
Raisya demam tinggi dan dari lubang hidungnya keluar darah. Michel syok melihat Raisya seperti meracu tidak sadar diri.
"Nathan.. Nathan.. " Beberapa kali Raisya menyebut nama Nathan tanpa sadar. Tubuhnya yang demam membuat kesadarannya menurun.
Michel keluar kamar mencari bi Siti.
"Bi.. bi Siti.. mama bi.. " Michel yang panik matanya berkaca-kaca sambil mencari-cari bi Siti. Dia sangat ketakutan melihat Raisya sakit. Michel sangat takut kalau dirinya ditinggalkan Raisya mati.
"Kenapa non?" Bi Siti ikut cemas melihat Michel seperti itu.
"Mama bi.. mama.. " Michel menutup mulutnya tangannya bergetar.
"Iya.. mama kenapa non?" Bi Siti menahan bahu Michel yang sedang takut. Sekarang bibirnya ikut bergetar.
"Mama.. panas bi. Hidungnya berdarah. Tolong mama bi..!" Mata Michel melihat bi Siti sambil memohon.
"Iy Iya.. bi Siti panggil mang Syarif ya. Non tenang.. temani mama dulu ya!" Bi Siti segera melepaskan tangannya dari bahu Michel dan bergegas ke depan mencari bantuan.
"Mang.. mang Syarif... " Bi Siti setengah berteriak dia mencari mang Syarif.
"Iya.. ada apa bi?" Mang Syarif yang mendengar bi Siti memanggilnya dengan nada cemas ikutan kaget.
"Bu Raisya... bu Raisya sakit.. mang panggilkan dokter!" Bi Siti nampak cemas sekali. Di rumah ini sudah beberapa kali kejadian yang menghebohkan membuat jantung bi Siti mudah cemas dan takut.
"Sakit? Sakit apa bi?" Mang Syarif yang tadi duduk langsung berdiri karena kaget. Dokter Ferdi dan mang Ius masih menyimak obrolan mang Syarif dan bi Siti.
"Kata non Michel panas sama keluar darah dari hidung. Mang Syarif cepetan panggil dokter! Takutnya bu Raisya ada apa-apa." Bi Siti gusar takut terjadi apa-apa dengan Raisya.
"Biarkan saya lihat!" Dokter Ferdi langsung berdiri.
"Eh.. anda siapa?" Bi Siti tidak boleh lengah. Karena baru kali ini dia melihat dokter Ferdi bertandang ke rumah majikannya.
"Saya.. temannya bu Raisya. Jangan khawatir saya dokter." Jawab dokter Ferdi.
"Tidak.. tidak.. saya tidak kenal anda. Lebih baik mang Syarif panggilkan pa Jacky atau tuan Robert." Bi Siti menatap dokter Ferdi penuh curiga. Meski dari wajah, dokter Ferdi jauh dari garang.
"Hei.. kalian tidak percaya? Dia selain dokter juga profesor juga. Apa kalian meragukan dokter Ferdi?" Mang Ius ikut kesal pada bi Siti dan mang Syarif yang tidak percaya pada dokter Ferdi.
Bi Siti dan mang Syarif saling memandang. Dia sedang berkomunikasi lewat tatapan
Apakah dia harus mempercayai orang yang ada di depannya atau tidak.
__ADS_1
"Baiklah. Anda boleh ikut dengan bi Siti tapi tidak dengan kamu! Kamu harus di sini bersama saya." Ucap mang Syarif yang memperbolehkan dokter Ferdi masuk bersama bi Siti, sedangkan mang Ius ditahannya di luar.
"Sebaiknya mang Ius bawa tas saya! Di sana ada alat-alat kedokteran. Letaknya ada meja kerja saya mang." Dokter Ferdi menyuruh mang Ius membawakan alat-alat kedokteran miliknya. Tak lupa dia memberikan kunci motornya pada mang Ius.
"Baik mas Ferdi. Saya pamit dulu!" Mang Ius berlalu untuk mengambil alat-alat yang dibutuhkan oleh dokter Ferdi.
"Apa anda benar dokter?" Bi Siti kembali bertanya.
"Iya. Kalau bibi tidak percaya nanti bisa datang ke klinik saya ya!" Dokter Ferdi tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan orang yang ada di depannya.
