Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Jangan mati


__ADS_3

Raisya melihat ke arah Jacky. Sejak tadi dia tidak bersuara sedikitpun. Dia berbaring di sofa, sesekali dia makan cemilan sambil berselancar dengan Handphonenya.


Dari balik handphonenya Jacky pun sesekali memperhatikan ke arah Raisya. Dia tak mau banyak bicara. Dia sedang mogok bicara rupanya karena kesal sekali.


Tak terasa malam terus berjalan. Jacky meringkuk di atas sofa tak terasa handphonenya jatuh dari genggaman tangannya.


Pluk


Benda itu jatuh tepat di lantai. Suara itu masih terdengar jelas oleh Raisya. Dia melihat ke arah Jacky, dia ternyata tertidur pulas. Dia memang tipe manusia yang mudah tidur jika menempel pada bantal. ***** alias nempel langsung molor.


Raisya merasa bagian bawahnya menekan-nekan ingin buang air kecil. Dia langsung dari ranjang dan ingin berjalan ke arah toilet sambil memegang rak infus.


Suatu gelinding dari rak infus langsung membuat Jacky terbangun. Dia mengedipkan mata, lalu bangun dari pembaringannya.


Dia berdiri lalu mendekati Raisya yang sedang membawa rak infus. Jacky langsung sigap memegang rak infus tanpa banyak berbicara. Raisya menoleh ke arah Jacky, tapi dibalas Jacky dengan dingin. Jacky tak memperdulikan Raisya sedang melihatnya. Pandangannya tetap lurus ke depan.


Begitu masuk ke dalam toilet, "Pintunya jangan dikunci!" Jacky bicara datar,. disusul dengan anggukan Raisya tanda dia menyetujuinya. Jacky menunggu di depan pintu toilet.


Tak lama setelah membuang air, Raisya keluar dari toilet. Jacky membantu mendorong besi rak infus dari arah samping.


Raisya kembali naik ke atas ranjang dan berbaring kembali. Jacky menarik selimut menutupi badan Raisya setengah badan dan mencoba merapihkan nya tanpa banyak bicara.


Jacky berjalan ke arah sofa. Raisya hanya bisa menatap punggung Jacky yang sedari tadi diam membisu. Entahlah Raisya merasakan hal yang canggung. Mereka saling diam.


Keduanya pun kembali berbaring, Jacky pun kembali tidur dengan cepat sedangkan Raisya hanya bisa memejamkan matanya tapi pikirannya masih berjalan-jalan.


Apa.. Jacky marah padaku? Ahh.. dia memang seperti itu kalau marah. Diam membisu.. pura-pura tidak peduli, seperti dulu. Aku tak suka dia seperti itu..

__ADS_1


Raisya hanya berbicara di dalam hati.


Lama-lama Raisya pun tertidur entah j berapa dia menutup mata.


Sayup-sayup terdengar adzan. Raisya bertayamum untuk melakukan shalat subuh dengan posisi berbaring. Setelah salam dia melihat ke arah Jacky yang masih tertidur.


Kring...


Suara alarm dari handphone Jacky berbunyi. Semalam dia sudah memasang alarm di handphonenya agar tidak bangun kesiangan. Jacky mengucek matanya lalu bangkit dari sofa. Matanya langsung mengarah ke arah ranjang, tanpa sadar kedua netra beradu pandang karena Raisya sedari tadi memperhatikan Jacky.


Buru-buru Jacky menarik pandangannya dan berdiri lalu berjalan ke arah toilet akan membersihkan diri bersiap-siap untuk pergi ke kantornya.


Tak lama kemudian tercium wangi sabun dan shampo begitu Jacky keluar dari toilet. Dia hanya menggunakan handuk setengah badan dan dengan santainya berjalan menuju lemari dimana dia menyimpan baju ganti dirinya juga Raisya.


Sontak Raisya memejamkan mata, tak ingin melihat pemandangan yang menurutnya adalah aurat laki-laki.


Jacky memakai pakaian tanpa canggung di ruangan itu. Sekarang dia tinggal memasangkan dasi di depan cermin. Aroma parfumnya langsung menyeruak begitu Jacky menyemprotkan pada baju juga bagian-bagian tertentu di badannya.


