Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Anak haram


__ADS_3

"Ma... " Suara Michel mengagetkan keduanya.


"Iya ada apa. sayang?" Raisya melihat ke arah Michel.


"Tukang angkutnya sudah datang." Michel memberitahukan kedatangan tukang angkut yang akan disewa Raisya.


"Oh iya. Suruh tunggu sebentar!" Raisya menatap Ratna yang sedang bersedih.


"Jangan sedih begitu! Kita masih bisa bertemu kan?" Raisya memegang bahu Ratna memberi semangat.


"Mmm." Ratna mengangguk patuh.


"Aku mau berpamitan dulu Rat sama mama dan papa." Raisya ingin perpisahan ini baik-baik saja. Toh dia cuman pindah rumah bukan pindah negara. Dia tak ingin meninggalkan keburukan disisi mata mereka.


"Mama sama papa lagi pergi." Suara Ratna terdengar pelan.


"Oh.. kalau begitu. Aku.. pergi ya Rat." Raisya sepertinya melupakan seseorang yang awalnya ingin Arsel temui.


"Kamu tak ingin berpamitan pada Irwan?" Ratna mengingatkan Raisya.


"Iya.. aku mau. Irwannya lagi tidur tidak Rat? Takutnya dia terganggu." Raisya malu kenapa. bisa dia melupakan Irwan.


"Gak pa-pa.. aku lihat dulu ke kamar." Ratna seperti tidak semangat sekali. Dia turun dari kamar Raisya lalu masuk ke kamarnya.


"Yang.. kamu lagi tidur?" Ratna membangunkannya dengan perlahan.


Irwan mengucek matanya lalu melihat ke arah Ratna.


"Kamu kenapa beb? Menangis?" Irwan melihat mata Ratna agak sembab. Selama ini jarang sekali dia melihat Ratna menangis, bahkan hampir tidak pernah. Itu saking dia bahagia hidup dengan Irwan. Selama ini jarang sekali ada pertengkaran dan kesedihan. Mereka selalu mengisi saling pengertian dan saling menyayangi.


Tapi hal itu jadi berubah. Sejak kepergian Raisya dari rumah itu, Irwan nampak sering murung dan gelisah.


"Mmm.. dikit yang. Di luar ada Raisya. Dia mau pamitan. Dia mau pindahan." Ratna memberitahu Irwan tentang Raisya.


"Apa?? pindah?? Memang dari kemarin kan sudah pindah. Maksudnya pindah sekarang apa?" Irwan meski sedang sakit masih bisa mengingat apa yang sudah lalu terjadi.


"Iya pindahlah.. dia membawa semua barangnya dari kamar." Ratna memberitahukannya.

__ADS_1


"Semua barangnya dibawa? Kenapa?" Irwan ikut kaget.


"Yaitu.. aku juga gak ngerti. Kayanya dia gak bakal balik lagi ke sini." Ratna kembali berderai.


"Raisya.. Arsel.. " Irwan bicara gemetar sambil memanggil dua nama itu. Dia berdiri meski badannya sempoyongan pusing karena akibat demam. Baru kali ini dia sakit separah ini. Bukan hanya badannya yang sakit kepalanya juga sakit dan pusing.


"Bantu aku cari masker. Aku takut menularkan penyakit." Irwan meminta Ratna membawakan masker untuk menutup area mulut dan hidungnya. Setelah memakaikan masker Ratna memapah Irwan keluar kamar.


Raisya berdiri dari kursi.


Ratna membantu Irwan duduk di kursi.


"Maafkan aku ya Wan.. jadi mengganggu kamu yang lagi sakit." Ucap Raisya tidak tega melihat keadaan Irwan seperti itu.


Irwan melambaikan tangannya tanda dia tidak apa-apa.


"Aku mau pamitan Wan. Aku minta maaf kalau selama ini selalu merepotkan kalian. Aku juga mau mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan kalian sama kami." Raisya tak kuasa, dia menitikkan air mata.


"Arsel.. " Irwan memanggil Arsel yang sedang dipangkuan Michel. Anak itu lekas turun dan berlari ke arah Irwan. Irwan memeluknya Arsel. Ada perasaan yang berat ketika anak itu harus meninggalkan rumahnya. Irwan segera melepaskan pelukannya lalu mengusap. rambutnya dan melihat wajahnya.


