
Raisya seolah melupakan semua kesedihan dan tergantikan dengan hal-hal yang menyenangkan. Itulah Raisya. Karakter nya yang ceria sering membuat orang di sekitar nya merasa senang dengan keberadaannya. Dan seringkali melupakan kesedihannya. Dia tak mau berlarut-larut dalam memikirkan masalah.
Apalagi pekerjaannya yang sekarang tidak monoton melulu di kantor dan terbilang cukup santai.
"Neng Raisya kita balik ke kantor yuk! Abang kayanya sudah laper eung!" Keluh Rio yang mengajak Raisya kembali ke kantor Beny. Pekerjaannya di lapangan lumayan menyita tenaga dan energinya yang menyebabkan perut cepat lapar dan haus.
"Iya bang Rio." Raisya langsung mengiyakan.
"Kamu gak capek dibawa ke lapangan kaya tadi?" Tanya Rio melihat tubuh Raisya yang sepertinya belum terbiasa turun ke lapangan berpanas-panasan seperti tadi.
"Ya capek sih bang. Tapi asik." Raisya yang baru pertama kali dibawa ke proyek merasa asik-asik saja selama orang-orang nya baik dan menyenangkan.
"Entar muke lu item neng dibawa abang ke proyek terus. Pake sunblok ya!" Cicit Rio.
"Iya bang."
"Eh neng.. kamu gak bakal dicariin bos ngebolos hari ini? Kok abang yang khawatir ya?" Rio melirik pada Raisya sela-sela menyetir. Rio lebih senang menyebut neng pada Raisya. Katanya orang Sunda suka dipanggil dengan panggilan itu.
"He." Raisya tak bisa menjawab.
"Kayaknya aku bakal keluar deh bang." Cicit Raisya.
"Apa??" Rio agak kaget.
"Kamu tadi abis nangis ya? Ada masalah?" Rio walaupun seumur di bekerja di lapangan dengan tantangan keras seperti Beny tapi orangnya care.
"Hhhmm. Kayanya aku lelah bang. Bukan pekerjaannya tapi terkadang pekerjaan yang sekarang selalu bikin lelah jiwa." Keluh Raisya tiba-tiba berani menumpahkan isi hatinya.
"Sabar! Toh kamu juga baru datang di kantor kita. Belum tahu seluk beluknya. Bisa jadi ntar di sini juga banyak masalah neng." Imbuh Rio
"Asal kerjaan tidak mengancam nyawa aku aja bang! Sudah digaji gak seberapa nyawa pun jadi taruhan." Keluh Raisya sambil melihat ke jalanan.
"Ha ha masa iya bagian keuangan ngancam nyawa. Kaya kerja di KPK aja!" Tawa Rio menertawakan isi pembicaraan Raisya.
Tak lama kemudian Mobil yang dikemudikan Rio sampai di depan kantor Arsitektur Beny.
"Lah.. itu... " Netranya menangkap sesuatu yang telah dikenalinya. Raisya seperti mengenali mobil yang sedang terparkir.
"Kenapa neng?" Sepasang netra Rio mengikuti apa yang sedang dilihat Raisya.
__ADS_1
"Ayo turun neng!" Rio sudah membuka pintu mobilnya. Setelah melihat mobil mewah yang sedang terparkir di depan kantornya. Rio menyangka mungkin itu klien Beny.
"Bang.. aku takut!" Wajah Raisya memucat begitu melihat mobil itu terparkir. Pasti sekarang pemiliknya sedang berada di dalam. yang sia-sia menyerangnya.
"Kenapa?" Rio heran.
"Aku gak mau turun!" Imbuh Raisya sambil ketakutan.
"Jangan takut! Ada abang." Rio berusaha memberikan dukungan pada Raisya agar turun dari mobilnya.
Raisya turun perlahan dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kantor di barengi Rio.
Keduanya mengamati lantai 1 sepi tak ada tamu.
Di ruang tamu terlihat kosong. Pandangan Raisya mengedar lalu sepasang netranya langsung melihat ke lantai 2. Terdengar suara orang yang sedang bercakap-cakap.
"Kayanya bang Beny sedang menerima tamu." Ucap Rio.
"Aku tunggu di ruang itu aja bang!" Raisya langsung berjalan ke dapur dekat mushola.
