
"Yangg... kok melamun?" Ratna melihat suaminya dari tadi melamun.
"Gue bingung beb.. apa gue keluar aja?" Irwan membalikkan tubuhnya melihat istrinya, Ratna.
"Maksudnya keluar dari mana?" Ratna menatap. inten wajah suaminya yang terlihat bingung sejak pulang dari kantor.
"Keluar kerja." Ucap Irwan.
"Alasannya?" Ratna mengerutkan kening berusaha mendengarkan keluhan suaminya.
"Nathan menggantikan pak Adam sekarang. Terus gue diangkat jadi kepala divisi. Gue bingung beb.. pastinya gue bakal inten deket sama pak Nathan." Akhirnya dia berterus terang pada Ratna.
"Mmmm.. " Ratna tak buru-buru menanggapi. Dia tahu suaminya butuh waktu untuk berpikir baik buruknya.
"Menurut kamu gimana beb?" Irwan tahu, pastinya Ratna akan merasa berat jika Irwan harus keluar kerja. Selain gajinya yang sekarang lumayan besar, dia masih membutuhkan modal untuk pengembangan usahanya.
"Ya.. aku tahu kayanya ayang.. berat karena harus menutupi keberadaan Raisya dari pak Nathan, bukan masalah pekerjaannya." Ucap Ratna dengan penuh kelembutan. Ratna dan Irwan memang sudah berjanji akan melindungi Raisya sampai dia menemukan suami yang cocok yang bisa melindunginya.
"Mmm.. karena aku curiga, kenapa aku yang harus diangkat jadi kepala divisi? Padahal masih banyak orang yang kompeten di bidang itu kenapa harus aku?" Sambung Irwan yang agak mencurigai pengangkatan dirinya.
"Kerjaaan aku pastinya mengekor kemana dia pergi. Selain waktuku jadi sedikit buat kamu beb, juga sama anak-anak, aku khawatir Nathan mencurigai aku. Nanti bagaimana kalau dia tahu Raisya bareng sama kita?" Irwan sangat mencemaskan keselamatan Raisya.
"Apa tidak curiga kamu langsung keluar yang? Kalau mau keluar sebaiknya kita membuat alasan yang tepat, biar dia tidak curiga." Saran Ratna agar Irwan tidak terburu-buru.
"Gitu ya? Kalau aku mending sekarang sih? Soalnya kalau tidak.. aku takut kaya waktu itu beb.. waktu soal sama si Jacky." Ucap Nathan ketika Jacky mengetahui Raisya karena Irwan terlalu polos.
"Ya... aku baiknya gimana kamu aja yang. . " Ratna tidak mau memaksakan sarannya. Kasihan juga kalau Irwan menjadi beban karena harus menutupi keberadaan Raisya dari Nathan.
"Tapi kamu tidak apa-apa kan? Aku jadi tidak punya gaji." Irwan harus memastikan kalau Ratna tidak keberatan tentang niatnya akan keluar dari perusahaan.
"Tidak.. malah aku seneng. Jadi kita bisa mengembangkan usaha kita bareng-bareng. Aku kan suka gak fokus sama-sama anak-anak, begitu juga Raisya. Kalau ada kamu kita seriusan saja usaha kita. Ya mudah-mudahan kedepannya bisa menjadi perusahaan besar kalau ditangani serius." Ucap Ratna tidak mempersoalkan keluarnya Irwan dari pekerjaannya.
"Ma.kasih ya beb... kamu sudah ngertiin aku... " Irwan mengecup kening istrinya lalu memeluk erat Ratna. Keduanya saling menguatkan dikala senang dan susah.
"Sama-sama.. I love u.. " Ratna membenamkan kepalanya di dada bidang Irwan.
__ADS_1
"Ah... kalau sudah begini jadi pengen adik buat si kembar... " Irwan langsung action bergerilya.
####
"Eh... aku kemarin sudah beli model baru lho di toko online langganan aku." Siska heboh memperlihatkan layar handphonenya pada temen-temen sekelasnya.
"Weis.. kerenn... Aku juga mau deh. Apalagi murah begini." Mira mengomentari pembicaraan Siska.
