Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Perfect


__ADS_3

"Perfect." Kata-kata itu meluncur dari bibir Marisa setelah melihat penampilan Raisya di make over.


"Sekarang ke lantai 3 untuk pemotretan!" Marisa menyuruh seseorang untuk membawa Raisya ke lantai 3 untuk pemotretan.


Duh.. gue beneran jadi kelincinya madam bos.


Raisya tak kuasa menolak. Bagaimana dengan pekerjaannya Raisya di kantor Beny? Itupun akan menyusul jadi masalah jika Beny nanti pulang.


Seorang fotografer langsung tersenyum begitu melihat seorang wanita yang akan menjadi objek fotonya.


"Baru madam?" Dia menelisik penampilan Raisya dari atas sampai bawah.


"Kayaknya belum unboxing madam." Komentar yang keluar dari seorang fotografer itu tak dimengerti Raisya. Hanya Marisa dan sang juru foto saja yang benar tahu artinya.


"Ya begitu kayanya. Masih Ori. Jadi butuh diarahkan." Marisa menjawab santai.


"Baik madam. Gue suka yang masih Ori!" Lalu dia terkekeh. Entah apa maksud dari pembicaraannya.


"Oke Cantik.. kita mulai action ya! Kamu ikuti arahan gayaku ya!" Sang juru foto mengarahkan gaya pada Raisya. Raisya dengan ragu dan malu mengikuti arahan sang fotografer. Maklum dia jadi model dadakan ditambah memang belum pengalaman.


Cekrek.. Cekrek.. Cekrek.. Sang fotografer seperti menikmati objeknya.


"Cut! Kita ganti model pakaian!" Marisa menghentikan pemotretan.


"Oke Madam." Seorang stylish kembali membawa baju yang sudah disiapkan Marisa untuk pemotretan. Setelah selesai berganti pakaian Raisya kembali diarahkan untuk bergaya okeh fotografer.


Seseorang Marisa melihat layar hasil jepretan di layar komputer yang terhubung pada kamera fotografer.


"Mom.. " Suara bariton terdengar memanggil Marisa.


"Halo honey.. " Marisa mencium pipi sang putra tercintanya dengan penuh kemesraan.


"Lihat! Perfect bukan?" Marisa menunjukan foto-foto Raisya pada Beny. Sepasang netra Beny menangkap sosok sederhana yang telah disulap bah seorang model berkelas di tangan Sang ibu.


"Mmm." Beny hanya bedehem. Tapi hatinya seolah sedang mengumpulkan kata dan pujian untuk sosok wanita yang sedang dilihatnya di layar komputer.


"Kamu pasti jatuh cinta sama dia! Momy sangat suka walaupun baru bertemu. Dia punya inner.. yang baik. Cocok buat kamu!" Dia menatap wajah putranya yang sedang melihat Raisya dalam pemotretan.


Beny biasanya tidak terlalu tertarik dengan aktivitas ibunya yang selalu membuat para wanita sebagai modelnya. Tak terkecuali Ria, perempuan berwajah funky dalaman hello kitty.

__ADS_1


"Madam.. apakah sudah cukup? Modelnya sepertinya sudah kelelahan!" Ucao Sang juru foto yang menangkap wajah Raisya agak bad mood. Pasalnya sekarang di depannya sudah ada Beny Sang bos sesungguhnya. Raisya tak enak hati meninggalkan pekerjaannya sementara harus memenuhi obsesi sang bunda bos.


"Mmm. Untuk sementara cukup dulu. Sini sayangku.. " Marisa melambaikan tangannya pada Raisya.


Raisya mendekati Marisa dan juga Beny. Raisya tak berani mengangkat wajahnya. Dia merasa malu dihadapan Beny yang sebentar lagi mungkin akan marah padanya karena berani meninggalkan pekerjaannya.


"Heh... kok nunduk gitu? Ayo lihat Beny!" Marisa malah menyuruhnya melihat Beny. Raisya tertunduk tak berani mengikuti perintah Marisa.


"Raisya.. aku akan pulang. Kamu sudah makan?" Beny menatap inten wanita yang ada di depannya. Kemarin-kemarin perhatiannya tak se-intens sekarang. Entahlah Beny merasa ada sesuatu ketertarikan pada Raisya begitu penampilannya telah diubah oleh sang Madam Marisa.


