Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Tiba-tiba dilamar


__ADS_3

Jason terdiam mencerna apa yang dibicarakan Raisya.


"Apa pak Jason kecewa?" Raisya menoleh pada Jason yang sedang menatap ke depan sambil memegang kaleng minuman.


"Tidak. Kenapa harus kecewa? Meski kamu lupa. yang penting aku ingat." Jawabnya sambil menoleh sebentar lalu menundukkan pandangan. Entah apa yang dilihatnya di sekitar pasir yang tepat dibawahnya.


"Terimakasih telah mengingatku. Apa boleh aku minta pak Jason menceritakan kejadian pertemuan kita?" Pinta Raisya ingin tahu.


"Tak ada yang penting." Jason kembali meneguk minuman itu untuk menutupi rasa gugupnya.


"Loh.. katanya saya cinta pertama anda? Kok sekarang tidak penting?" Raisya mengerungkan mata mendengar jawaban Jason yang ambigu.


"Tak perlu diceritakan. Biar dia jadi cerita lama." Jason tak mau menceritakan kejadian itu semata-mata tak ingin merusak hubungan Raisya dan pak Baron.


"Ya cerita lama yang akan menjadi cerita baru. Sebelumnya aku minta maaf jika membuat pak Jason tidak nyaman." Raisya menarik nafas panjang lalu menghembuskan kembali dengan kasar.


"Kenapa harus minta maaf? Toh tak ada yang salah." Jason menjawab pernyataan Raisya.


Raisya menoleh dan melihat Jason dengan tajam.


"Apa semudah itu anda berubah? Kemarin anda terlihat hangat, tapi sekarang anda terlihat dingin. Apa ada yang salah dengan saya pak Jason?" Tanya Raisya heran.


"Berubah?" Jason menoleh ke arah Raisya.


"Ya, Aku rasa ada yang berubah, entah sejak aku mengatakan bahwa aku menyukai pak Baron?" Jawab Raisya menduga-duga.


Jason terdiam. Rasanya enggan untuk membahas hal itu.


"Kalau memang benar, anda mungkin telah salah paham." Ucap Raisya ingin menjelaskan sebenarnya.

__ADS_1


"Saya memang menyukai pak Baron, tapi hanya sebatas sebagai karyawan bukan sebagai lawan jenis. Saya tahu diri siapa saya ini?" Raisya menggantikan kata aku dengan saya.


"Aku hanyalah seorang janda beranak satu ditambah lagi anak suamiku, dan aku bukan perempuan dengan masalalu baik." Mata Raisya berkaca-kaca.


Jason menatap Raisya. Seolah ingin membaca apa yang dalam pikiran perempuan yang kini berada di sampingnya.


"Aku tak ingin memberi harapan pada siapapun. Dan aku hanya berusaha semampuku untuk mengumpulkan sisa energiku untuk membangun kembali masa depan. Jadi jangan berharap besar padaku!" Raisya akhirnya tak kuasa menitikkan air matanya di depan Jason.


Jason terdiam. Lalu dia mengumpulkan energi untuk bicara. Helaan nafas terdengar diulang-ulang mengatur hati yang sedang bergejolak.


"Setiap orang punya masa lalu. Entah itu baik ataupun buruk. Tapi setiap orang punya kesempatan untuk membangun masa depan. Aku pun sama sepertimu mempunyai masa lalu yang mungkin menurutku juga kurang baik. Tapi biarlah, masa lalu tidak akan kembali kalau kita tak mengulang kembali kesalahan yang kita perbuat. Aku tak ingin memaksa siapapun untuk menyukai ku. Dan aku pun tak mau memaksakan diri untuk menyukai orang lain jika orang lain tidak menyukai ku." Itu yang selalu diterapkan dalam diri Jason selama ini.


"Lalu apa yang membuatmu menyukai ku?" Tanya Raisya penasaran.


"Aku yakin kamu perempuan yang baik. Waktu itu aku kehilangan dompet karena telah dicopet di atas bis. Kamulah yang membayarkan ongkos waktu itu pada kondektur. Dan dari sana aku yakin bahwa kamu adalah orang baik yang pernah aku temui. Kalau waktu itu kamu tidak menolong ku, mungkin sampai sekarang aku tidak akan mengingatmu." Ucap Jason tanpa sadar dia telah menceritakan kisah pertemuan dengan Raisya.


