Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
isi hati


__ADS_3

"Jangan pura-pura Sarah!" Adam berdiri lalu mendekati Sarah yang ada di depan kulkas dan mendorongnya sehingga kepala Sarah terbentur di area bidang kulkas.


"Kamu pikir aku tak tahu apa yang sedang kamu sembunyikan hah?" Suara Adam membuat Sarah memejamkan matanya dan telinganya berdenging.


"Sengaja kamu tidur di apartemen agar kamu bisa membawanya kesini dan melakukannya dengan tenang tanpa gangguan." Adam terus menerus menyerang Sarah. Wajahnya kini sudah tak ada jarak antara Adam dan Sarah. Bahkan kening Adam sudah menempel di keningnya Sarah. Lalu Adam mengangkat kepalanya sambil mengusap bagian wajahnya dengan kasar.


Sarah hanya terdiam tidak mau melayani suaminya yang sedang dibakar amarah.


"Oh jadi ini rencanamu membuka alat kontrasepsi? Agar kamu bisa hamil dari dia? Begitu? Menjijikkan!" Lidah Adam penuh kata-kata pedas yang tak berdasar.


"Jawab!" Adam membentak Sarah.


Sarah terkejut tangannya bergetar hebat. Bibirnya tak mampu berkata-kata. Lisannya begitu kelu untuk sekedar mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Buliran air bening saling menyusul jatuh menjawab apa yang sedang dia rasakan membasahi pipinya yang putih dan mulus.


Sarah hanya diam membuat amarah Adam bertambah naik ke ubun-ubun. Tanpa sadar Adam telah mendorong tubuh Sarah yang ramping sampai terhuyung dan kehilangan keseimbangan sehingga membentur ujung kitchen set.


"Aww.. " Sarah meringis kesakitan. Tangannya meraba area kening yang terkena benturan.


Cairan merah segera keluar dari keningnya dan membasahi telapak tangan Sarah. Mata Sarah hanya melongo melihat cairan merah itu luruh. Alisnya terasa geli begitu cairan itu meleleh terus mencari daerah yang lebih rendah. Sarah menyekanya dengan cepat lalu berdiri di atas kakinya


Adam terhenyak keget begitu melihat darah di wajah istrinya.


"Apa yang mas Adam inginkan hah?" Sarah seolah ada kekuatan untuk melawan Adam.


"Apa kalian sama gilanya satu keluarga yang hanya bisanya menyiksa para perempuan?" Sarah yang biasa bicara lemah lembut. Entahlah darimana datangnya kekuatan yang masuk ke dalam tubuh Sarah sehingga dia bisa bicara keras pada suaminya.


"Sar.. maafin aku Sar! Aku khilaf.. !" Adam menarik lengan Sarah tapi dengan cepat Sarah menipisnya.


Sarah langsung berlari ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Dia meluruhkan badannya di belakang pintu sambil menangis. Bukan karena sakit di keningnya tapi lebih ke sakit di hatinya yang kian menganga melihat sikap suaminya yang tempramental.


Sarah sesenggukan menangis di dalam kamar.


Sementara Adam beberapa kali mengusap mukanya sambil hilir mudik gelisah menyesali atas sikapnya yang kasar.


Sementara itu Hendrik segera menyusul ke kantor Ratna dengan terburu-buru.


Ketika sampai di depan pintu utama Hendrik segara menghentikan mobilnya dan turun dengan tergesa-gesa.


Dia berjalan menuju post satpam.

__ADS_1


"Selamat malam pak! Mohon maaf saya mau bertanya." Ucap Hendrik sambil menatap salah satu satpam yang sedang berjaga dengan serius.


"Iya Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab satpam.


"Tadi ada perempuan yang menunggu disini tidak pak?" Hendrik menatap penuh tanya.


"Oh.. yang rambutnya sepinggang bukan?" Satpam menyebutkan ciri-ciri nya.


"Iya Pak. Itu adik saya. Sekarang dimana dia pak?" Pandangan Hendrik seperti menyelidik. Padahal ruangan post satpam tidak luas juga sangat terbuka tidak ada skat penghalang. Seolah Ratna sedang bersembunyi di sana.


"Tadi sudah dijemput temannya yang perempuan. Malah meminjam sandal saya pak!" Terang satpam.


"Ohh.. kemana pak ya?" Hendrik kebingungan.


