
"Bodoh?" Kata yang meluncur tanpa kendali itu menghujam kalbu yang masih sangat rapuh, rasanya sangat sakit. Begitu menusuk.
Entah kenapa jika datangnya dalam posisi lemah, rasanya seperti busur panah yang menghujam ke dada.
Jlebb
Raisya ingin menyangkal. Karena baju yang dibawanya tidaklah banyak. Bukannya bodoh ataupun budeg, tapi memang dia bingung harus mengganti dengan yanga mana lagi. Kalaupun ada, baju-baju dalam kopernya itu memang minim bahan semua.
Tak bisa dipungkiri kehidupan Raisya paska koma ada dalam asuhan Peter. Gaya hidup ala barat dan memang jauh dari adat ketimuran. Jadi Raisya menganggap kalau pakaian model itu sah-sah saja kalau dipakainya di rumah. Bahkan dia sering memakai jika sedang di Amerika.
Lalu apanya yang tidak berkelas? Raisya masih bingung. Standar pakaian rumahan berkelas menurut Nathan seperti apa? Dia pun benar-benar tak tahu persisnya seperti apa.
"Pakaian itu pantasnya dipakai para perempuan penggoda. Atau kamu memang senang dengan penampilan murahan itu?" Mungkin sekarang Nathan sedang membandingkan kebiasaan Raisya dahulu, dengan Raisya yang sekarang. Dia bicara datar sambil mengunyah nasi juga daging sop buntut yang sudah dimasak dengan empuk tanpa peka bahwa kalimat yang diucapkannya menyakiti Raisya.
"Baik. Maaf kalau kamu tergoda dengan pakaian ini. Kalau pun iya, bukankah kamu suamiku?" Raisya membalikkan badan tidak mau banyak berdebat dengan Nathan dan kembali masuk ke kamar Michel.
Sekarang sedikit demi sedikit dia tahu perangai laki-laki itu. Rasanya tak perlu juga melayaninya yang semakin membuang energi positif dalam diri Raisya. Kalau bukan permintaan Sarah mana mau dia menikah dengan laki-laki absurd.
"Bi Siti.. " Nathan memanggik bi Siti yang sudah masuk kembali setelah tadi membuang bumbu tumisan bawang dan terasi di halaman belakang, tepatnya di tanah kosong yang banyak pepohonan.
"Iya tuan." Bi Siti tak mau kena marah, langsung menghampiri Nathan.
"Periksa pakaian nyonya! Buang semua yang dibawanya!"
Bi Siti yang mendapatkan perintah dari majikannya tak serta merta melakukannya. Dia malah mematung bingung.
"Kamu dengar?" Nathan menoleh ke arah bi Siti.
"Iy iya tuan." Suaranya terdengar gagap. Bi Siti bukannya tidak mau melakukan hal itu tapi.. bagaimana dengan perasaan nyonya? Dia pastinya serba salah. Tapi kalau tidak dilaksanakan, bi Siti sudah tahu konsekuensinya.
Bi Siti berjalan perlahan masuk ke kamar Michel. Dilihat nya Raisya yang sedang mengutak-atik handphone nya sambil tidur-tiduran di kasur.
Bi Siti dengan berat hati dia bicara.
"Maaf nyonya.. saya... diperintahkan tuan untuk membawa baju-baju nyonya." Bi Siti tertunduk sambil menggaruk-garuk tak gatal.
Raisya yang sedang tidur-tiduran di kasur bangkit mendekati bi Siti.
__ADS_1
"Maksudnya apa bi?"
"Iya.. barusan bibi disuruh pak Nathan untuk membawa baju-baju nyonya." Kentara sekali Bi Siti ketakutan pada si mpunya barang. Dia tak berani mengangkat wajahnya saat bicara pada Raisya,
"Ambil saja bi! Tuh di lemari. Baju saya tidak banyak. Tapi.. sebentar! Maksudnya baju saya diambil mau dipindahkan?" Raisya tidak tahu maksud dari Nathan mengambil baju-bajunya.
"Hmmm... gimana ya nyonya?" Bi Siti agak bingung menyampaikan perintah Nathan.
"Biar aku bantu kalau mau dipindahkan!" Raisya berdiri dari ranjang.