"Begitu ya?" Raisya menganggukkan kepala.


"Ya.. buatku tidak semata-mata Allah membuat skenario kecuali memang ada tujuannya. Buktinya kita sekarang bertemu lagi? Bukankah begitu?" Jason percaya di dunia ini tidak ada yang serba kebetulan. Kecuali memang Tuhan sudah berkehendak.


"Mmm.. benar. Aku rasa aku setuju." Raisya meneguk air miliknya. Lalu menyimpan minuman kaleng itu di atas pasir. Dia membuka kresek dan membawa camilan untuk dinikmati sambil mengobrol.


"Sini aku bukain!" Tawar Jason menawarkan jasa.


Raisya menyodorkan sebungkus camilan berbungkus cerah yang berisi kripik.


"Cewek memang suka nyemil ya?" Ucap Jason sambil kembali menyodorkan bungkusan yang berisi kripik singkong rasa balado pada Raisya.


"Kadang-kadang. Tapi gimana orangnya juga. Kalau aku sih gak terlalu. Hah.. tiba-tiba aku jadi inget sahabatku Ratna." Jawab Raisya sambil tersenyum lalu menyuapkan kripik itu pada mulutnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Jason dengan setia mendengarkan apa yang diceritakan Raisya. Dengan begitu sedikit demi sedikit dia bisa mengetahui siapa Raisya.


"Ya aku mempunyai sahabat bernama Ratna. Dia hobi nyemil dan nonton drakor. Dulu sewaktu aku sakit di rumah sakit, dia sampai belanja beberapa kresek cemilan hanya untuk menemaninya nonton. Jangan tanyakan di dalam kamarnya seperti apa? Ha ha... " Raisya tertawa mengingat kondisi kamar Ratna yang penuh camilan bukan boneka saking hobinya nyemil.


"Maksudnya kamarnya penuh dengan aneka cemilan?" Jason menebak apa yang terjadi dengan kondisi kamar sahabat dari perempuan yang kini sedang mengunyah kripik itu.


"Mmm.. " Raisya menganggukkan kepala. Lalu menyodorkan kripik itu pada Jason menawarkan kripik yang telah dibukanya untuk sama-sama dinikmati.


"Aneh sekali. Biasanya kamar perempuan penuh boneka. Aku baru dengar kalau ada kamar seperti itu." Jason tidak menolak tawaran Raisya. Dia mengambil kripik itu meski dirinya memang tidak terlalu hobi nyemil.


"Nah... itu dia. Bahkan sampai sekarang juga. Untung suaminya baik hati dan pengertian. Dia sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti Irwan." Pandangan Raisya seolah menembus jauh sampai ke rumah Ratna saat ini membayangkan kondisi kamar sahabatnya yang masih sama sampai sekarang.


"Mmm... aku juga ingin menjadi suami pengertian dan baik hati. Apakah kamu mau menjadi istriku Raisya?" Tanya Jason seolah menohok Raisya.


Uhuk.. uhuk.. uhuk..


Raisya terbatuk karena kaget mendengar Jason melamar dia begitu saja. Dia tak menyangka kalau laki-laki di sampingnya itu akan melamarnya tiba-tiba.


Jason tanpa sadar langsung menepuk punggung Raisya dan menyodorkan minuman kaleng miliknya.


"Hati-hati!" Cemas Jason pada Raisya yang melihat wajah Raisya kini merah karena menahan nafas karena tersedak.


Perlahan-lahan nafas Raisya kini pulih. Lalu Raisya pun meneguk minuman itu agar tenggorokannya melonggar.


"Terima kasih!" Ucap Raisya.


"Loh.. ini kan?" Raisya baru sadar bahwa kaleng minuman yang sedang dipegangnya bukan miliknya.


"Gak pa-pa! Aku sehat kok! Tidak mengidap penyakit berat. Jadi jangan khawatir tertular!" Jason dengan santai mengambil kembali minumannya lalu meneguknya sampai habis.

__ADS_1


Raisya hanya melongo melihat sikap Jason seperti itu.


"Bagaimana apa kamu mau, menikah denganku?" Tanya Jason kembali mengulang pertanyaannya.


__ADS_2