
Michel menatap bingung. Sebentar melihat Nathan sebentar melihat Raisya. Kakinya yang kecil menggemaskan melangkah perlahan lalu berhenti di depan Raisya. Dia mendongak ke atas melihat perempuan yang baru saja memberikan pilihan.
Tangannya memeluk kaki Raisya dan dia membenamkan wajahnya di kaki jenjang perempuan yang baru saja memberikan kehangatan padanya.
"Jadi Michel mau pilih tante?" Raisya menatap ke bawah kembali memberikan pilihan itu pada Michel. Kini Michel hanya jadi korban ke egoisan orang dewasa yang ada di depannya.
Kepalanya mengangguk tapi tidak berani menatap keduanya. Dia tetap membenamkan kepalanya di kaki Raisya.
"Kalau Michel memilih tante katakan pada daddy Michel, jangan suka berbuat semena-mena!" Raisya mengambil kesempatan ini untuk menekan dua orang yang telah membuat hatinya berantakan.
Michel hanya merenggut. Pikiran bocah yang tak tahu dosa apa-apa sedang mencerna isi pembicaraan Raisya.
Michel melonggarkan tangannya lalu melepaskan pelukannya dari kaki Raisya yang masih berdiri. Dia berjalan perlahan dengan langkah malas. Wajahnya ditekuk. Matanya menyimpan sesuatu yang tak disukainya. Dia melihat Nathan dengan bibir manyun, marah. Lalu menutup pintu kamar dengan tangannya yang memaksa Nathan mundur ke belakang.
"Sial... wanita itu sudah mengendalikan Michel untuk berani melawanku." Nathan menggerutu.
"Aku mau bobo... " Rengek Michel setelah melakukan aksinya.
Raisya hanya mengangguk dan menuntun tangan mungil Michel ke atas ranjang lalu kembali mendekapnya. Anak itu seperti menemukan sarangnya. Dia menyusup ke dada Raisya lalu meringkuk seperti bayi.
Keduanya melanjutkan tidurnya dengan tenang.
Sedangkan Nathan merasa gondok setelah mendapatkan perlakuan Michel karena memihak Raisya.
Semua pelayan sedang menatap Nathan. Tadi mereka bangun karena suara Michel dan disusul suara Nathan yang berteriak kencang.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Mata Nathan menyorot tajam sedang menunjukkan rasa tak senangnya pada mereka yang sedang menonton kejadian barusan.
"Tidak pak!" Nyali mereka langsung menciut. Dan mereka saling menarik tangan mengajak kawannya untuk kembali ke kamarnya masing-masing.
Nathan naik ke kamarnya di lantai 2. Lalu masuk ke kamarnya. Dia tak pantas tidur malah membawa benda pipih mengetikkan sesuatu pada Reza.
"Baik. Kalau kamu ingin menguasai Michel, makan kamu mesti mengikuti rencanaku." Geram Nathan yang tak menerima dirinya diperlakukan seperti tadi. Harga dirinya seolah jatuh ketika dibandingkan lalu dia kalah.
Setelah shalat subuh, seperti kebiasaannya Raisya berdzikir lalu meminta ampunan pada Allah SWT yang telah berbuat dosa bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Ini adalah hal pertama yang dilakukan Raisya melanggar prinsip yang dia anut. Dia sangat menyesal karena kelalaian telah membayangkan seseorang sampai terbawa mimpi.
Raisya membuka tasnya dan membuka mushaf yang selalu dibawanya kemana-mana, terkecuali ke tempat yang dilarang untuk membawanya seperti toilet.
Raisya mulai membuka mushaf lalu membacanya dengan merdu. Suara itu mengalun indah membuat siapapun yang mendengarnya merasa damai.
__ADS_1
"Tante sedang baca apa?" Michel langsung duduk dipangkuan Raisya dengan rambut yang masih menyembul.
"Al-quran." Jawab Raisya pendek.
"Michel mau."
"Boleh. Tapi harus ambil wudlu dulu."
"Kenapa?" Dia membalikkan badannya menatap Raisya.
"Untuk membaca Al-Quran tubuh kita harus suci. Itu sebagai adab kita membaca ayat-ayat Allah SWT. Kalau Michel pergi ke sekolah kan baiknya harus mandi dulu ya? Coba kalau perginya kaya gini?" Raisya mengangkat sebagian rambut Michel yang mengambil lalu hidungnya didekatkan ke pundak Michel sambil digesek-gesek.