"Ya udah. Aku naik dulu ya!" Rio menaiki anak tangga dan naik ke lantai 2.
"Di bawah bang." Jawab Rio melihat dia orang laki-laki yang sedang berbincang-bincang dengan Beny.
"Perkenalkan ini salah satu arsitektur kami namanya Rio. Kembarannya belum datang namanya Ria. Dia seorang desainer interior. Mungkin kita tunggu sebentar lagi!" Ucap Beny memperlakukan baik para tamunya.
"Ruang kerja karyawannya enak ya! Saya ingin ruang kerja saya juga dibuat senyaman mungkin."
"Baik. Nanti survei ke kantor anda." ucap Beny.
"Panggilkan Raisya untuk membawakan kopi untuk tamu kita!" Ucap Beny pada Rio.
"Baik bang." Rio langsung turun ke bawah.
"Neng disuruh ke atas bawain kopi 3 sekalian sama abang 1 jadi empat. Sekalian sama cemilannya ya!" Ucap Rio menyampaikan perintah Beny pada Raisya.
Duh gue ngumpet malah disuruh bikin kopi lagi ah.
Raisya terpaksa harus menghadapi masalahnya. Dia membuat kopi set yang sudah ada di kitchen dan membawakan cemilan yang sudah tersedia di aneka toples di rak khusus cemilan. Dapur ini walau kecil. lumayan nyentrik dan lengkap.
__ADS_1
Raisya membawa bali berisi empat cangkir dan satu toples cemilan ke lantai 2. Kakinya terasa berat bahkan seperti gemetar begitu anak tangga selesai dinaiki.
"Nah ini perkenalkan karyawan saya bagian keuangan." Ucap Beny pada klien yang berada di hadapannya.
Raisya melihat dia orang yang sudah tak asing kini menoleh ke arahnya.
"Selamat siang." Raisya menyapa sopan walau hatinya galau. Raisya pun menaruh kopi-kopi itu di meja dengan jari-jari nya terlihat bergetar ketakutan.
Nathan menatap inten Raisya. Raisya yang tahu sedang ditatap, menunduk tak berani melihat langsung berhadapan.
"Saya permisi bang." Raisya kembali ke bawah sambil membawa nampan bekas kopi.
"Maaf saya mau ke toilet dulu. Anda bisa membicarakannya dengan asisten saya!" Nathan berdiri lalu berjalan ke lantai 1 setelah tadi Beny memperkenalkan ruangan satu persatu yang ada di gedung itu.
Nathan mencari alasan untuk ke toilet padahal akan menyusul Raisya ke bawah.
"Raisya!"
Raisya terhenyak kaget melihat Nathan sudah ada di sampingnya.
"Sekarang kamu masuk ke mobil! Ada yang harus aku bicarakan sama kamu." Ucap Nathan pada Raisya.
"Maaf Pak Nathan saya tak bisa." Raisya berkata pelan. Takut pembicaraannya terdengar sampai lantai 2.
"Aku tak suka dibantah Raisya. Tolong jangan buat aku marah!" Pinta Nathan menekankan suaranya.
"Saya ingin resign pak! Jadi mohon bapak jangan maksa-maksa!" Tolak Raisya.
"Apa??" Mata Nathan yang kebiruan menatap tajam pada Raisya.
"Mulai hari ini mengundurkan diri pak!" Terpaksa Raisya memberanikan diri untuk bicara pada Nathan mengenai niat pengunduran dirinya.
Nathan terdiam. Dia seperti bingung harus menanggapi pengunduran diri Raisya yang tiba-tiba. Apalagi dibicarakan di kantor orang lain yang membuat lidah Nathan terbungkam.
"Kamu masuk dulu ke mobil! Kita akan bicara di luar." Ucap Nathan dengan nada melemah. Seperti kali ini Nathan harus mengalahkan ego nya pada Raisya demi seseorang yang dicintainya.
"Saya tidak mau pak!" Tolak Raisya kembali menolak.
Nathan langsung menarik lengan Raisya dengan keras yang membuat Raisya tertarik terbawa oleh Nathan.
__ADS_1
"Kamu rupanya senang sekali diperlakukan kekerasan Raisya. Masuk!"