Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Sebuah penyesalan.


__ADS_3

Dokter Ferdi mengambil isi dompetnya lalu melempar begitu saja uang itu ke tubuh Raisya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Dia sudah mandi dan rapih memakai baju hendak pergi meninggalkan kamar hotel. Raisya yang seperti tertidur pulas, padahal pingsan tidak merespon apapun. Ya tentu saja sejak dokter Ferdi menyentuhnya kesadaran Raisya sudah berpindah alam.


Dokter Ferdi pergi begitu saja entah kemana.


Setelah sehari semalam pingsan, akhirnya tubuh Raisya pun bergerak. Tandanya Raisya sudah sadar.


Ada nyeri yang Raisya rasakan di bagian intim bawahnya. Raisya hanya bisa meringis dan menatap seluruh tubuhnya.


"Ahhhh.." jeritan itu menggema ke seluruh kamar hotel yang sedang dihuninya. Untung saja kedap suara sehingga tidak terdengar sampai kamar sebelah.


Hik hik hik


Raisya menarik selimut sambil sesenggukan menangis.


Dasar kurang ajar... Bagaimana aku harus menjalani hari esok?


Guman Raisya dalam tangisnya. Hatinya hancur berkeping-keping setelah dokter Ferdi dengan liciknya menotok beberapa titik dan mem***Raisya dengan seenaknya.


"Ahhh" Hanya jeritan yang keluar dari mulutnya. Ingin sekali dia mengakhiri hidupnya. Tapi... bagaimana dengan kedua anaknya, Michel dan Arsel? Kedua permata yang sangat dia cintai.


Tak bisa dibayangkan kalau keduanya hidup tanpa dirinya, bakal apa jadinya.


"Tapi bagaimana kalau aku sampai hamil? Apa kata dunia? Akankah seluruh alam merutuki nya sebagai wanita tak bermoral? Ya Allah... harus bagaimana aku? Apakah aku harus membawa noda hitam ini seumur hidupku?Apakah ini adalah hukuman buatku karena telah mengambil ayahnya? Kurasa itu tidak adil."


"Aku... harus pulang."


Itu yang diucapkan seorang wanita yang telah hancur hatinya. Dia hanya ingin pulang.


Perlahan Raisya memunguti baju-bajunya, lalu melangkah ke kamar mandi dengan menahan perih dan pedih.


Begitu shower terbuka Raisya menggosok badannya kasar. Dilihatnya seluruh badannya di cermin. Tanda merah yang berjejer, seolah seperti noda yang susah dihilangkan. Tanda-tanda percintaan yang ditinggalkan dokter Ferdi terasa perih di hati Raisya. Bersamaan dengan air shower yang jatuh di lantai, deraian air mata nya kian deras juga jatuh di pipinya.


Raisya terus saja menggosok badannya sampai hampir terluka, seolah itu dosa yang harus dibersihkannya.

__ADS_1


Raisya bergerak lemah memakai bajunya kembali. Dengan langkah lunglai dia akhirnya meninggalkan kamar itu. Kamar yang menjadi saksi kebejatan seorang dokter dan sekaligus kakak yang tak diharapkannya untuk kembali bertemu.


Berbekal uang yang tercecer di kasur, Raisya memutuskan untuk naik taxi. Karena ketika meninggalkan rumah, Raisya tak membawa sepeserpun uang juga tak membawa handphone nya.


Entah harus bergembira atau malah jijik. Karena dengan uang itu dia bisa membayar argo taxi yang sudah ditumpanginya.


Begitu sampai, rumahnya nampak sepi. Raisya yang sudah kehilangan semangat dan rapuh, hanya menatap rumah sepinya dengan pandangan sayu.


Lantas dia membuka handle pintu rumah, tapi tidak juga terbuka karena terkunci. Raisya yang seharian belum makan dan minum karena pingsan, sekarang dia hanya duduk di kurs.


Raisya sepertinya akan pingsan lagi, kalau bukan karena kedatangan Sarah dan Adam yang cepat menolongnya. Ketika berita kematian bapaknya diterima Sarah dan Adam segera terbang ke Indonesia dari Singapura.


"Raisya... " Sarah memanggilnya. Dia kaget melihat Raisya hampir melorot dari kursinya yanga sedang didudukinya.


Raisya hanya membuka matanya sedikit lalu kembali menutup matanya.