"Kalau mau barengan aja! Ada bonus potongan harga juga. Apalagi kalau dateng ke showroom kita bisa dapet spesial member lho!" Siska yang sudah lama berbelanja online di toko langganannya menjelaskan pada teman-temannya. Michel yang ada di bangku belakang hanya diam menyimak saja. Selain dia anak baru dia tidak terlalu minat berbelanja seperti anak-anak yang lainnya.
"Hei.. anak baru.. kamu mau ikutan?" Siska menawari Michel yang tidak heboh seperti anak-anak lainnya.
"Mmmm... " Michel bingung mau menolak tapi tidak enak.
"Ayoo.. nih liat bagus-bagus!" Siska yang tadinya dikerumuni anak-anak keluar dari circle lalu mendekati Michel.
Michel terpaksa melihat layar handphone Siska. "Aku... gak pernah belanja online. Biasanya aku belanja sama ayahku." Tolak Michel.
"Lah.. biarin kamu kali-kali harus mandiri jangan kaya anak mamih!" Siskan menepuk Michel.
Semua perhatian jadi tertuju ke Michel. Selain Michel anak baru, dia juga menjadi pusat perhatian karena wajahnya unik karena bule. Biasa orang Indonesia biasanya kalau melihat orang bule suka heboh, begitupun dengan adanya Michel. Saat ini Michel jadi trand topic diantara teman-temannya.
"Halo dad.. " Ucap Michel pada Nathan.
"Iya ada apa sayang?" Jawab Nathan menghentikan pekerjaannya yang sedang memeriksa beberapa berkas.
"Dad.. boleh gak aku belanja baju sama-sama teman-teman?" Michel agak mengangkat bibirnya karena agak berat juga harus menyampaikan pada ayahnya.
"Mmm... bukannya baju kamu masih banyak?" Nathan yang sudah terbiasa mengurus kebutuhan Michel, jadi tahu stok baju dalam lemari Michel.
"Mmm... jadi.. daddy... tidak mengizinkan?"
"Eh.. ini murah lho om.. kita belanjanya barengan kok!" Siska yang terbilang berani langsung menimpali begitu saja pembicaraan antara Michel dan Nathan.
"Mmmm... ya udah. Kamu belanja online atau ofline?"
__ADS_1
"Offline om.. sekalian pinjem mobilnya om!" Siska memang termasuk anak yang pemberani.
"Mmm.. ya udah nanti diantar sopir ya!" Ucap Nathan agak mengerutkan dahi karena dia agak mendengar suara asing yang menjawab pertanyaannya.
"Ma kasih om!. Tuh kan.. daddy kamu baik." Siska merangkul Michel sok akrab.
"Ma kasih dad.. " Ucap Michel agak sungkan sama Nathan karena sikap Siska yang terlalu berani.
"Iya.. Hati-hati ya!"
"Baik yah, dah!" Ucap Michel mengakhiri percakapan.
"Chell... daddy kamu kerja dimana sih? Kenapa bilangnya enggak sama ibu kamu?" Siska agak. kepo sama Michel karena kebetulan Michel anak baru.
"Mmm... kerja kantoran. Aku single parent." Jawab Michel agak bingung.
"Sorry..!"
"Ga pa-pa."
"Ya udah.. nanti kita langsung belanja ke tempatnya aja! Kan tadi daddy elu udah ngizinin kita nebeng mobil elu." Michel hanya mengangguk.
Setelah sopir pribadi menjemput Michel, mereka pun pergi ke tempat yang dituju. Tempat penjualan online ini berada di sekitar perumahan, memang tidak terlihat mewah. Dari depannya malah hanya terlihat seperti ruko tapi berlapis kaca.
"Selamat pagi mbak.. aku mau belanja offline sama mau daftar member."Ucap Siska pada pelayan.
"Oh iya silahkan duduk! Tunggu sebentar ya!" Jawab pelayan itu ramah.
Michel duduk sambil mengamati isi ruko itu yang banyak stok di rak-rak. Berbeda dengan teman-temannya yanga asik melihat handphone.
Netra Michel beralih ke satu ruangan yang berlapiskan kaca. Dia menajamkan pandangannya ke dalam ruangan itu sambil mengamati pelayan tadi berbicara dengan seseorang.
Degg
"Bunda... " Bibir Michel bergetar.
__ADS_1