Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Lidah tak bertulang


__ADS_3

"Eh.. pak.. saya mau dibawa kemana? Saya harus pulang pak! Saya juga sudah lelah." Keluh Raisya melihat Nathan ke samping.


"Berapa kamu dibayar untuk menemani tiap laki-laki?" Sungguh katanya tak berdasar langsung meluncur dari mulut Nathan tanpa ragu.


"Apa?" Raisya mengernyitkan dahinya.


"Ya.. aku lihat kamu begonta-ganti pengantar. Sepertinya kamu punya pekerjaan selingan." Dengan nada dingin dia tetap melajukan mobilnya sesuai keinginannya. Dia lupa niat semula yang ingin membantu Reza.


"Aku begonta-ganti pengantar?" Raisya masih belum mengerti apa yang dikatakan Nathan.


"Jangan pura-pura sok suci kamu!" Nathan semakin kesal melihat kepolosan Raisya. Padahal kenyataannya memang Raisya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nathan.


"Aku akan membayarmu sesuai, jika kamu mau menginap malam ini dengan ku!" Nathan mempertegas tujuannya pada Raisya.


"Apa???" Raisya pun kaget bukan kepalang menyimpulkan apa yang baru saja diucapkan Nathan.


"Sekarang juga turunkan aku disini! Kalau tidak, aku akan meloncat dari mobil ini sekarang juga!" Ancam Raisya dengan perasaan sedih bukan kepalang dituduh sebagai perempuan murahan oleh Nathan.


Klek


Semua pintu dan kaca langsung terkunci otomatis. Raisya langsung menatap Nathan dengan mata menyalang. "Dasar bajingan kamu Nathan!" Raisya langsung memukul tangan Nathan dengan sekuat tenaga dibarengi tetesan air mata yang sudah tak bisa ditahannya lagi.


Raisya merasa putus asa. Mungkin malam ini nyawanya akan dihabisi. Karena perbuatan laki-laki psikopat yang ada di depannya. Nathan hanya menyeringai licik dan tetap menatap ke depan fokus menyetir.


Raisya terus meronta-ronta memukuli Nathan. Sedangkan Nathan semakin membuka mulutnya untuk tertawa seakan menertawakan sebuah lawakan lucu.


Akhirnya Raisya menghentikan aksinya karena lelah. Lalu tertunduk menangis menyesali nasibnya yang harus berakhir di tangan laki-laki yang sekarang mungkin akan dia benci untuk selamanya.


Tid.....


Satu bunyi klakson mampu membangunkan seisi rumah. Seorang penjaga rumah langsung tergopoh-gopoh mendengar kode keras dari majikannya yang kurang kerjaan.


Pintu segera dibuka dan penjaga itupun memberi hormat tapi matanya sedikit mengintip ke dalam isi mobil yang sedang dikendarainya.

__ADS_1


Si bos bawa cewek rupanya. hhhmmm...


"Turun! Atau mau kupaksa? Kamu rupanya berselera sekali dengan pemaksaan." Lidah tak bertulang itu pun seperti rasa hunusan pedang terdengar di telinga Raisya. Sejak dari tadi Raisya hanya menundukkan kepalanya dan sesenggukan menahan kesedihannya yang membayangkan nasib dirinya malam ini di tangan Nathan.


Tanpa sadar bahwa Raisya sekarang sudah ada di depan sebuh rumah mewah milik Nathan dan dipaksa turun sesuai keinginan pemiliknya.


Handle pintu mobil pun dibuka paksa oleh pemiliknya. Nathan tersenyum puas melihat perempuan yang ada di depannya lemah tak berdaya dengan hati yang rapuh dan jiwa yang runtuh. Serupa bunga yang layu mendadak karena akarnya dicabut tanpa permisi.


"Aku senang memaksa. Dan gairahku akan meningkat melihat wanita yang selalu melakukan penolakan." Nathan membisikkan kata-kata itu di telinga Raisya membuat tangisannya kian kencang.


Melihat Raisya menangis lebih kencang bukannya merasa kasihan malah membuat Nathan semakin senang. Dia tertawa terbahak-bahak lalu melengos ke dalam rumahnya.


"Nona... kenapa tidak turun?" Penjaga itu mendekati Raisya. Dia heran melihat Raisya masih saja duduk di jok mobil sambil menangis.