"Kenapa tidak ditelepon saja pak?" Saran satpam yang merasa aneh. Di zaman sekarang serba canggih tapi masih ada juga orang yang bingung seperti yang ada di depannya.


"Oh iya ya pak." Hendrik tersipu malu.


Wajah tampan kok otak kurang setrip.


Satpam tadi bermonolog.


"Iya kak. Dia sudah tidur. Mau saya bangunkan? Tapi kayanya baru saja tidur kak, kasian." Raisya melihat Ratna begitu nyenyak tidur beralaskan kasur lantai tanpa AC dan kipas angin.


"Ohh. Ya sudah kalau ada bersama kamu, aman." Hendrik merasa tenang sudah mendengar kabar adiknya yang sudah tertidur.


"Iya kak." Jawab Raisya.


"Kamu belum tidur Sya?" Heran Hendrik.


"Masih mengerjakan pekerjaan kak." Jawab Raisya.


"Kamu mau kakak belikan makanan? Sekalian kakak mau traktir satpam kantor. Disini ada tulang sate madura. Mau?" Tawar Hendrik yang kebetulan melihat kepulan asap tukang sate yang lewat dan menyuruhnya berhenti.


"Gak usah kak. Sudah malam." Tolak Raisya.


"Gak apa-apa kakak antarkan sekarang ya.. sekalian buat makan pagi. Ratna suka sekali makan sate. Kalau bangun dia pasti mau." Hendrik sedang memutar ide agar tahu kostan Raisya. Tadi kata Ratna, Raisya agak keberatan untuk dikunjungi.


"Gak usah kak. Terima kasih. Biar pagi beli nasi uduk aja." Raisya tetap menolak pemberian Hendrik.

__ADS_1


Bukan seorang Hendrik yang tidak cerdik mengakali seorang wanita. Apalagi sekelas Raisya yang mudah terenyuh.


"Ini kakak sudah di depan gang lho!" Bohong Hendrik yang menduga kostan Raisya ada gang nya.


"Lah beneran kak?" Raisya akhirnya tertipu juga.


"Iya. Makanya Sherlock lokasinya biar kakak gak tersesat. Kakak khawatir pengen lihat Ratna dulu. Setelah itu kakak pulang." Pinta Hendrik dengan akal bulusnya.


"Baik kak! Aku sherlock deh!" Raisya langsung mengirim pesan pada Hendrik.


"Yes!!" Hendrik langsung tersenyum senang mendengar Raisya membagi lokasinya.


"Pak ini, Terima kasih ya!" Ucap satpam merasa senang Hendrik sudah membelikan sate serta lontong dari penjual keliling yang kebetulan lewat.


"Sama-sama Pak! Saya ucapkan terimakasih telah menjaga adik saya tadi. Sekarang saya mau menyusul ke kostan temannya pak!" Terang Hendrik dengan sumringah.


"Iya Pak hati-hati!" Satpam memberi hormat begitu Hendrik mengeluarkan mobilnya dan berlalu dari hadapannya.


Hendrik menuju kostan Raisya dan memarkirkan mobilnya dekat warung kopi yang waktu itu Raisya pernah mampir untuk bertanya.


Hendrik berjalan sambil mengamati sekeliling lingkungan yang dilaluinya. Lumayan ramai dan lingkungannya pun tidak terlalu kumuh. Apalagi suasana Jakarta yang ada dipinggiran biasanya rawan dan kumuh.


Sampai juga di depan kostan Raisya. Hendrik menatap aneh melihat petak-petak yang berderet panjang dan sempit. Ditambah penuhnya jemuran tiap kamar seperti pasar kaki lima yang sedang menjajakan dagangannya.


Tok


Tok


Suara ketukan terdengar di daun pintu yang kayunya terbuat tipis sederhana dari kayu murahan.


Raisya segera berdiri lalu membuka pintu.


"Kak Hendrik?" Raisya walaupun sudah tahu akan kedatangan kak Hendrik tapi tetap saja terkejut.


"Aku boleh masuk?" Hendrik yang berdiri di teras kostan memintanya izin masuk.


"Mmm." Raisya bingung.


"Sebentar aja! Kakak langsung pulang kalau sudah lihat Ratna." Rayu Hendrik.

__ADS_1


"Sebentar saja ya!" Ucap Raisya tak nyaman


__ADS_2