"Baiklah.. ikuti saya!" Bi Siti berjalan dengan langkah cepat. Dokter Ferdi mengikutinya dari belakang. Dokter Ferdi berjalan sambil sesekali memperhatikan sekeliling ruangan yang dilewatinya. Dia tak menemukan foto keluarga satupun yang ada di rumah itu. Dokter Ferdi merasa aneh.
"Silahkan masuk!" Bi Siti membuka pintu kamar.
Dokter Ferdi masuk diikuti bi Siti. Di tepian pinggir kasur sudah ada Michel sambil menangis mengusap-ngusap Raisya.
"Di rumah ini ada termometer tidak?" Dokter Ferdi bertanya pada bi Siti.
"Sebentar saya cari dok!" Bi Siti keluar kamar lalu mencari kotak P3K. Dicarinya benda yang tadi disebutkan dokter Ferdi.
"Dokter.. tolong mama.. " Michel melihat ke arah dokter Ferdi yang sudah berdiri di samping kasur sambil melihat Raisya.
"Iy Iya.. kok dokter tahu?" Michel menyeka kelopak matanya sambil bertanya. Kenapa laki-laki yang ada di depannya bisa tahu namanya.
"Mmm.. tadi saya meminjamkan mobil saya sama mama kamu, buat jemput sekolah kamu." Ucap dokter Ferdi.
"Oh.. om dokter Ferdi?" Michel jadi ingat apa yang dikatakan Raisya tadi siang.
"Iya."
Klekk
Bi Siti masuk ke kamar sambil membawa tas yang tadi dibawa mang Ius.
"Ini dok tasnya!" Bi Siti memeberikan tas dokter Ferdi dan termometer.
"Terimakasih." Jawab dokter Ferdi. Dengan cekatan dokter Ferdi mencek suhu tubuh dan memeriksa badan Raisya dengan stetoskopnya.
"Suhu badannya panas sekali. Kita harus mengecek darah bu Raisya. Jadi harus dibawa ke rumah sakit." Dokter Ferdi belum bisa menyebutkan penyakit Raisya. Untuk memastikannya dia harus diperiksa darah terlebih dahulu.
"Mama.. sakit apa dok?" Michel sangat cemas.
__ADS_1
"Belum bisa diketahui. Nanti kalau sudah diperiksa di laboratorium baru ketahuan penyakitnya." Jawab Dokter Ferdi.
"Dokter.. mama punya alergi obat. Jadi mama gak bisa makan obat sembarangan." Ucap Michel sedikit tahu tentang Raisya.
"Oh ya?" Dokter Ferdi langsung merenggut.
"Apa suaminya sudah diberitahu?" Dokter Ferdi harus menunggu keputusan walinya dulu sebelum membawanya ke rumah sakit. Dokter Ferdi melihat bi Siti. Mata bi Siti malah menatap Michel menunggu jawabannya.
"Maaf daddy saya baru meninggal dok!" Ucao Michel lirih.
"Oh.. maaf.. " Dokter Ferdi yang tidak tahu apa-apa, langsung malu.
"Mmm.. apa mau dibawa sekarang ke rumah sakit?" Dokter Ferdi bingung juga harus kepada siapa dia meminta izin.
"Sebentar saya mau telepon oppa dulu." Michel langsung mengambil handphone Raisya yang tergeletak di atas nakas.
Michel menekan nomor tuan Robert.
"Haloo oppa.. "
"Iya ada Michel?" Tuan Robert mengerutkan dahi. Dikiranya yang menelponnya adalah Raisya.
"Oppa.. mama mau dibawa ke rumah sakit." Michel memberitahu tuan Robert.
"Raisya kenapa Michel?" Tuan Robert kaget mendengar Raisya mau dibawa ke rumah sakit.
"Mama.. demam sama keluar darah dari hidung. Kata dokter harus dibawa ke rumah sakit." Jawab Michel sambil bergetar mengabarkan kondisi Raisya.
"Sekarang ada dimana?" Tanya tuan Robert.
"Di rumah. Tapi di sini ada dokter temennya mama." Michel melihat dokter Ferdi.
"Tolong berikan teleponnya pada oppa. Oppa mau bicara padanya.
"Baik. Om.. oppa mau bicara." Michel memberikan handphone pada dokter Ferdi.
"Hallo.. "
"Apa yang terjadi dengan Raisya?" Tanya tuan Robert
"Mmm.. kemungkinan bu Raisya terkena Dbd."
__ADS_1