Raisya menggelengkan kepala. Dia belum sempat makan siang karena waktunya sudah tersita dengan make over dan pemotretan.


"Mom.. aku pergi dulu mengantarkan Raisya. Dia mesti kerja di tempat lain." Ucap Beny memberi alasannya pada sang ibu.


"Iya ati-ati sayang! Jangan malu-malu! Nanti Madam kasih bonus untuk hari ini ya!" Ucap. Marisa mengelus lembut kepala Raisya.


"Tapi saya mau mengganti baju dulu!' Tolak Raisya.


"Itu bonus buat kamu sayang.. gak usah dikembalikan!" Marisa merelakan baju yang dipakai Raisya untuk diberikan sebagai hadiah.


"Terimakasih madam! Semoga butik madam terus berkembang maju." Balas Raisya mendoakan usaha Marisa.


"Selamat siang madam. Saya permisi pulang." Izin Raisya membuyarkan Beny.


"Mom.. aku antar Raisya dulu!" Beny langsung berpamitan.


"Iya ati-ati sayang.. jangan lupa. Katakan isi hati ya!" Marisa seperti bisa membaca isi pikiran putranya. Raisya tertunduk malu seakan dia mengerti maksud Marisa pada Beny.


"Kamu mau pulang ke kantor? Atau kemana?"


"Hari ini pak Nathan akan kembali. Pekerjaanku menunggu putrinya sepertinya berakhir. Dan hari ini aku sepertinya akan mampir dulu ke rumahnya laku pulang ke Bandung." Ucap Raisya pada Beny.


"Ya sudah kita makan siang dulu!"


"Baik bang saya mau ambil tas dulu di atas." Raisya naik ke lantai 2 untuk mengambil tas. Ternyata si kembar Rio dan Ria sudah kembali dari proyeknya masing-masing.


"Weis... lihat kak! Siapa yang datang nih?" Ria yang meja kerjanya langsung mengarah ke anak tangga langsung bisa melihat Raisya dengan penampilannya yang sudah di make over.


"Wahh... neng Raisya.. aku kok padamu... " Rio memegangi dadanya sambil sebelah lagi dilayangkan pada Raisya.

__ADS_1


"Apaan sih bang? Lebay banget." Rona merah dipipi Raisya semakin matang begitu gombalan Rio meluncur begitu saja.


"Aku akan melamar neng segera kalau begini!" Rio bangkit dari meja gambarnya menghampiri Raisya.


"Ih.. abang. Jangan kaya gitu.. lebay!" Raisya membereskan meja dan mengambil tasnya siap pulang.


"Kak... awas saingannya berat lho! Bos Nathan!" Ria mewanti-mewanti kembarannya.


"Biarin.. selama janur kuning belum menancap aku akan usaha neng."


"Eh berisik kalian!" Beny yang baru sampai di lantai dua langsung memperingatkan Rio.


"Wah.. abang. Menggangu orang lagi romantis!" Rio kembali ke meja gambarnya.


"Aku pulang dulu ya!" Raisya melambaikan tangannya.


"Oke!" Jawab Ria.


"Neng.. Jangan tinggali abang...!" Rio dengan kocaknya berbalik badan memasang wajah memelas.


Raisya menggelengkan kepalanya menyikapi tingkah Rio.


Raisya dan Beny mampir dulu makan siang di sebuah cafe jalanan di dekat kantornya. Karena ini jam makan siang suasana cafe penuh dengan para karyawan dan orang-orang yang sengaja mengisi perutnya.


Raisya agak menunduk, manakala penampilannya mengundang perhatian banyak mata.


"Aku gandeng ya.. biar mereka tidak berani menatap kamu!" Izin Beny. Belum juga Raisya berbicara, tangan kekar itu langsung meraih pinggang Raisya.


"Maaf.. " Raisya segera menurunkan tangan Beny karena tidak biasa dan tidak nyaman disentuh laki-laki.


"Sorry." Beny mengerti sikap Raisya. Dia segera melepaskan tangannya.


Keduanya memesan menu makan siang dan menikmatinya.


"Bang.. kayanya mulai lusa aku.. bekerja sore."


"Mmm ga pa-pa selama pekerjaannya beres." Beny tak mempermasalahkan jam kerja Raisya.


"Tapi..." Pembicaraan Raisya tertahan manakala dia menangkap sosok yang dikenalinya di kursi seberang.

__ADS_1


__ADS_2