"Nona sebaiknya anda turun sebelum tuan besar marah. Dia tidak akan berbuat kasar selama kita mengikuti keinginannya." Penjaga itu hanya bisa bicara sesuai dengan apa yang dia tahu, tapi tidak mengetahui apa yang dirasakan Raisya saat ini.


Keinginan?


Satu kata yang mudah diucapkan tapi mungkin akan sulit dilakukan. Itu yang terlintas di hati Raisya.


Raisya langsung turun. Dia melafalkan doa-doa berharap besar malam ini dia akan selamat dari ancaman laki-laki psikopat yang sudah berkuasa atas dirinya yang tak berdaya.


"Daddy... " Suara Michel terdengar merengek keluar dari kamarnya setelah suara teriakan tadi mampu membangunkannya.


"Sini sayang... coba lihat siapa yang daddy bawa malam ini?" Nathan menyeringai puas telah berhasil membawa Raisya ke rumahnya.


"Tante.... " Michel langsung menghamburkan dirinya memeluk Raisya. Dia terlihat bahagia sekali melihat kedatangan Raisya di rumahnya tanpa disangka-sangka.


Raisya yang baru saja sampai di depan pintu rumah besar itu agak kaget melihat Michel memeluknya. Raisya lalu menyamakan tinggi dengan Michel dengan duduk berjongkok.


"Tante... kenapa menangis? Tante sedih?" Tangan munggil itu menyeka bulir-bulir air matanya dengan lembut dengan tatapan polos sendunya.


Raisya hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan anak kecil yang masih bersih dari dosa.

__ADS_1


Nathan duduk bersilang kaki di atas sofa ruang tamu memperhatikan Interaksi dua orang perempuan beda umur. Dia hanya tertawa melihat aksinya berhasil membuat Raisya syok.


"Temani dia malam ini! Aku akan membayar mu sesuai dengan tarip mu semalam." Nathan lalu berdiri mendekati Raisya.


"Makanya jangan mesum! Aku tak berselera padamu!' Telunjuk nya mendorong Raisya ke belakang seperti memperlakukan orang bodoh.


Dasar laki-laki psikopat. Siapa juga yang bersedja menjadi istrimu? Yang ada tiap hari jantungan punya suami kaya elu! Pantesan saja kamu tidak punya istri.


Raisya hanya berani mengumpat dalam hati tanpa bisa mengeluarkan unek-uneknya.


Nathan lalu pergi sambil kembali berteriak.


"Ina... beri dia baju tidur kamu! Suruh dia tidur dengan Michel!"


"Baik pak!" Ina yang sudah tahu kebiasaan majikannya yang tak bisa dibantah langsung mengiyakannya.


"Bu Raisya ayo!' Ina langsung menarik tangan Raisya untuk berdiri. Raisya lalu berdiri langsung mengikuti Ina ke kamar Michel.


Michel menggenggam tangan Raisya dengan penuh suka cita. Sedangkan Raisya seperti robot berjalan yang tak mampu melawan ataupun melayangkan protes lagi.


"Maaf Bu Raisya. Ini piyama terbaik saya. Mohon maaf jika bajunya kurang pantas." Ina menyodorkan satu stel piyama tidur lengan panjang dan celana panjang yang mungkin cocok Raisya pakai.


"Terima kasih mbak Ina." Raisya menerima pinjaman piyama dari Ina dengan tangan yang masih bergetar.


"Bu Raisya ini kamar mandi Michel. Kalau sudah selesai ganti pakaian bu Raisya tidur dengan Michel di ranjang itu." Ina menunjukkan ranjang yang cukup besar yang dihiasi dengan warna yang didominasi warna pink.


"Baik." Raisya masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama pemberian Ina.


"Wah.. tante cantik.. " Michel berjingkrak begitu melihat Raisya keluar dari kamar mandi memakai piyama.


Kenapa juga harus segembira itu?


"Silahkan bu Raisya jika mau istirahat! Jika ibu membutuhkan saya, ibu bisa memanggil dari nomor Michel.

__ADS_1


"Baik mbak!" Raisya membaringkan dirinya di kasur lalu diikuti Michel tidur di sampingnya.


__ADS_2