
Raisya hanya bisa termenung. Ada hal yang mengganjal dalam hatinya.
Jangan-jangan Jacky beneran menanggapi perkataan aku. Dia beneran marah sama aku? Apa kutelpon saja? Ah.. bagaimana kalau dia beneran marah? Mending aku bertemu saja nanti setelah pulang dari sini.
Raisya hanya bergumam dalam hati setelah tiga hari dia tidak melihat Jacky mendatanginya.
Sementara itu Jacky sudah siuman dan sudah dibawa ke ruang perawatan. Tuan Robert bersama istrinya mengunjungi Jacky.
"Bagaimana keadaanmu Jacky?" Tuan Robert menanyai putranya.
"Baik pih. Aku sudah berapa hari pih tidak sadar?"
"Sudah tiga hari nak. Kamu terlalu lama tidur." Ibunya mengusap putra kesayangannya.
"Mmm."
"Bagaimana keadaan Raisya pih? Apa dia sudah sembuh?" Meski dalam keadaan sakit Jacky masih ingat keadaan Raisya terakhir kali ditinggalkannya.
"Dia sudah sembuh. Sekarang dia akan keluar dari klinik itu." Jawab tuan Robert yang berencana menjemput Raisya hari ini bersama istri dan kedua anaknya.
"Syukurlah.. bagaimana anak-anak pih?" Jacky tidak lupa menanyakan keadaan Michel dan Arsel.
"Mereka baik. Selama sakit tinggal bersama papih." Jawab tuan Robert yang merasa senang karena selama Raisya sakit, cucunya bisa tinggal bersamanya.
"Aku jadi kangen mereka pih.. " Mata Jacky mengembun.
"Iya.. cepatlah sembuh. Biar kamu juga bisa cepat lihat mereka. Dari kemarin Michel selalu minta datang kesini. Tapi papih selalu melarangnya." Ucap ibunya Jacky menyemangati.
"Pih... bagaimana kalau aku cacat? Aku tidak bisa berjalan dengan sempurna?" Jacky melihat kakinya digantung ditahan biar tidak banyak gerak.
"Kamu harus semangat Jacky.. kakimu tidak apa-apa. Cuman retak saja." Tuan Robert tidak ingin Jacky mengetahui yang sebenarnya.
"Tanganku bagaimana pih?" Jacky melihat tangannya juga digift.
"Tanganmu juga baik-baik saja. Nanti akan ada dokter Ferdi yang akan terapi kamu biar tidak pegal. Juga dokter dari otopedi yang akan memeriksa kamu. Kamu semangat tetapi biar bisa kembali sehat." Tuan Robert ingin pengobatan yang terbaik untuk putranya.
Jacky terdiam setelah mendengar penuturan tuan Robert.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Selamat pagi pak Robert.. pak Jacky.. " Dokter Ferdi sudah siap melakukan terapi pada Jacky.
"Pagi dokter Ferdi." Jawab tuan Robert menoleh pada dokter Ferdi.
"Bagaimana perasaan pak Jacky hari ini?" Dokter Ferdi seperti biasa ramah pada semua pasiennya.
"Kamu.. bisa lihat sendiri aku tak berdaya." Jacky berbicara ketus.
Kalau bukan butuh.. aku tak mau melihat wajahmu yang suka tebar pesona itu
Jacky menggerutu dalam hati
Mmm... sudah tidak berdaya juga.. sombongnya masih utuh."
Begitu juga dokter Ferdi menggerutu dalam hatinya melihat sikap Jacky yang ketus.
"Mari kita mulai ya terapi akupuntur nya." Dokter Ferdi menarik alat dibantu salah satu perawat agar lebih mendekat pada ranjang Jacky untuk memulai terapi akupuntur nya.
Tuan Robert dan istrinya duduk di sofa memberikan ruang untuk dokter Ferdi melakukan terapinya.
Beberapa alat sudah terpasang pada tubuh Jacky dan dokter Ferdi siap melakukan terapi akupunturnya dengan metode sengatan listrik. Ini berguna untuk melancarkan darah juga menstimulus otak pasien paska koma.
"Semoga pak Jacky cepat sembuh ya! Besok kita akan melakukan terapi lagi agar perkembangannya lebih baik." Ucap dokter Ferdi tetap ramah.
Jacky tidak merespon apapun, ada rasa gengsi yang besar di dalam hatinya untuk mengucapkan terimakasih padanya.
