Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Salah kamar.


__ADS_3

"Kan anaknya satu Ratna. Kok jadi dua?" Hendrik meski lama tidak pulang dirinya sering berkomunikasi lewat telepon dengan Ratna. Mendengar anak Raisya ada dua dia jadi heran. Dari cerita Ratna selama ini, Raisya hanya mempunyai satu anak laki-laki, Arsel.


"Iya memang Arsel saja. Tapi Arsel kan punya kakak dari Sherly. Anaknya nempel banget sama Raisya lho kak. Jadi kakak harus siap mental ke depannya jika kakak berniat ingin menikahi Raisya. Menurut aku Raisya juga gak mudah dideketin lho kak.. karena dia mikirnya ribet." Ratna yang selama ini dekat dengan Raisya tahu betul bagaimana karakter Raisya dalam menghadapi masalah.


"Iya. Gak masalah. Mau sepuluh juga kakak hadapi." Hendrik dengan tenang berbicara seolah hal itu bukan masalah.


"Kak.. " Ratna mengerutkan dahi heran melihat reaksi kakaknya.


"Apa?"


"Kenapa sih kak tidak nyari bini yang single atau gadis gitu loh kak." Ratna heran dengan sikap kakaknya.


"Udah pernah. Tapi gak cocok." Lagi-lagi Hendrik bicara santai.


"Ih.. seriusan kak. Kakak bilang gak cocok itu darimana nya sih? Belum juga dicoba." Sekarang giliran Ratna yang pusing dengan urusan percintaan kakaknya.


"Ya gak cocok aja Rat. Aku orangnya gak ribet. Perempuan suka ribet bikin aku susah mikir." Segudang pengalaman Hendrik dengan banyak perempuan selalu saja gagal untuk ke arah jenjang pernikahan. Pasalnya semua perempuan yang di dekatnya selalu merepotkannya.


"Lah.. emangnya Raisya tidak ribet gitu kak? Dia malah gak simple anaknya. Kalau mikir itu pake lama. Pake banyak pertimbangan dan.. banyak lagi. Kadang aku juga kasihan lihat dia kaya gitu. Coba kalau mikirnya disimple kan kak, kayanya nasibnya gak separah sekarang." Terang Ratna pada Hendrik.


"Gak pa-pa apa yang dia lakuin aku suka. Gak pernah gak suka. Menurut aku dia terlalu baik aja. Jadi semuanya bikin masalah pada dia. Dia aslinya perempuan baik Rat. Apapun jeleknya Rai aku tetep suka. Dia gak ribet malah." Entah alasan apa Hendrik yang selalu menyukai Raisya walau kondisinya seperti itu. Katanya yang gak suka ribet malah memilih kesulitan sendiri.


"Gak tau ah.. pusing mikirin kakak. Katanya gak mau ribet. Malah dia memilih Raisya. Kayanya kakak kebosanan memilih cewek saking playboy nya." Ratna menangkup dagu karena pusing menanggapi alasan Hendrik.


"Gak usah mikirin kakak. Happy aja say.. " Hendrik yang pembawaannya seperti itu memang sudah biasa santai.


"Eh.. cantikku.. sini sama uncle." Hendrik menyediakan kursi di dekatnya sengaja agar si kembar bisa duduk di dekatnya.


Si kembara Rara dan Diri menurut duduk di dekat Hendrik. Semua orang senang melihat si kembar bisa berkumpul satu meja di dekat Hendrik. Karena sejak kelahirannya Hendrik hanya melihat di dalam foto. Ya meski kadang-kadang. suka juga melihatnya lewat video call.

__ADS_1


"Mau uncle suapin?" Tawar Hendrik untuk si kembar.


"Mau... " Keduanya serempak menjawab.


"Kak.. biarin si kembar sama aku saja. Kakak kan capek." Ratna tidak Hendrik disibukkan oleh anak-anak nya karena pastinya dia capek.


"Gak pa-pa.. aku gak capek. Capek aku hilang dengan lihat mereka." Hendrik dengan telaten menyuapi si kembar.


"Drik.. kamu beneran mau tinggal di Indonesia?" Ayahnya melihat Hendrik yang sedang menyuapi si kembar.


"Beneran pih. Malah minggu depan aku mau ke Bandung." Jawab Hendrik menanggapi pertanyaan ayahnya.


