Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Berubah


__ADS_3

"Biar aku bawakan tas dan barang bawaanmu!" Jason mengambil alih semua yang ditenteng Raisya. Dia tak canggung untuk membawakannya meski jabatannya adalah pimpinan di perusahaan batubara yang ada di Kotabaru.


Raisya hanya bisa pasrah. Toh dia hanya membawakan barang tidak berlebihan. Tapi untuk Jason itu adalah layanan spesial yang dia lakukan untuk seorang perempuan spesial yang ada di hatinya.


"Sebelah sini!" Jason mengarahkan Raisya pada mobil yang ada di belakang sedangkan Baron dan Ramos sudah masuk ke dalam mobil Jeep yang ada di depannya.


"Aku?" Raisya menunjuk dirinya ragu. Karena di mobil itu hanya ada dia dan Jason saja. Sedangkan di dalam mobil Jeep depan ada 4 orang. Dia agak ragu untuk naik mobil bersama Jason karena hanya ada dirinya dan Jason saja.


"Iya. Mobil ini mengangkut barang. Jadi penuh." Jelas Jason pada Raisya. Memang di jok belakang sudah penuh barang-barang bawaan mereka berempat yang sengaja dikumpulkan di satu mobil.


Raisya terdiam dengan wajah melipat. Rasanya dia ingin protes dan tak mau satu mobil berdua saja.


Melihat Raisya yang cemberut, Jason menatapnya dengan penuh sayang dan perhatian.


"Hei..Aku tak tega menukar dengan pak Baron. Kamu juga tidak akan nyaman kan kalau aku taruh di mobil depan dengan lelaki para hidung belang? Anak buahku kalau becanda kadang suka kelewatan. Nanti kamu tidak nyaman di sana makanya tadi aku menukarnya dengan pak Baron. Pak Baron juga setuju demi kenyamanan kamu." Jelas Jason tak ingin salah paham.


"Mmm." Raisya hanya menjawab pendek setelah mendapatkan penjelasan dari Jason. Tapi tetap saja hatinya tidak tenang harus berduaan dengan laki-laki. Trauma yang masih belum kering itu selalu saja menghantui Raisya jika sedang berduaan dengan laki-laki.


"Ayo masuk!" Jason memberikan tangannya untuk melindungi kepala Raisya dari benturan atap mobil.


"Terimakasih." Ucap Raisya setelah melihat kebaikan Jason.


Jason pun berjalan memutar setelah menutup pintu mobil yang baru saja dinaiki Raisya. Jason duduk di bagian kemudi mobil lalu menyalakan kunci.


"Kamu siap? Kamu tidak mabuk naik mobil?" Jason menoleh ke samping menanyakan kesiapan Raisya dan kondisinya.


"Tidak. Sudah kubilang aku tidak mabuk kendaraan. It's oke." Raisya memberikan jawabannya.


"Bagus!" Jason mengacungkan jempol kirinya. Lalu melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.


"Kamu bisa menikmati pemandangan Kotabaru. Disini masih alami dan bersih dari polusi. Masyarakatnya juga ramah tidak seperti diperkotaan." Jason mengajak berbincang dan memberikan sedikit informasi tentang kondisi Kotabaru.

__ADS_1


"Kamu sudah lama disini?" Tanya Raisya menoleh ke samping.


Jason melirik sebentar lalu kembali ke depan fokus mengendarai mobil Jeep nya. Wajah tampan plus machonya terlihat begitu mempesona. Garis tegas kelaki-lakiannya sangat kentara sekali, apalagi dalam kondisi mengendarai mobil Jeep dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


"Lumayan. Kenapa? Kamu minat tinggal disini beramaku?" Tanya Jason yang langsung to the poin.


"Ih.. nanya doang kok." Raisya langsung kembali menatao jalanan yang dilalui mobil jeep. Kondisi daerah yang masih asri dan pepohonan yang masih rimbun membuat pasokan oksigen di kota ini terasa segar.


"Serius juga gak apa-apa. Aku harap kamu malah betah disini dan berjodoh denganku." Jason langsung menembak Raisya. Ini adalah kesempatan untuknya untuk bisa mendapatkan hati Raisya yang terlihat dingin datar.


"Apaan sih. Orang datang kesini mau kerja juga." Tepis Raisya tak ingin Jason terus membicarakan keinginan hatinya.


"Ya.. sambil menyelam minum air. Kan dapat dua-duanya." Jason tak mau mengalah.


