
"Jangan kurang ajar!" Dengan nafas tersenggal Raisya meluapkan kemarahannya memarahi Nathan yang sudah melecehkannya.
"Kurang ajar? Kamu sudah berani mengatakan aku kurang ajar? Bilang sekali lagi! Dan sekarang juga layani aku seperti kamu melayani laki-laki lain!" Bentak Nathan sambil mencengkram kerah kemeja Raisya.
"Lepaskan!" Suaranya agak tertahan karena Raisya tercekik. Dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Nathan yang menekan titik inti di lehernya.Tapi nihil. Badannya yang semakin kurus tak mampu melawan tenaga Nathan yang besar. Jangankan untuk memberontak sekedar melonggarkan nafasnya pun Raisya terlalu lemah melawan.
Ya sakit. Bukan hanya raganya yang sakit tapi hatinya sekarang seperti diobrak abrik terlampau dalam diiris luka. Menahan hinaan dan juga cercaan itu biasa. Tapi melukai harga dirinya dengan melecehkan secara seksual itu sudah melanggar batas yang dijaganya selama ini.
Lalu apa salahnya? Kenapa laki-laki yang ada di depannya mampu mengatur, mengintimidasi bahkan melanggar batas benang putih dan hitam kehidupannya. Apa dia perlu sebrutal itu untuk menghukuminya? Atau selama ini Raisya hanya menjadi bahan pelampiasan masa lalunya yang kelam? Sungguh itu benar-benar tidak adil Raisya rasakan. Sampai kapan dan kapan ini akan berakhir?
Padahal selama ini Raisya sudah berjuang untuk banyak hal. Menutupi kesalahan Nathan ketika menyiksanya di rumah sakit. Melecehkan secara seksual ketika di villa. Termasuk hinaan dan tuduhan yang tak berdasar dilontarkan setiap dia merasa tersinggung.
Bening-bening kristal mengalir menganak sungai meleleh di pipinya. Raisya terkulai lemas sambil terisak sedih. Menahan segala sakit dan perih di jiwanya.
"Apakah aku harus mengatakan, ini hari yang menyedihkan?"
Nathan melepaskan cengkramannya begitu melihat Raisya pasrah. Dia tak mungkin melanjutkan kekerasannya di tengah banyaknya orang.
Reza telah selesai membayar tagihannya di cafe lalu berpamitan dengan Beny. Dia berjalan mengitari mobil untuk mengemudi.
Hening.
Sesekali terdengar isakan karena Raisya menaikkan cairan yang ada di hidungnya karena tadi habis menangis. Dia menatap kosong ke arah samping jendela tanpa tahu apa yang sedang dilihatnya. Yang jelas pikiran dan hatinya sedang merasakan sesak.
Begitu pun Nathan, dia tak mau beradu pandang melihat Raisya. Dia memilih mengalihkan pandangannya ke luar untuk menata pikirannya yang sempat keruh.
Reza merasakan ada sesuatu yang terjadi antara Nathan dan Raisya. Dia mengintip dari balik spion depan, untuk melihat keadaan orang yang dibelakang kemudinya.
Kenapa lagi pak Nathan? Apa dia sudah menyakiti Raisya lagi? Gak habis pikir maunya apa?
__ADS_1
Reza menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat sikap atasannya yang selalu arogan.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai Reza bersama Nathan sampai di depan rumah mewahnya. Reza membuka pintu untuk Nathan.
Nathan pun turun dari jok mobilnya melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang.
Dan dari dalam rumah Michel menyambut Nathan dengan senyuman bahagia. Dia berlari menghamburkan diri memeluk Nathan yang sudah satu bulan ini tak ada bersamanya.
"Apa kabar sayang?" Nathan duduk berjongkok menyamakan tinggi dirinya dengan Michel. Lalu memeluk serta menciumi Michel dengan gemas. Rindunya seakan tertumpah setelah satu bulan dia tidak melihat wajah imut Michel yang selalu menjadi candu.
Reza membuka pintu mobil buat Raisya. Dia menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, menangis.
