
Nasib sedang tidak berpihak pada Raisya. Saat dia turun dari taxi ternyata ruko terkunci. Dalam keadaan guyuran air hujan Raisya menunggu di depan ruko yang tak mempunyai kanopi ke depan, sehingga sulit untuk berteduh.
Mata Raisya mengedar mencari tempat berteduh dari air hujan. Tapi di daerah sekitar ruko hanya ada rumah-rumah tinggal yang berpagar tinggi yang tak ramah untuk ikut berteduh. Titik air hujan yang kini sudah membasahi tubuh Raisya semakin membuat tubuh Raisya basah kuyup.
"Pada kemana ya Ratna? Biasanya kalau pada pergi Art ada di rumah. Ini kok belt bunyi tak ada yang buka pintu." Raisya dengan tubuh menggigil heran kenapa rumah Ratna sampai tidak ada orang.
"Kalau ke rumah mamah aku mesti jalan kaki memutar. Duh mana taxi gak ada lagi." Keluh Raisya.
Raisya merogoh handphonenya untuk menghubungi Ratna.
"Ha Halo.. " Nada gemetar Raisya menyapa Ratna.
"Sya..? Kamu? Kenapa?' Ratna yang mendengar suara Raisya gemetaran sedikit heran.
"Ka.. kamu di dimana?" Raisya yang menggigil berbicara terpatah-patah.
"Aku lagi di Bandung Sya. Kak Hendrik lagi syukuran. Kamu lagi dimana ini?" Tanya Ratna penasaran. Entahlah hatinya merasa tidak enak ketika mendengar nada gemetar Raisya. Ratna yang sudah lama bersahabat, feelnya merasa kuat pada Raisya. Dugaannya sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
"A.. aku de.. depan ru.. ko." Jawab Raisya berharap Ratna bisa menolongnya.
"Ya ampun.. semua terkunci Sya. Kunci rumah aku bawa kesini. Ini lagi hujan ya? Kedengaran berisik gak jelas." Ratna terpaksa harus berteriak-teriak karena suaranya tidak jelas terdengar.
"Oh.. ya udah. Ma kasih.. ma.. maaf ngerepotin kamu Rat." Raisya langsung menutup teleponnya yang sudah lemah. Dia tidak sempat mengisi batre karena pas di rumah sakit dia lupa tidak membawa charger.
Di tengah hujan dan petir bersahutan, Raisya menerobos hujan dan menyusuri jalan untuk mencari taxi. Dia tidak tahu kemana arah tujuannya sekarang selain mencari taxi terlebih dahulu.
__ADS_1
Badannya semakin menggigil, tapi suhu badannya malah terasa panas. Kepalanya semakin berat dan pandangan matanya semakin berkunang-kunang. Dia berjalan sempoyongan sambil menangkub badannya dengan kedua tangannya.
Cipratan-cipratan yang mengenai tubuh Raisya akibat kendaraan yang melindas genangan air hujan menambah semakin dramatisnya penderitaan Raisya.
"Beb.. kayanya kita mesti balik deh. Aku kok gak enak hati gini?" Ratna mengelus dadanya mengeluhkan perasaan hatinya pada Irwan.
"Kenapa yang?" Irwan bertanya kenapa istrinya tiba-tiba mengeluhkan tidak enak hati.
"Barusan Raisya nelpon aku beb, dia kok kaya gemetaran begitu. Aku jadi berpikiran buruk tentang Raisya beb." Jawab Ratna menatap wajah suaminya.
Sejenak Irwan mengerutkan dahi. Ini kan baru tiga hari pernikahan Raisya. Masa iya mereka sudah ada masalah? Bukankah mungkin ini saatnya mereka sedang mereguk manisnya madu. Itu yang sedang dipikirkan Irwan yang sudah berpengalaman honeymoon.
"Beb.. kok diajak bicara malah melamun?" Ratna menegur Irwan.
"Eh.. iya yang. Aku bukan melamun, cuman sedang membayangkan. Masa iya mereka baru menikah sudah ada masalah. Kayanya ayang terlalu overthinking deh!" Ucap Irwan tak pantas percaya sama perkataan istrinya.
