
"Ngapain juga sih dia ada di sini?" Raisya agak kerung melihat keberadaan Nathan yang berada di dekat meja pesanan mereka.
"Sya... " Ratna memanggil Raisya karena sejak keberadaan Nathan duduk dengan meja pesanan mereka, Raisya nampak murung.
"Apa?" Nada Raisya terdengar kesal.
"Kamu marah?" Ratna berusaha menghibur Raisya agar tidak murung.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Kok tidak wajahnya cemberut?"
"Ih.. ngapain sih kamu, orang gak marah juga." Raisa sengaja menggeser bangkunya karena sejak tadi sorot mata Nathan tak lepas melihat Raisya.
"Mmm.. kaya pms an aja." Ratna berdiri menyusul Irwan ke tempat permainan mengawasi anak-anak setelah tadi memesan.
"Eh elu kemana sih Rat?" Raisya melongo melihat Ratna meninggalkan Raisya sendirian. Entah unsur sengaja atau apa, yang jelas dia telah memberikan peluang bagi Nathan.
Melihat peluang, Nathan tidak membiarkan kesempatan itu sia-sia. Dia berdiri lalu duduk di samping Raisya.
"Sya.. "
'Ya Allah.. kamu ngagetin aja! Ngapain sih duduk disitu?" Raisya yang sedang memunggungi Nathan langsung membalikkan badan karena terkejut mendengar Nathan memanggilnya.
"Aku.. mau bicara dulu sama kamu. Bolehkan?" Nathan menatap Raisya dengan sejuta rasa yang sedang berkumpul di hatinya.
Hening
Raisya tak menjawab apapun. Dia melihat kesembarang arah tanpa mau melihat pada Nathan yang akan bicara padanya.
"Sya... aku minta maaf ya..." Lirih Nathan.
Masih mode diam tak menanggapi apapun.
__ADS_1
"Terima kasih ya Sya.. kamu mau menerima Michel." Meski Nathan melihat Raisya mengacuhkannya dia tidak mau membuang kesempatan untuk melepaskan satu persatu yang ada dalam hatinya.
Raisya pura-pura menulikan diri, dia tak mau terpengaruh dengan omongan Nathan.
"Sya.. anak kamu cakep ya! Selamat ya! Maaf aku tak bisa datang ke acara nikahan kamu." Ucap Nathan pura-pura tegar, padahal hatinya begitu sakit. Apalagi setelah mendengar kenyataan bahwa Raisya tidak meninggal dan pura-pura sudah meninggal membuatnya setengah prustasi telah menyakiti Raisya dan menceraikannya. Andaikan dia tahu waktu itu yang menikah dengannya adalah Raisya yang pernah dicintainya, sudah barang tentu dia akan membuka hatinya dengan lebar ketika Raisya memberinya kesempatan menikah dengannya.
...Modus......
Raisya hanya mengumpat dalam hatinya. Dia masih ingat betul bagaimana cara Nathan waktu itu berbuat kasar dan memperlakukan Raisya dengan kejam
"Sya.. suami kamu tidak apa-apa kalau Michel tinggal dengan kamu?" Nathan masih mengira Raisya mempunyai suami.
"Lah.. masih mending Michel tinggal sama aku, daripada dia akan menerima siksaan seperti aku dulu." Ketus Raisya.
"Iya Sya.. maaf.. kamu boleh marah sama aku, bahkan kamu berhak melakukan balasan padaku agar dosa-dosa aku berkurang." Nathan mengerti dengan sikap Raisya seperti itu. Dia bahkan saat ini sangat malu dan tidak tahu harus bagaimana untuk menebus kesalahan.
"Terus kalau aku marah apa akan menghapus masa lalu?" Raisya melihat Nathan. Netra keduanya beradu tanpa bisa menghindar. Entahlah ada rasa yang tiba-tiba saja masuk ke dalam jiwa keduanya setelah sekian lama mereka tidak saling bertemu.
"Iya aku tahu. Perbuatan aku tak bisa dimaafkan. Tapi.. aku.. selalu mencintaimu Sya, walaupun cara aku mencintaimu memang salah. Aku bersyukur pada Tuhan, masih mempertemukan aku sama kamu walau kamu sudah jadi milik orang lain." Nada bicara Nathan terdengar sendu.