"Maaf nyonya! Jangan salahkan saya! Bi Siti langsung melipat lututnya memohon ampun. bersimpuh tunduk di bawah lantai.
"E Eh.. kenapa bi? Bangun, jangan begini!" Raisya menarik bahu Bi Siti agar berdiri. Dia tidak mau bi Siti bersikap begitu.
"Maafkan bibi.. bibi hanya disuruh untuk membuang baju nyonya." Dilihat sekilas wajah bi Siti seperti mau menangis karena takut disalahkan dari sana sini. Beginilah nasib kaum lemah yang berprofesi sebagai babu.
"Apa?? Dibuang?? Maksudnya apa? Kalau baju saya dibuang saya mau memakai apa?" Raisya tak habis pikir dengan sikap Nathan yang arogan. Padahal dia bisa saja bicara baik-baik dengannya tak perlu sekasar itu dalam bertindak. Raisya langsung melangkahkan kakinya dengan membawa kekesalannya dan menghampiri Nathan yang hampir selesai makan.
"Apa maksud kamu membuang pakaian-pakaian aku? Kalau dibuang aku mau memakai apa?" Raisya dengan wajah memerah melayangkan protesnya.
"Seharusnya kamu bicara baik-baik. Apa perlu aku diperlakukan di rumah ini seperti itu? Kalau kamu tidak suka dengan pakaianku, silahkan buang saja! Tapi aku harus memakai apa?" Raisya yang tadinya tidak mau bertengkar akhirnya terpancing untuk ribut. Dia mengepalkan tangannya menhan kesal.
Belum sempat menjawab, Reza muncul bersama beberapa orang yang akan merenovasi kamar Michel.
"Maaf Pak Nathan." Suaranya menggantung di udara begitu Nathan memberi isyarat.
"Masuk ke toilet!" Bentak Nathan memekakkan telinga Raisya.
"Cepat masuk!" Lagi-lagi dia menaikan volume bicaranya. Hampir saja jantung Raisya beepindah tempat, kaget.
Raisya melangkah masuk ke dalam toilet yang tak jauh berada di dekat ruang makan meski dia tidak mempunyai hajat.
Semua mata mengikuti langkah Raisya pergi.
Sejak orang asing itu masuk, Nathan melihat dua orang laki-laki di belakang Reza menatap inten pada Raisya. Mungkin terpesona dengan pemandangan indah yang dipamerkan Raisya atau ada hal lain yang memang mengundang laki-laki untuk ikut menikmati keindahan tubuhnya.
Maka dari itu Nathan tak ingin Raisya memakai baju yang terbuka seperti tadi karena beginilah yang dia takutkan
__ADS_1
Setelah Raisya masuk, Reza melanjutkan bicaranya.
"Pak ini konsultan yang mau merenovasi kamar Michel!"
"Apa Kabar pak Nathan, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Rio yang sudah lama tidak bertemu Nathan. Terakhir kali dia menyewa jasa interior untuk renovasi kantornya waktu itu.
"Baik, pak Rio." Mereka berjabat tangan.
"Mari kita langsung saja ke kamar Michel." Ajak Nathan pada Rio.
"Bi Siti keluar dulu!" Ucap Nathan yang menyuruh bi Siti yang sedang memilah baju Raisya.
"Baik." Bi Siti pun membawa baju-baju yang akan dibuang.
"Sssttt.. " Raisya melongokkan kepalanya dari balik pintu toilet.
"Sini!" Raisya memanggil bi Sitt.
"Iya nyonya!" Bi Siti menghampiri Raisya.
"Simpan baju itu di kamar bibi! Nanti aku ke kamar bibi kalau waktunya aman."
"Tapi.. "
"Sudah sana! Keburu ketahuan." Raisya menutup kembali pintu toilet.
"Kak.. " Raisya menelpon Sarah.
"Iya Sya!
"Belikan baju lagi! Tapi bajunya jangan yang pendek-pendek!" Pinta Raisya.
"Baju apa Sya?"
"Baju untuk di rumah. Tadi Nathan marah sama aku! Katanya bajunya tidak berkelas." Adu Raisya pada Sarah.
"Ha ha.. sudah kakak katakan waktu itu, jangan memakai baju seksi!"
__ADS_1