
"Terima kasih sayang.. " Jacky mengecup kening Raisya setelah dia bisa mengeluarkan hasratnya dengan cara yang lain yaitu dengan dibantu istrinya.
"Mmm." Raisya mengangguk dengan memejamkan matanya merasa lega bisa berbuat sesuatu untuk suaminya.
Jacky pun terkulai lemas di samping Raisya.
"Kita tidur dulu ya! Nanti setelah tidur kita mandi dan beres-beres untuk pulang." Ajak Jacky sambil melingkarkan tangannya di pinggang Raisya.
Harum dari kulit Raisya seperti candu bagi Jacky. Dia tertidur setelah mengendus leher Raisya dan memeluknya dengan hangat tubuh istrinya.
Ah damainya. Semua ini terasa nikmat. Tanpa ada rasa takut ataupun cemas ketika kita berdekatan dengan pasangan sah kita. Apalagi perasaan kita dipenuhi keikhlasan ingin saling menyenangkan satu sama lainnya. Itulah kenikmatan sesungguhnya yang Allah ciptakan untuk hidup saling melengkapi.
Raisya pun ikut tertidur di samping Jacky dengan damainya tanpa mimpi.
Di lain tempat, Michel juga Arsel sedang bermain dengan kakek juga neneknya. Rumah itu yang tadinya sepi kini ada gelak tawa seorang anak.
"Arsel.. Hati-hati! Awas jatuh nak!" Sarah yang kini sedang berada di rumah mertuanya ikut mengawasi anak-anak Raisya. Selain kerinduan akan kehadiran buah hati, Sarah pun tak mau Arsel dan Michel merasa kehilangan ketika ibunya sedang menikmati malam pengantin.
"Cape ah.. aunty.. " Michel duduk di samping Sarah setelah berlari-lari mengejar Arsel karena mereka sedang bermain-main di halaman belakang mansion tuan Robert.
"Minum dulu sayang!" Sarah menyodorkan jus jeruk ke tangan Michel.
"Ma kasih aunty!" Michel pun meneguk jus jeruk pemberian Sarah.
__ADS_1
"Mas... ajak Arsel istirahat! Kalian pasti lelah juga." Ucap Sarah mengajak suaminya untuk membawa Arsel untuk duduk dahulu. Keringat Arsel sudah terlihat basah di bajunya karena anak itu sejak tadi asik main berlarian ke sana-kemari.
"Baik sayang.. ayo Arsel! Aunty sudah memanggil kita." Adam menuntun tangan Arsel. Keduanya tersenyum bahagia diikuti senyum yang mengembang dari tuan Robert dan juga istrinya yang sudah duduk di pinggir halaman sambil menikmati cemilan yang dibuat Art.
"Nih minum dulu sayang!" Sarah menyodorkan dua gelas yang sama pada Adam dan Arsel.
"Ih.. segell." Arsel tertawa dengan memperlihatkan giginya yang putih juga rapih setelah meneguk jus jeruk pemberian Sarah.
"Kamu mau ini sayang?" Sarah menyodorkan sebuah bolen berisi pisang keju.
"Terimakasih sayang." Adam mengecup kening Sarah setelah menerima bolen berisi pisang keju itu. Mereka semua duduk istirahat di pinggir halaman sambil menikmati jus jeruk dan aneka cemilan.
"Aunty... kapan mama pulang? Kok mama sama ayah gak pulang dari kemalin?" Tanya Arsel mulai mengingat ibunya yang sudah dua hari tidak bersamanya.
"Ishh... apa tidak ada jawaban yang lebih halus? Arsel kan masih suci mas." Sarah protes pada Adam, tidak setuju dengan kalimat yang diutarakan Adam.
"Buat dedek?" Arsel yang kritis langsung mengerutkan dahinya sedang berpikir tentang bagaimana membuat adik.
"Udah.. Arsel mending makan ini! Bukannya Arsel suka pisang keju?" Sarah mengalihkan perhatian Arsel dengan memberikan pisang keju kesukaan Arsel.
"Aunty.. Acel mau dedek banyak. Bial nanti Acel bisa main sama dedek." Ucap Arsel begitu lucu.