Jacky tak sadar sedang diperhatikan oleh Raisya. Dia berjalan ke arah sofa dan memasukan kaos kakinya juga sepatu khusus untuk berangkat bekerja. Tak lupa jas yang senada dengan warna celananya dia pakai setelah selesai memakai sepatu.


Ini kali pertama melihat Jacky di pagi hari dengan penampilan terbaiknya. Raisya begitu kagum melihat sosok laki-laki di depannya. Tapi entahlah.. kemana hati yang dulu pernah hinggap.


"Aku pergi dulu! Jaga dirimu!" Hanya ucapan itu yang dikatakan Jacky. Datar, dingin dan begitu acuh.


Raisya hanya mengangguk, tidak bicara sepatah katapun. Dia hanya menatap punggung Jacky sampai hilang dari pandangannya.


"Kenapa dia? Rasanya menjadi aneh kalau melihat dia seperti itu." Raisya hanya bergumam dalam hati mengomentari sikap dingin Jacky.

__ADS_1


Jacky belum sarapan. Dia berniat untuk sarapan di kantor saja. Selain untuk menghindari macet, dia tak mau makan di kantin klinik malas untuk bertemu dengan dokter Ferdi. Karena tadi selintas dia melihat dokter Ferdi masuk ke dalam kantin dengan penampilan terbaiknya pula. Karena pagi itu dia pun akan pergi ke rumah sakit dimana dia bekerja.


Jacky melangkah ke area parkir depan klinik.


"Om.Jacky... " Ada seseorang memanggilnya. Sontak Jacky mencari asal suara itu. Dilihatnya ternyata Michael sudah berdiri di seberang jalan hendak menyebrang. Jacky berjalan ke pinggir trotoar hendak menyebrang.


Pandangan Michel yang tertuju pada Jacky tidak memperhatikan sisi kanan kirinya dia tak sadar langkah kakinya terlalu depan dari trotoar pinggir sekolahnya.


"Michel awas... " Jacky berteriak kencang sambil berlari begitu melihat sebuah motor menyalip dari bahu kiri mobil yang akan melintasi di depan Michel. Naasnya Jacky pun karena panik tidak memperhatikan mobil di sisi kirinya yang sedang melaju. Akhirnya Jacky terpental beberapa meter tertabrak mobil yang sedang melintas.


"Om.... " Michel berteriak histeris. Melihat Jacky sudah meringkuk dengan bersimbah darah karena membentur aspal jalanan.


Jalan mendadak macet karena kecelakaan. Beberapa polisi segera datang begitu dihubungi oleh salah satu pengendara yang memberitahukan kecelakaan.


"Om... jangan mati om..! Michel begitu ketakutan melihat Jacky belum sadarkan diri. Dia ditarik blangkar ke klinik untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Dokter Ferdi yang tengah siap-siap berangkat ke rumah sakit, langsung mendapatkan panggilan. Dia langsung berlari ke arah ruangan UGD ditemani dokter jaga.


"Michel.. " Dokter Ferdi mengerutkan dahi melihat Michel yang sedang menangis.


"Tolong dokter.. selamat om Jacky... " Pintanya dengan suara yang menghiba.


"Kamu tenang ya!" Dokter Ferdi langsung berjalan mendekati blankar. Dilihatnya korban kecelakaan itu yang sudah terkulai lemas yang berselimut darah. Wajah tampannya kini tidak jelas, begitupun bajunya yang tadinya rapih dan necis kini kotor karena debu sudah bercampur dengan darah.


"Gunting semua bajunya!" Dokter Ferdi memerintahkan beberapa perawat untung membuka pakaian Jacky untuk memeriksa lukanya.


Setelah pakaian Jacky terlepas. Perawat membersihkan darah dan dokter Ferdi memeriksa luka-luka Jacky dengan detail.

__ADS_1


"Siapkan ambulans! Dia harus dibawa ke rumah sakit besar." Ucap dokter Ferdi langsung memerintah beberapa pekerja medisnya.


Dokter Ferdi langsung menghubungi rumah sakit milik keluarga Alberto untuk menyiapkan kedatangan Jacky ke sana.


__ADS_2