
"Terima kasih dokter. Maaf harus merepotkan." Raisya agak malu setelah menerima teguran dari dokter Ferdi. Dokter Ferdi memang orangnya ramah dan senang membantu kesusahan orang lain. Kebetulan dokter Ferdi pun memang berencana akan pergi keluar setelah tadi mengontrol klinik.
"Tidak merepotkan. Dimana sekolah anakmu?" Dokter Ferdi melihat pada Raisya.
"Itu dok. Di depan." Tunjuk Raisya.
"Wah... ternyata dekat. Lalu alamat rumah kamu dimana?" Tanya dokter Ferdi menanyakan alamat rumah Raisya.
"Saya di jalan Xxxx komplek xxxx." Jawab Raisya agak sungkan untuk menyebutkan alamat rumah itu.
"Wah... ternyata kita satu komplek ya." Dokter Ferdi sengaja mengambil komplek itu karena tempatnya tidak terlalu jauh dari klinik. Dan memudahkannya sewaktu-waktu jika harus mendadak pergi ke klinik. Karena selama ini dokter Ferdi juga sibuk bekerja di rumah sakit dan mengisi seminar-seminar seputar penelitiannya di bidang pengobatan alternatif.
"Oh.. begitu ya?" Raisya agak terkejut ternyata dokter Ferdi satu komplek dengan rumah yang sekarang ditempatinya.
"Mmm.. baiklah. Kamu titip saja di resepsionis kunci mobilnya! Nanti kalau montirnya sudah datang bisa diambil kuncinya disana. Kita sekarang jemput anak kamu dulu. Kasihan takutnya menunggu." Dokter Ferdi membuka pintu mobilnya sedangkan Raisya pergi ke resepsionis untuk menitipkan kunci mobilnya.
Dokter Ferdi menyalakan mobilnya lalu Raisya duduk di samping dokter Ferdi.
"Anak kamu sekolah tk ya?" Tanya dokter Ferdi memastikan sekolah Arsel.
"Masih PAUD. Kita akan masuk di pintu belakang." Raisya memberi arahan.
"Baik." Dokter Ferdi pun melajukan mobilnya menuju gerbang belakang dimana letak gedung taman kanak-kanak dan PAUD berada.
Tak sampai lima menit mobil dokter Ferdi sudah terparkir di depan gerbang gedung sekolah Arsel.
"Maaf dokter. Saya turun dulu." Raisya meminta izin turun dari mobilnya untuk menjemput Arsel.
"Baik. Silahkan!" Dokter Ferdi melihat Raisya sambil tetap duduk di kursi kemudi.
"Mama... " Arsel langsung memeluk tubuh Raisya. Ternyata Arsel sudah menunggu di depan halaman sekolah.
"Eh.. Arsel. Maafin mama ya.. telat jemput kamu. Mobil mama mogok sayang.. " Raisya memeluk Arsel.
"Oh.. mogok ya ma. Mama naik apa kesini?" Tanya Arsel sambil mengedarkan pandangannya ke depan sekolah.
Anaknya bule? Jangan-jangan suaminya bule juga. Duh.. Mudah-mudahan aku tidak kena masalah karena mengantarkan mereka.
__ADS_1
Gumam dokter Ferdi setelah melihat Arsel dari kejauhan agak sedikit takut karena melihat anaknya Raisya berwajah bule. Ada kemungkinan suami Raisya adalah bule juga.
"Ayo kita pulang! Kamu pasti lapar." Ucap Raisya sambil menuntun tangannya. Hari ini cuaca Jakarta sangat panas dari biasanya. Entah karena memasuki musim kemarau cuaca begitu terik.
Arsel mengangguk sambil berpegangan pada tangan Raisya.
Setelah dekat dokter Ferdi turun lalu membukakan pintu belakang. Dokter Ferdi tidak ingin nantinya salah faham, makanya sengaja membuka pintu belakang agar Raisya dan Arsel duduk di bangku belakang sopir.
"Maaf.. " Dokter Ferdi berkata tanpa Raisya tahu maksud maafnya itu.
Raisya hanya mengangguk begitu saja. Keduanya naik dan duduk di bangku belakang sopir. Ferdi kembali ke depan dan duduk di depan kemudi kemudian memasang safety belt nya.
Lalu mobil pun melaju.
"Ma.. ini mobil siapa?" Arsel yang merasa asing mendongak melihat Raisya.