"Kamu tuh ya! Gak tahu banyak adik tuh nanti pusing mamanya. Kamu aja satu suka rewel, apalagi adiknya banyak bisa-bisa rumah kita kaya posyandu." Lain lagi dengan Michel yang tak setuju kalau dia banyak adik.
__ADS_1
"Ho ho ho.. kak Michel ternyata gak mau punya adik ya? Kasian dong ayah Jacky.... Nanti dia kan pengen punya anak juga dari mama kamu? Gak pa-pa kalau nanti mama kamu punya adik kamu bisa tinggal di sini sama granpa dan sama granma." Tuan Robert yang mendengarkan percakapan antara Miche dan Arsel. menimpali.
"Ih.. Granpa... aku nanti kekurangan perhatian dari mama kalau adiknya banyak. Aku gak mau punya adik lagi!" Michel bicara ketus sambil berjalan ke dalam. Suasana jadi tidak kondusif setelah Michel marah.
"Wah.. ngambeuk." Tuan Robert menepuk jidat. Cukup istrinya yang suka ngabeukan kaya gitu. Sekarang malah ada generasi penerusnya. Selama ini dia punya anak laki-laki jarang ada yang baperan. Mungkin menghadapi anak perempuan memang berbeda. Dia harus siap-siap sabar dengan sikap sensitif seorang perempuan.
Maklumlah cara berpikir perempuan sama laki-laki itu berbeda.
"Biar sama aku aja pih!" Sarah buru-buru menyusul ke dalam. Karena dia tak ingin Michel ngambek terlalu lama. Apalagi dia memang harus siap dengan segala kenyataan ke depannya. Kalau Raisya nanti mempunyai lagi anak, Michel otomatis harus rela berbagi perhatian. Itu harus dipersiapkan dari sekarang. Biar tidak repot juga. Apalagi Michel sekarang menginjak usia abg dengan hormon yang tidak stabil. Peralihan dari anak-anak ke usia remaja memang suka sulit dimengerti. Dianggap anak-anak tidak mau, dianggap dewasa belum siap. Kita sebagai orang dewasa harus lebih banyak sabar menghadapi sikap anak abg.
"Michel... " Sarah duduk di tepian kasur yang ada di kamar Michel.
"Aunty mau apa? Mau nasehatin Michel?" Michel langsung bicara ketus.
"He he.. kok tau aja nih anak cantik. Kaya cenayang!" Sarah mengajak rileks agar Michel tidak tersinggung.
"Aunty sih bukan mau nasehatin. Tapi aunty mau bercerita sama Michel." Jawab Sarah sambil mengelus kaki Michel yang sedang berselonjor di atas kasur.
"Michel harus merasa beruntung lahir di tengah-tengah orang yang sangat sayang sama Michel. Dulu waktu aunty segede Michel, kedua orang tua aunty sudah bercerai dan terpaksa aunty harus tinggal sama ibu tiri yang tidak sebaik mama Raisya. Ayah aunty pun dulu tidak sebaik sekarang. Kadang aunty merasa kesepian dan ingin pulang ke rumah mama aunty."
Tapi bagaimana? Aunty tidak bisa pulang karena gak mungkin aunty harus ikut bersama mama. Kehidupan mama aunty jauh lebih sulit dibandingkan kehidupan aunty sendiri. Aunty juga pernah merasa seperti anak yang di buang. Tapi setelah melihat perjuangan mama Raisya, mungkin aunty tidak bakal sanggup menghadapinya. Sudah ekonomi sulit, kurang perhatian, banyak adik pula.
"Michel harus banyak bersyukur, secara ekonomi tidak kekurangan. Perhatian pun cukup. Coba bayangkan mama Raisya, harus kerja membiayai adik-adiknya sekolah, itu tidak mudah Michel. Tapi mama Raisya selalu baik. Bahkan dia tidak pernah mengeluh karena dia masih merasa beruntung bisa hidup dengan mamanya dibandingkan aunty yang jauh dari perhatian orang tua meski tidak punya adik."
__ADS_1
"Setiap orang diuji Michel. Yang harus kita siapkan adalah hati kita."