"Hah.. cinta? Yang seperti itu kamu bilang cinta. Dasar gila." Ingin sekali sebenarnya Raisya mencakar wajah tampan Nathan yang saat ini ada di sampingnya mengingat perlakuan dia yang benar-benar kejam.
'Iya Sya.. aku akui aku memang gila. Gila terlalu mencintai apa yang menjadi milikku dan terkadang aku juga membenci diriku yang seperti ini. Aku.. juga tak mau aku seperti ini Sya.. Aku ingin hidup normal seperti kalian." Ucap Nathan yang menyadari dirinya mempunyai gangguan emosional.
"Kalau sadar diri, ngapain juga masih deket-deket? Apa mau mengulang lagi? Lalu setelah itu menyesalinya tanpa ada perubahan sama diri kamu yang psikopat." Raisya yang sudah beberapa kaki berkasus dengan Nathan hafal betul sikapnya seperti apa. Dia tak ingin Nathan akan mengulanginya kembali jika dia memberikan kesempatan.
"Iya.. aku ingin bicara sama kamu secara baik-baik. Aku ingin mulai berubah Sya... tolong bantu aku.. please.. " Nathan memohon dengan segenap hatinya agar Raisya mau memaafkan kesalahannya dan memulai hubungan baik dengannya. Apalagi Michel berada dengan Raisya sekarang.
"Bicara itu gampang, yang susah itu mengubahnya."
"Iya Sya.. kamu benar. Namun tidak salah. Yang salah itu aku Sya.. " Nathan menunduk.
Hening
__ADS_1
"Sya.. aku boleh ya kapan-kapan ingin ketemu Michel di rumah kamu? Aku tidak bisa hidup tanpa dia Sya... " Tanpa disadari Raisya Nathan sudah meneteskan air matanya.
"Hei.. makanan sudah datang nih!" Raisya pura-pura tuli. Apalagi kedatangan pelayan membawakan banyak makana menjadikan kesempatan bagi Raisya untuk mengakhiri pembicaraan dengan Nathan.
Irwan langsung menggendong Arsel diikuti Ratna, sikembar juga Michel di belakangnya lalu berjalan mendekati meja yang sudah mereka booking.
Michel yang sejak tadi memperhatikan ayahnya dari jauh, merasa sedih melihat wajah Nathan yangs sedikit kacau.
"Yah.. ayo anak papa semuanya duduk dengan baik. Kita akan makan. Setelah duduk yang baik kita berdoa dulu ya!" Nathan mendudukkan Arsel di dekatnya. Sedangakan si kembar duduk dekat Ratna.
"Hore... chicken katsu.. " Ketiga bocah itu berjingkrak gembira melihat makanan kesukaannya sudah tertata di meja.
"Aku permisi dulu ya!" Nathan berdiri hendak pindah dan kembali ke kursi semula dia duduk.
"Pak Nathan.. duduklah! Kita akan makan bersama. Kita akan merayakan hari baik ini bersama-sama. Tak ada yang boleh bersedih lagi ya!" Irwan tahu bagaimana perasaan Nathan saat ini. Meski di sering berisiko kejam, tapi Irwan tak mau jika dia harus membuat orang lain menderita.
"Saya disana saja." Nathan tak ingin mengganggu suasana gembira mereka
"Dad... daddy duduk saja disini!" Akhirnya Michel menyuruh ayahnya duduk bersama karena dia tahu pastinya ayahnya saat ini telah menderita banyak.
"Kamu tidak keberatan daddy duduk disini Michel?" Nathan tampak berbinar melihat sikap Michel yang baik.
Michel menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih semuanya." Nathan duduk kembali di dekat Raisya dia sangat senang mendapatkan perlakuan baik dari Michel juga Irwan.
"Papa.. om itu ciapa? Teman papa?" Arsel yang merasa asing bertanya pada Irwan tentang siapa Nathan.
Irwan menelan salivanya. Berat sekali untuk berbohong ataupun jujur pada anak sekecil Arsel.
"Iya sayang. Dia bos ayah di kantor." Irwan tidak ingin mengecewakan semuanya.
"Oh.. bos papa.. " Arsel mengangguk.
__ADS_1