe di sekitar dada dan rok model umbrella bergaris dengan panjang sampai betis membuat penampilan Raisya terlihat energik. Sepatu high heels nya yang nampak dipadu padankan dengan stoking warna kulit menambah kakinya terlihat jenjang.
"Silahkan bu Raisya! Tuan Baron sudah menunggu di ruangan." Ucap sang sekertaris memanggil Raisya.
Raisya pun melangkah dengan percaya diri masuk ke dalam ruangan direktur utama PT. Sentosa Jaya yang bergerak di bidang ekspor import batubara.
"Selamat pagi." Ucap Raisya begitu masuk ke dalam ruangan direktur utama. Ruangan yang teramat tinggi untuk dicapai oleh karyawan biasa, tapi tidak dengan Raisya yang kini sedang melamar sebagai karyawan sebagai tenaga kerja yang ahli di bidang keuangan.
Wangi dan aura kepimpinan begitu kuat terasa begitu Raisya sampai di ruangan itu setelah diantar sang sekertaris.
__ADS_1
Tuan Baron terlihat duduk di kursi kebesarannya dan sedang memeriksa berkas lamaran Raisya.
"Duduklah!" Suara bariton yang terdengar bergema juga berwibawa membuat Raisya agak sedikit deg-degan.
"Silahkan duduk!" Tuan Baron menyuruh Raisya duduk di hadapannya. Dia meneliti dari atas sampai bawah penampilan Raisya. Lalu pandangannya kembali pada berkas lamarannya.
"Pengalaman anda lumayan lama bekerja. Lalu kenapa anda berhenti?" Pertanyaan pertama mulai diajukan oleh sang pemilik perusahaan.
"Saya menikah dan hamil. Jadi saya memutuskan untuk berhenti bekerja." Ucap Raisya jujur.
"Lalu kenapa sekarang anda melamar kembali?" Pertanyaan kedua dilayangkan pada Raisya. Secara akademik dan pengalaman Raisya mempunyai prestasi baik. Tapi sang pemilik ingin mengetahui kenapa Raisya melamar kembali untuk bekerja.
"Saya membutuhkan pekerjaan dan penghasilan pak." Jawab Raisya tegas.
Tuan Baron melihat pada status Raisya yang tidak menikah di kolom lamarannya. Sedangkan tadi alasannya keluar kerja adalah karena menikah dan mempunyai anak.
"Disini tertera anda tidak menikah. Sedangkan tadi alasan anda keluar kerja karena menikah. Maksudnya bagaimana?" Tuan Baron dengan sangat hati-hati mempertanyakan status Raisya sekarang.
"Saya janda ditingal mati pak." Jawab Raisya menjawab status pernikahan dengan Nathan bukan dengan Jacky, karena ini menyangkut anak.
"Mmm.. begitu. Maaf kalau saya mempertanyakan hal ini lebih detail, karena saya membutuhkan karyawan yang bisa tugas keluar tidak hanya diam di kantor. Lalu bagaimana kalau nanti anda ditugaskan keluar? Apakah anda sanggup? Lalu dengan anda sendiri bagaimana?" Tanya tuan Baron lebih dalam. Karena dia tak ingin memperkerjakan karyawan yang kerjanya setengah-setengah berhubung ada beberapa anak cabang perusahaan yang tempatnya di luar kota dan pulau.
"Saya siap ditugaskan pak. Putra saya kebetulan tinggal dengan mertua." Jawab Raisya tegas.
__ADS_1