"Mas.. tolong pangku Raisya ke mobil! Kita mesti ke rumah sakit." Sarah langsung menyuruh Adam untuk membawa Raisya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


Tak lama kemudian Raisya sudah sampai di rumah sakit dan mendapatkan perawatan.


"Mah.. Sarah langsung ke rumah sakit. Raisya pingsan mah." Sarah segera mengabari ibunya. Dari kemarin ibunya sudah khawatir. Semenjak kepergiannya dengan dokter Ferdi, Raisya belum juga pulang ke rumah.


"Raisya.. kenapa dia Sar?" Ibunya yang masih bersedih dan masih di pekuburan, kini hatinya semakin sedih ketika mendengar Raisya pingsan.


"Dehidrasi mah.. Sekarang susah diinfus. Maaf mah.. Sarah jadi telat datang ke pekuburan." Sesal Sarah yang tidak keburu menyaksikan bapak sambungnya dikuburkan.


"Gak pa-pa. Titip Raisya dulu ya Sar. Mamah belum bisa jenguk." Ucap ibunya Raisya lemas. Badannya sedang ditopang Dira.


"Iya mah.. mamah jangan lupa jaga kesehatan! Nanti Sarah langsung ke rumah ya mah.. kalau Raisya sudah baikan." Ucap Sarah sambil menutup telepon karena dia mendapatkan panggilan dari salah satu dokter jaga di UGD.


"Maaf adik anda sepertinya kena asam lambung juga trauma." Dokter yang tadi memeriksa Raisya memberikan informasi.


"Apa perlu melakukan visum? Saya akan menunggu izin dari anda sebagai walinya." Terang seorang dokter yang mendapati pendarahan di bagian intim Raisya.

__ADS_1


"Visum?" Adam dan Sarah serempak mengatakan kata visum. Keduanya saling memandang?


Apa yang terjadi dengan Raisya


Itu yang sedang dikatakan keduanya, tapi sayang hanya di dalam hati.


"Menurut dokter adik saya mendapatkan kekerasan seksual?" Sarah yang juga seorang dokter langsung mengerti.


"Sepertinya begitu." Dokter itu kembali menjawab sesuai pengetahuannya.


"Baiklah. Saya minta adik saya diperiksa secara detail!" Sarah yang sekarang sebagai walinya memberikan perintah pada dokter untuk memeriksa Raisya lebih detail.


"Iya baik." Dokter itu langsung membawa Raisya ke tempat visum juga melakukan beberapa pemeriksaan sesuai prosedur.


Adam menautkan kedua alisnya tidak mengerti apa yang sudah terjadi dengan Raisya.


"Yang.. kenapa dengan Raisya?" Bibir Adam akhirnya mengeluarkan suara.


"Aku juga tidak tahu. Menurut mamah sih.. Raisya pergi dengan dokter Ferdi, anaknya bapak." Sarah sama bingungnya. Pikirannya begitu rumit memikirkan masalah yang sedang terjadi dengan keluarganya. Setelah bapak menceritakan rahasia lamanya yang membuat semua orang kaget, sekarang Raisya malah sakit dan seperti setengah gila.


"Apa mungkin Ferdi yang melakukannya?" Adam. bertanya kembali.


"Aku juga tidak tahu." Sarah tidak mau asal. menuduh.


"Kasihan juga Raisya. Baru saja dapat masalah, sekarang kena musibah lagi." Adam memeluk istrinya. Dia tahu sekarang Sarah sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya Adam memberikan dukungan pada Sarah.


Niat akan memberi suprise pada Raisya malah mereka berdua yang kena kaget dengan kondisi Raisya sekarang.


Dilain tempat Ferdi sedang termenung. Memikirkan perbuatannya pada Raisya.


Kenapa aku jadi sebejat ini ya? Ya Allah..aku jadi pendosa. Kenapa aku bisa menyakiti orang yang paling kucintai? Kenapa dengan diriku? Bagaimana kalau Raisya hamil? Aku sudah menghancurkan masa depannya. Kenapa aku bisa sejahat itu pada orang sebaik Raisya... Sungguh aku adalah orang terjahat Raisya.


Ferdi menatap laut lepas yang sedang menggulung ombak yang saling menyusul. Ingin sekali dia menceburkan diri dan tak muncul lagi.

__ADS_1


__ADS_2