"Ya udah.. kamu telepon si Jacky. Tanyain apa. mereka berdua sedang ada disana? Terus mau ngapain hujan-hujanan dateng? Bukannya ngamar lagi hujan mah." Celetuk Irwan.
"Iya, coba aku telepon Jacky aja dulu ya. Takut mereka kenapa-kenapa." Ratna mengikuti saran suaminya menelpon Jacky.
Mmm... ngapain tuh sejoli bikin rusuh dihari honey moon. Apa mau bikin kejutan?
Irwan menggerutu dalam hatinya. Merasa heran pada sepasang suami-istri yang baru saja menikah itu.
"Halo Jacky."
__ADS_1
"Halo Rat." Terdengar suara Jacky agak serak seperti sedang tidur.
"Eh.. elu.. lagi tidur ya Jack?" Tanya Ratna agak tidak hati membangunkan Jacky. Tapi dia juga agak heran kenapa pasangan suami istri itu berbeda keadaan. Yang satu seperti sedang kehujanan yang satu malah lagi tiduran.
"Mm.. Ada apa Rat?" Tanya Jacky agak malas.
"Mmm... Raisya mana Jack?" Ratna tiba-tiba ingin bertanya mengenai keberadaan Raisya pada Jacky.
"Kenapa emang? Kalau mau tahu telepon aja sama dia! Bukan sama aku." Jawab Jacky agak kesal.
"Lho.. Jacky? Kenapa nada elu kaya gitu? Kalau Raisya ada sama elu, gak mungkin gue nanyain sama elu! Dimana Raisya sekarang? Jujur aku kok jadi Gak enak hati sama kalian berdua." Ratna tak bisa menahan marahnya ketika Jacky selalu suami Raisya berkata seperti itu. Dan sangat tak wajar, dia bersikap begitu apalagi ini baru hari ketiga pernikahan mereka.
"Suka-suka gue lah Rat. Ngapain elu ngurusin gue mau kaya gini ato gitu." Jacky langsung bangun dan duduk di atas kasur.
Pasti dia ngadu sama Ratna.
Jacky langsung berpikiran begitu, karena Ratna adalah sahabat dekatnya Raisya. Pastinya Raisya akan mengadu masalahnya pada Ratna.
"Eh.. elu kok sarkas gitu sih Jack? Gue pasti ngurusin elu kalau elu sampai ngapa-ngapain sahabat gue. Eh perlu elu tahu, barusan Raisya nelepon gue gemetaran, elu apain Raisya hah? Kalau sampe ada apa-apa dengan Raisya. Awas lu yah! Gue gak bakal diem kaya dulu si Nathan nyiksa Raisya. Gue bakal perhitungan sama elu Jack! Awas lu yah!" Ratna langsung menutup telepon. Kemarahan Ratna membuat Irwan melongo.
"Beb.. kita sekarang juga pulang deh! Biar si kembar pulang sama mama aja! Gue aslinya gak enak nih!" Ratna dengan menahan amarahnya mengajak Irwan pulang ke Jakarta.
"Iya yang.. kita balik. Gue izin dulu deh sama kak Hendrik juga mama." Irwan tak berani bertanya pada Ratna yang sedang marah besar. Dia akan menunggu sampai Ratna reda marahnya. Pasti ada hal genting sampai Ratna mengajaknya pulang sekarang juga.
Setelah berpamitan pulang lebih dulu, Irwan dan Ratna segera naik mobil. Irwan memacu mobilnya di atas rata-rata. Irwan sama halnya dengan Ratna. Kini perasaan khawatirnya jadi tinggi setelah Ratna menceritakan sikap Jacky tadi di telepon.
__ADS_1
"Kurang ajar banget tuh si Jacky! Kalau ada apa-apa dengan Raisya gue yang akan pertama menghajar elu bajingan." Irwan memukul setir yang sedang dipegangnya.
"Sudah Beb. Kita berdoa aja. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Raisya." Ratna kini menenangkan Irwan agar tidak emosi.