"Ini mobilnya dokter Ferdi sayang.. Oh iya kenalin dok, ini anak saya namanya Arsel." Raisya mengenalkan Arsel pada dokter Ferdi.
"Hai.. Arsel kenalin.. nama om Ferdi, senang berkenalan dengan Arsel." Jawab dokter Ferdi yang mencuri pandang dari spion tengahnya.
"Halo om. Namaku Acel. Cenang kenalan cama om." Arsel melambaikan tangannya dari belakang.
"Mama.. gimana kaka Micel? Kan mobil mama mogok? Kaka Micel pulangnya gimana?" Arsel ikut mengkhawatirkan Michel. Karena mobil ibunya mogok otomatis dia tidak bisa menjemput Michel.
"Nanti Arsel tinggal dulu sama bi Siti ya! Mama nanti mau jemput kak Michel pakai umum saja." Jawab Raisya.
"Iya ma." Arsel mengangguk.
"Anak kamu ada yang masih sekolah? Kelas berapa? Dimana sekolahnya?" Tanya Ferdi. Dia menyangka anak Raisya cuman Arsel. Karena Raisya masih terlihat begitu muda.
"Anak saya yang satu lagi sudah kelas satu SMP. Masih di sekolah yang sama juga." Jawab Raisya apa adanya.
"Oh.. Jam berapa dia pulang?" Tanya dokter Ferdi.
"Biasanya jam satu an." Jawab Raisya.
"Mau saya pinjamkan mobil?" Dokter Ferdi menawarkan mobilnya untuk dipinjam.
__ADS_1
"Oh.. gak usah dok! Biar saya jemput pakai mobil online saja." Raisya tak ingin merepotkan dokter Ferdi.
"Gak apa-apa. Mobilku ada dua kok. Kamu bisa pinjam. Nanti aku ambil ke rumah kamu. Kamu blok mana?" Dokter Ferdi tanpa pikir panjang begitu saja meminjamkan Raisya mobilnya. Tadi dia membicarakan akan menjemput anaknya pakai mobil online berarti mobilnya ada satu.
"Saya blok 1c dok." Jawab Raisya.
"Wah depan ya? Kalau saya 3d. Nanti mobilnya ke rumah saya dulu. Setelah itu kamu boleh ambil. Kalau sudah, nanti tinggal telepon saya saja!" Ucap dokter Ferdi.
"Waduh jadi merepotkan dok. Saya jadi gak enak." Raisya malu harus menerima kebaikan dari orang yang masih asing.
"Tidak apa-apa. Kita kan tetangga. Saya juga hari ini memang tidak berencana kemana-mana." Jawab dokter Ferdi yang memang hari itu tidak ada jadwal lagi selain mengontrol klinik.
"Terima kasih dok!" Ucap Raisya.
"Ma.. kenapa tidak berhenti?" Arsel melihat rumahnya dilewati begitu saja.
"Mama.. mau pinjam mobil om buat menjemput ka Michel. Om mau ke rumahnya dulu sayang." Jawab Raisya menerangkan pada Arsel.
"Oh.." Jawab Arsel ber oh ria.
"Nah.. sampai di rumah om. Arsel mau masuk dulu ke rumah om?" Mobil itu kini sudah terparkir di depan gerbang halaman dokter Ferdi.
Arsel menggelengkan kepala.
"Kalau begitu om masuk dulu ya. Ini kuncinya!" Dokter Ferdi menyerahkan kunci mobilnya.
"Mm... dokter tidak takut mobilnya dicuri?" Raisya tersenyum sambil bercanda menerima kunci dari dokter Ferdi. Raisya dan Arsel pun pindah duduk ke depan.
"Ga pa-pa. Kan sudah jelas rumah dan orang yang akan mencurinya." Dokter Ferdi tersenyum mendengar candaan Raisya.
Aku tak khawatir kamu mencurinya. Asal jangan hati aku aja yang kau curi."
Dokter Ferdi tersenyum simpul sendirian.
"Tolong masukan nomor handphone anda! Nanti saya kabari kalau mobilnya sudah kembali." Terang Raisya sambil menyodorkan handphonenya.
"Kalau mobilnya masih dibutuhkan pakai saja! Nanti kalau mobilnya sudah beres dari bengkel baru kembalikan." Dokter Ferdi tidak khawatir sama sekali kalau mobilnya dipakai Raisya.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati ya!" Dokter Ferdi memberi pesan sambil. mengembalikan handphone Raisya.