"Bu Raisya.. " Reza memangilnya pelan. Dia menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan. Dia tak tahu harus bagaimana untuk menenangkannya.Hanya rasa kasihani yang disimpan dalam hati tanpa mampu mengekspresikan emosinya langsung. Dia tak mungkin harus melakukan kontak pisik apalagi Nathan begitu posesif pada Raisya. Reza pun dibuat bingung, sebenarnya hubungan mereka itu seperti apa statusnya? Kekasih? Bukan. Istri? Apalagi. Kenapa mereka selalu berseteru dan berakhir dengan drama kesedihan.
Ada rasa keengganan Raisya untuk turun dari jok mobil. Dia tak mampu menata hatinya hari ini. Rasanya terlalu berat untuk dijalani.
"Daddy.. kenapa bunda tidak turun?" Michel melirik ke arah mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya tapi wujud Raisya tak juga muncul.
Nathan tak menjawab.
"Aku mau lihat bunda ah... " Michel melepaskan pelukannya lalu berlari ke luar mencari Raisya.
Michel melihat Reza sedang berdiri di dekat pintu mobil sambil menatap Raisya yang sedang sesenggukan menangis. Raisya seolah menemukan waktu yang tepat untuk menangis lebih kencang setelah selama perjalanan dia menahannya.
"Om Reza.. kenapa bunda?" Michel menatap heran wanita yang sudah dianggapnya spesial. Netranya bolak balik silih berganti melihat Reza dan Raisya.
"Tidak tahu." Reza menjawab seadanya.
"Bunda... " Michel langsung memeluk sebagian tubuh Raisya.a
__ADS_1
Dari Kejauhan Nathan hanya menatap adegan yang tidak bisa jelas dilihat matanya. Tapi bukannya iba malah lagi-lagi keegoisan Nathan lebih mendominasi pikirannya. Dia berjalan mendekati tiga orang yang masih tidak berubah posisi.
"Michel.. lepaskan!" Walaupun pelan suara tegasnya itu terasa menyentuh dalam dada.
Michel melepaskan pelukannya lalu keluar dari pinggiran jok mobil.
"Reza.. gendong dia!" Perintah itu mirip seperti komandan perang menginstruksikan prajuritnya. Reza langsung mengangkat tubuh Michel dalam gendongannya.
Nathan menarik telapak tangan Raisya yang sedang menagkup mukanya. Lalu dengan tenaga super powernya dia menarik paksa dan setengah menyeret ke luar dari mobilnya.
Masih dengan deraian air mata, Raisya mengalah mengikuti langkah Nathan tanpa tahu apa yang sedang direncanakannya.
Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah lalu menaiki anak tangga dan langkahnya berakhir di sebuah kamar mewah miliknya. Dia membawa Raisya masuk dan mengunci kamarnya dengan satu tangan. Dia menghempaskan Raisya ke lantai.
Brukk
"Awww." Spontan mulut Raisya mengaduh merasakan sakit dibagian tubuhnya yang terkena. lantai.
"Ha! Layani aku seperti kamu melayani laki-laki itu!" Sorot mata Nathan mengarah tajam Raisya. Kalau sudah begini Nathan seperti kehilangan akal sehatnya. Pikirannya akan didominasi semua nafsu dan kemarahannya yang membludak.
"Apa maksudmu?" Suara serak Raisya jelas ketakutan. Apalagi Nathan seperti bernafsu melihat Raisya yang duduk lemah di atas lantai.
"Apakah dia melakukan ini?" Tangan kekar Nathan langsung mendekatkan tubuh Raisya dengan menarik pinggangnya merapat. Raisya mendorong dada bidang Nathan, bukan berhasil malah semakin kuat dia menarik.
"Apakah seperti ini?" Nathan malah lebih berani lagi, tangan yang satunya menarik tengkuk Raisya lalu dengan buas me***bibir Raisya dengan kasar. Raisya gelagapan menghadapi aksi Nathan yang brutal.
Raisya mendorong Nathan agar lepas dari bibirnya. Dia tak juga melepaskannya malah semakin memaksa membuka bibirnya dengan menggigit bibirnya bawahnya.
Deraian air mata Raisya semakin deras memenuhi pipinya yang putih.
__ADS_1