"Ya.. ya.. kenapa juga tidak menikah dengan orang sini? Disini juga pasti banyak juga orang cantik kan?" Tanya Raisya sambil melihat ke sembarangan arah yang menurutnya itu lebih menarik.


"Maunya sama kamu. Aku pergi dari Bandung eh.. malah ketemu kamu disini. Bukankah itu jodoh?" Jason melirik ke arah Raisya lalu kembali ke depan.


"Mmm.. baiklah. Bagaimana kalau kamu cerita saja!" Jason memberikan kesempatan pada Raisya agar dia mau memberikan topik obrolannya.


"Cerita apa? Aku bukan pendongeng yang mudah bercerita." Jawab Raisya dingin.


"Kamu sudah lama bekerja dengan pak Baron?" Tanya Jason mengajukan pertanyaan yang jawabannya sendiri dia sudah tahu.


"Baru satu bulan." Jawab Raisya dengan tetap melihat ke depan.


"Sebelumnya kamu bekerja dimana?" Tanya Jason ingin tahu.


"Perusahaan global corporation."


"Mmm.. dibidang apa tuh?" Tanya Jason ingin tahu banyak.

__ADS_1


"Fashion dan berbagai asesoris nya."


"Oh ya? Fashion bermerk apa?"


"Banyak merk terkenal dunia. Perusahaan juga mengeluarkan produk sendiri juga." Jawab Raisya agak singkat.


"Wah.. pantesan saja penampilan kamu fashionable kalau sebelumya bekerja di perusahaan itu. Apa kamu juga memegang bagian yang sama seperti sekarang?" Tanya Jason lebih lanjut.


"Ya sama. Keahlian aku memang di sana. Tapi aku juga pernah di bagian marketing juga." Jawab Raisya mengalir tanpa beban.


"Mmm... kenapa keluar dan bergabung di perusahan pak Baron?" Jason agak penasaran apakah Raisya mempunyai hubungan spesial dengan Baron atau tidak.


"Ya kebetulan aku ingin saja. Dan menemukan lowongan kerja di bagian yang sama. Dan apa salahnya kalau aku mencoba." Terang Raisya jujur.


"Menurut kamu bagaimana penilaian tentang pak Baron?" Jason tak sabar menunggu tanggapan Raisya mengenai pak Baron atasannya. Meski dia seorang duda beranak dua, pesonanya masih menarik banyak perhatian. Apalagi selain tampan dia juga tajir melintir.


"Dia baik." Jawab Raisya apa adanya. Apalagi dia berjasa besar telah menyelamatkan dirinya dari Jacky.


"Mmm.. apa kamu menyukainya?" Jason melirik ke arah Raisya.


"Kalau iya kenapa?" Jawab Raisya jujur. Ya selama ini Baron tidak menunjukkan sikap agresif atau berlebihan pada dirinya. Bahkan dia menunjukkan sikap menjaga dan menghormati privasi Raisya. Hanya sebatas itu Raisya menyukainya, belum lebih ke urusan hati.


Jason tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya setelah mendengar jawaban dari Raisya.


"Waduh.. " Raisya mengaduh karena kaget.


"Maaf.. " Suara Jason terdengar lirih meminta maaf.


"Kalau mau ngerem jangan dadakan gitu! Bisa mencelakai pengendara yang lain." Raisya agak meninggikan suaranya melihat sikap Jason agak ceroboh. Raisya memutar kepalanya ke arah belakang takut ada pengendara di belakangnya yang bisa saja terganggu dengan rem dadakan yang dilakukan Jason.


Jason terdiam. Ada rasa nyeri dalam dadanya ketika mendengar kenyataan bahwa Raisya menyukai atasannya sekaligus bos besarnya. Ya.. Jason memang bukan tipe laki-laki yang suka pamer kekayaan sejak dulu. Dia lebih memilih menjadi karyawan daripada harus menjadi bos. Dia ingin menemukan perempuan yang menyukai dia apa adanya bukan karena hartanya. Tapi setelah mendengar Raisya barusan, Jason berasumsi, bahwa semua perempuan sama saja. Dia hanya menilai seseorang karena harta dan jabatannya bukan karena ketulusannya.

__ADS_1


Jason melakukan kembali mobil yang sedang dikendarai nya. Tapi ada yang aneh yang dirasakan Raisya. Sejak mengerem dadakan Jason tak lagi berbicara dan terkesan dingin. Suasana dalam mobil kini kian sunyi. Hanya dedi mesin dan bebatuan yang tergilas ban yang terdengar.


__ADS_2