"Ngapain ke Bandung?" Ratna agak curiga.


"Ada proyek barengan temen." Jawab Hendrik terus terang.


"Ini juga mau ikhtiar." Jawab Hendrik sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Bukan ikhtiar lagi sekarang harus langsung melamarnya. Kalau sudah ada calonnya." Ayahnya Hendrik sudah tidak sabar menunggu putranya untuk segera menikah.


"Iya deh pa. Nanti sambil ke Bandung aku langsung lamaran." Hendrik dengan santainya bicara.


"Maksud kakak melamar Raisya gitu?" Ratna kaget.


"Apa Raisya??" Tiga orang dewasa yang berada di meja kompak kaget ketika nama Raisya.


"Mmm." Jawab Hendrik pendek.


"Pa-pa gak setuju. Kalau mau nikah cari calon selain Raisya." Wajah ayahnya Hendrik tiba-tiba terlihat kecewa.

__ADS_1


"Papa... kenapa gak setuju?" Hendrik melihat wajah ayahnya begitupun yang lainnya. Mereka penasaran kenapa ayahnya tidak setuju dengan niat Hendrik.


"Pokoknya tidak setuju. Wanita tuh banyak Hendrik kenapa harus Raisya? Kayak kehabisan cewek aja. kamu!" Ayah Hendrik mendengus kesal.


"Iya.. oke. Tapi Hendrik pengen tahu alasannya dulu dong pa! Bukannya kalian sudah mengenal Raisya sejak lama? Apanya yang tidak setuju? Apa karena dia janda?" Hendrik mencoba menanyakan alasannya, kenapa ayahnya tidak menyetujui Raisya sebagai calon istrinya.


"Pokoknya ayah ingin yang terbaik buat kamu Hendrik. Jangan sampai kamu salah langkah. Raisya tidak tepat buat kamu. Cari perempuan yang tidak banyak masalah. Papa pengen hidup kamu seperti Ratna yang tidak ribet." Jawab ayahnya yang tidak menginginkan putranya menikahi Raisya.


"Oke. Nanti Hendrik pikirkan setelah proyek Hendrik rampung." Hendrik tidak terlalu ngotot atas keinginan ayahnya. Dia bukan tipe orang yang emosional. Bawaannya memang tenang dan tidak terlalu terburu-buru.


"Kalau proyek kamu beres. Papa perkenalkan anak kenalan papa sama kamu. Takutnya kamu lama mencari calon." Tiba-tiba suasana meja makan jadi hening. Semua orang merasa tidak nyaman atas apa yang dibicarakan ayahnya dengan Hendrik.


"Oke pa. Kalau aku belum dapat calonnya." Jawab Hendrik tidak banyak mendebat.


Setelah semua orang selesai makan, mereka beralih ke ruang keluarga untuk sekedar berbincang-bincang santai. Hendrik asik bermain dengan kedua ponakannya. Sedang Ratna dan ibunya asik membongkar oleh-oleh kakaknya yang selalu saja romantis. Ya Hendrik tipe laki-laki yang selalu mengutamakan kesenangan para keluarganya. Setiap bepergian tak lupa dia membeli oleh-oleh untuk setiap orang. Tak heran jika banyak wanita yang suka dengan kepribadian Hendrik yang romantis.


"Kak.. istirahatlah! Waktu bermain dengan si kembar masih banyak. Sekarang kakak istirahat" Irwan menghampiri Hendrik.


"Baiklah.. aku istirahat dulu ya!" Hendrik naik ke lantai dua.


"Eh kak.. itu kamarnya.. " Ratna tidak melanjutkan katanya setelah Irwan mengedipkan mata pada Ratna. Tak ingin papanya Ratna tahu bahwa Hendrik masuk ke kamar Raisya.


Hendrik masuk begitu saja lalu mengunci kamarnya. Sejenak pandangannya merasakan sesuatu keanehan dengan suasana kamar yang baru dimasukinya.


"Kamar siapa ini? Apa aku salah masuk kamar ya?" Hendrik mengedarkan pandangannya mengamati isi kamar itu. Meja rias yang penuh dengan alat-alat kosmetik perempuan dan satu lagi. Foto Raisya dengan Arsel ada di meja itu.


"Apa ini kamarnya?" Hendrik duduk di tepian kasur.


"Ah bodo amat."

__ADS_1


__ADS_2