"Kamu.. jaga mama kamu juga kakak kamu mulai sekarang!" Irwan memberi pesan pada Arsel.


Begitu juga Irwan. Ada rasa sakit di dadanya ketika Arsel memanggilnya dengan sebutan om. Padahal kenyataannya memang dia adalah bukan ayahnya. Tapi karena kedekatannya selama ini, dia merasa Arsel adalah anaknya. Ketika dia menyebut panggilan itu menjadi berubah, Irwan merasakan dia akan kehilangan Arsel.


"Kenapa kamu Arsel? Ini papa." Irwan rupanya belum bisa menerima panggilan itu.


"Om.. bukan papa Acel. Papa Acel sudah meninggal." Anak itu tertunduk sedih.


Irwan langsung memeluk Arsel dan mendekapnya dengan erat. Dia harus menarik nafas panjang dan menghembuskannya bersamaan rasa sakitnya.


"Betul. Papa Irwan bukan ayah Arsel. Tapi papa Irwan papanya Rara dan Riri... " Meski sakit Irwan harus mengatakan hal itu pada Arsel.


"Sesama laki-laki harus kuat dan tak boleh cengeng." Itu yang dikatakan Irwan dalam hatinya.


Irwan melepaskan Arsel lagi dan mencium kening Arsel.


"Pergilah! Jadilah laki-laki yang kuat! yang bisa menjaga mama kamu, kakak kamu juga keluarga kamu! Kamu tidak boleh cengeng dan menangis lagi!" Ucap Irwan memberi motivasi pada Arsel agar dia tumbuh menjadi laki-laki yang kuat.

__ADS_1


"Iya om. Acel sayang om. Acel doakan cepet sembuh!" Arsel melepaskan Irwan lalu mendekati Raisya.


"Kita pergi dulu ya Rat!" Raisya memeluk Ratna lalu bergantian memeluk si kembar.


"Iya.. jaga diri ya Sya! Rumah kita terbuka untuk kamu kapan saja." Ucap Ratna lagi-lagi dia tidak bisa menahan air matanya mengantarkan kepergiannya saat ini.


"Iya terima kasih." Ucap Raisya memasuki mobilnya. Tak lama kemudian mobilnya melaju keluar dari halaman rumah Ratna.


Dari atas balkon Hendri hanya melihat Raisya pergi. Dia tidak turut mengucapkan perpisahan. Menurutnya kenapa juga harus mengucapkan hal itu. Toh besok lusa pun dia pasti akan bertemu.


"Ma.. kita beneran mau pindah ke rumah daddy?" Michel masih ragu.


"Iya. Sekalian besok kita akan cari sekolah baru." Raisya menjawab pertanyaan Michel sambil mengemudi.


"Kenapa ma?" Michel kaget juga Raisya akan mencari sekolah baru.


"Kenapa? Kamu masih mau di sana?"


"Enggak juga. Malah Michel senang." Jawab Michel ingin menghindari masalahnya di sekolah.


"Kasih tahu kenapa kamu merubah panggilan jadi mama?" Raisya baru sadar kalau Michel barusan memanggilnya mama.


"Biar kompak sama Arsel. Michel gak mau dipanggil anak haram lagi sama yang lain."


Cekittt...


Raisya mendadak menginjak rem, kaget mendengar Michel mengatakan anak haram.


"Mama.. " Michel kaget mobil itu mendadak berhenti. Untung saja mobil itu sedang dijalanan yang cukup sepi.


"Katakan sama mama! Tadi kamu pulang duluan kenapa? Dan siapa yang mengatakan Michel anak haram?" Raisya marah mendengar Michel dikatakan anak haram.


"Enggak ma.." Michel merasa menyesal telah mengatakan hal itu pada Raisya.


"Kamu harus jujur Michel! Mama tak ingin seorang pun mengolok-olok kamu, apapun alasannya." Raisya agak memaksa.


"Michel gak pa-pa ma. Michel juga gak keberatan kok. Lagian kenyataannya memang begitu. Daddy sama Mommy tidak pernah menikah. Jadi Michel anak di luar nikah kan?" Michel menyadari meski sakit hati, tapi memang kenyataannya seperti itu.

__ADS_1


"Iya. Tapi mama pengen tahu siapa yang mengatakan hal itu? Mama mesti tahu orangnya.


Mulutnya mesti disekolahin juga."


__ADS_2