"Saya permisi dulu pak Robert. Assalamualaikum." Dokter berpamitan pada tuan Robert dan istrinya dengan mengucapkan salam dan sedikit membungkuk.
"Terimakasih kasih dok! Waalaikumsalam." Ucap tuan Robert pada dokter Ferdi.
"Iya sama-sama." Jawab dokter Ferdi sambil keluar dari ruangan perawatan Jacky.
"Pih... Raisya ada nanyain aku gak?" Jacky rupanya penasaran juga apakah Raisya mengkhawatirkan dirinya atau tidak.
"Papih... belum sempet nengok. Papih titip ke dokter Ferdi buat ngurus Raisya. Terus Raisya karena sakit juga jarang telepon." Tuan Robert tidak mencurigai bahwa dokter Ferdi sedang naksir sama Raisya.
"Aduh papih... kenapa titip sama dia sih?" Jacky agak kesal mendengar tuan Robert dengan mudahnya menitipkan Raisya pada dokter Ferdi.
__ADS_1
"Dokter Ferdi itu yang udah nolongin Raisya sama kamu juga Jacky... masa iya kamu gak percaya. Dia juga dokter profesional. Jadi papih percaya sama dia." Tuan Robert rupanya agak kesal. juga melihat sikap Jacky yang sinis pada dokter Ferdi.
"Papih sih gak tahu... dokter Ferdi ada rasa juga sama Raisya. Kalau papih nitip sama dia, itu sama saja papih ngasih Raisya sama dia." Jacky setengah marah mengungkapkan isi hatinya yang khawatir hubungan Raisya dengan dokter Ferdi kian dekat.
"Ah masa iya sih? Baru kenalan kemarin sore sudah suka." Tuan Robert masih belum mempercayai seratus persen.
"Ah... papih... aku mau cepet keluar dari rumah sakit ini deh." Jacky tidak sabar ingin menemui Raisya, padahal kaki dan beberapa anggota badannya masih belum bisa bergerak bebas.
"Kamu gimana sih Jacky.. itu kaki sama tangan saja belum bisa digerakin, masa maksa ingin ketemu Raisya.. " Ibunya Jacky geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang super tidak sabaran.
"Aku gak mau tau. Papih mesti lamar Raisya secepatnya. Kalau bisa besok tarik Raisya agar menikah denganku pih. Aku gak tahan lihat dia barengan sama dokter Ferdi." Pikiran Jacky kian kalang kabut. Entah emosinya jadi tidak stabil. Dia sangat ketakutan sekali kehilangan Raisya.
"Sabar Jacky... kamu tuh baru sadar udah minta nikah. Lagian Raisya juga butuh waktu. Dia masih di rumah sakit. Papih juga belum bisa ngomong apa-apa sekarang." Tuan Robert bingung menghadapi sikap Jacky yang benar tidak sabaran.
"Ahhhh.... kenapa aku cacat!" Jacky berteriak-teriak mengumpat musibah yang menimpanya. Sepertinya dia stress.
"Jacky... " Ibunya Jacky mengelus lembut anaknya.
"Pih.. " Ibunya Jacky menoleh ke arah suaminya.
"Papih mau aku kaya Nathan? Baru papih nikahin aku ke Raisya?" Jacky membentak tuan Robert.
"Iya.. ntar papih ngomong sama Raisya. Kamunya yang sabar dulu. Jangan kaya gitu! Yang ada nanti Raisya takut sama kamu." Tuan Robert sedang memutar otak. Bagaimana Raisya bisa menerima pinangan anaknya yang kedua ini. Apa dia mau menerima Jacky dalam keadaan cacat?
Jacky baru diam. Dia tidak sabar menunggu Raisya menerima lamarannya.
Setelah periksaan Jacky selesai dilakukan oleh dokter, tuan Robert dan istrinya meninggalkan ruangan. Dia bermaksud untuk menjemput Raisya pulang.
Di lain tempat Raisya sudah membereskan pakaiannya. Dia sudah diperbolehkan pulang.
Krekk
"Mama... " Suara Arsel dan Michel terdengar berteriak begitu pintu terbuka.
"Eh.. sayang... mama." Raisya menyambut keduanya lalu memeluknya erat.
"Kalian bersama siapa kesini?"
__ADS_1
"Tuh.. "