"Mmm bau acemmm." Bisik Raisya pada telinga Michel.
"Hi Hi Hi.. " Michel tertawa terkekeh merasa geli hidung Raisya mengenai punggung dan tengkuk Michel.
"Sekarang Michel mandi sama mbak Ina ya! Tante juga mau siap-siap bekerja."
Michel mengangguk. Dia berdiri lalu keluar kamar nya mencari Ina.
Raisya menyudahi aktifitas paginya lalu mandi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang kemarin dipakainya.
"Wah Michel.. sudah cantik ya!" Raisya memuji Michel yang sudah rapih dengan harum parfum khusus untuk anak kecil. Rambutnya yang dikuncir dua menambah kelucuan wajahnya yang imut.
"Ayo tante.. " Michel langsung memegang tangan Raisya menuntun ke meja makan.
Di meja makan sudah terhidang beberapa buah, susu, juga roti sandwich. Raisya yang biasa makan nasi agak mengedarkan matanya untuk mencari sarapan yang berbau nasi.
Ina yang melihat Raisya tidak segera mengambil roti ataupun buah langsung menawarkan sesuatu.
"Bu Raisya mau nasi goreng?" Ina langsung menerka apa yang sedang dicari Raisya.
"Boleh." Jawab Raisya dengan senang.
"Sebentar saya ambilkan!" Ina langsung ke belakang menyuruh pelayan untuk membawa nasi goreng yang biasa dibuat untuk para pelayan.
"Terimakasih mbak Ina!" ucap Raisya.
"Sama-sama."
__ADS_1
Raisya langsung menikmati suapan demi suapan nasi goreng yang telah dibawakan Ina dari dapur.
Nathan turun dari kamarnya sudah siap dengan penampilan terbaiknya. Stelan jas warna biru benhur dipadu dengan kemeja warna lebih muda dengan dasi garis corak simetris nampak serasi. Aroma parfum maskulin yang kuat segera menyebar di seluruh ruangan.
Nathan langsung duduk di meja makan. Matanya melihat piring yang sedang disiduk Raisya.
"Mmm.. selera pelayan." Nathan mengomentari Raisya tentang selera makannya.
Raisya yang merasa sedan disindir matanya langsung menyorot tajam.
"Bisa tidak bicara yang baik? Apalagi di depan anakmu sendiri." Raisya tak bisa diam mendengar sindiran berupa penghinaan.
Michel yang sedang sarapan satu meja melihat silih berganti. Sebentar pada Raisya sebentar pada Nathan.
"Selamat pagi pak Nathan." Reza datang lebih pagi sesuai permintaan Nathan tadi malam. Dia membawa beberapa paper bag.
"Pagi bu Raisya!" Reza agak heran melihat keberadaan Raisya yang pagi-pagi sudah ada di rumah bosnya.
"Pagi pak Reza." Jawab Raisya.
Nathan melihat pada Reza lalu beralih pada apa yang dibawanya.
"Berikan pada dia! Agar tak terlihat kampungan." Ucap Nathan yang menilai baju Raisya terlalu sederhana untuk ukuran pekerja kantoran.
"Baik pak!" Reza memberikan paper bag itu di samping kursi Raisya.
"Saya permisi menunggu di depan." Reza langsung meninggalkan ruang makan dan menunggu di depan.
"Pakai cepat! Aku tak suka menunggu!" Nathan langsung berdiri meninggalkan meja makan.
Raisya melihat ada dua paper bag yang disimpan Reza. Lalu mengambil keduanya melihat isinya.
Mmmh dia membawakan baju ganti buatku. Apa. maksudnya aku kampungan? Emang dia perkotaan? Eh dasar angkot!
Raisya hanya bisa merutuk dalam hatinya. Dia langsung ke kamar Michel dan mengganti bajunya dengan pakaian juga sepatu yang dibawa Reza.
"Wah.. tante cantikkk... " Michel terlihat gembira begitu Raisya keluar dari kamar sudah siap berangkat.
"Ayo Michel kita berangkat!"
__ADS_1
Nah teman-teman ini ada nover karya teman saya. Isinya bagus. Kamu bisa mampir ya di novelnya. Jangan lupa kasih like ya readers βΊππ₯°π