Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Dukungan moril


__ADS_3

"Tidur Sya?" Irwan yang menyusul keluar melihat Arsel sudah tidur dipangkuan Raisya. Raisya duduk bersebelahan dengan Nathan. Mereka serasi sih terlihat duduk berdua berdampingan. Mata Nathan tak lepas melihat Arsel. Dia sedang mengamati dengan detail apa yang ada di diri Arsel lalu menghubungkannya dengan wajah Raisya. Wajah Arsel lebih dominan bule ketimbang dengan warna kulit Raisya yang nampak putih seperti warna kulit keumuman. Nathan sedang berpikir tentang anak Raisya, entahlah dia merasakan sebagain di dalam dirinya ada dalam diri Arsel.


Irwan melihat silih berganti pada Nathan juga pada Raisya. Dia tidak tahu apakah mereka bertengkar atau sudah baik-baik saja. Tetapi dengan melihat mereka yang duduk bersebelahan ada kemungkinan mereka sudah berbicara baik-baik.


"Iya." Raisya mendongak melihat Irwan yang berdiri di sampingnya.


"Ya udah.. aku gendong Sya! Kamu masuk temenin Ratna! Kamu juga belum makan yang bener. Biar Arsel sama aku saja!' Irwan tanpa canggung meraih Arsel dari pangkuan Raisya. Ya sudah empat tahun Arsel bersama keluarga Irwan, Irwan sudah menganggap anak itu seperti anaknya sendiri.


"Aku masuk dulu ya. Titip Arsel!" Ucap Raisya menitipkan Arsel yang sudah tertidur dengan lelap.


Untung Irwan menyusul ke luar. Jadi Raisya bisa terbebas dari Nathan yang mengikutinya dan malah duduk di sampingnya.


Dengan duduk bersebelahan bukan berarti hati Raisya baik-baik saja pada Nathan. Tapi dia memilih untuk tenang demi Arsel agar anaknya bisa tidur tenang.


Irwan menatap anak yang sedang di pangkuannya. Sesekali dia mengusap rambutnya dan tersenyum ke Arsel.


"Kamu sayang banget sama Arsel?" Tanya Nathan pelan.


"Mmm.. aku sayang banget. Seperti aku menyayangi si kembar." Jawab Irwan sambil menoleh ke arah Nathan.


"Aku boleh tanya tidak?" Nathan ingin mengungkapkan rasa penasarannya.


"Suaminya Raisya orang mana?" Tanya Nathan sedikit besar ingin mengetahui kehidupan Raisya paska bercerai darinya.


"Mmm.. Amerika." Irwan sedikit bingung bapak biologis Arsel adalah Nathan sendiri. Cuman sampai saat ini Raisya masih menyembunyikan identitas Arsel sebenarnya pada tiap orang, kecuali pada Irwan dan Ratna.


Mudah-mudahan gue ga salah jawab.


Irwan bermonolog.

__ADS_1


Karena sebenarnya memang Nathan aslinya orang sana. Tanpa Nathan ketahui, Irwan sebenarnya sudah berkata jujur.


"Ohh.. " Ada rasa yang berat di hati Nathan ketika mendengar jawaban Irwan.


"Suaminya kerja apa?" Selidik Nathan mengajukan pertanyaan lagi.


"Mmm... bisnis." Irwan mengangguk-angguk. Dia berharap Nathan tidak mencurigai jawabannya.


"Kenapa Raisya tidak ikut ke sana?" Tanya Nathan agak penasaran.


"Mmm... ya dia lebih nyaman di sini sih." Irwan berusaha menutupi rahasia Raisya.


"Tapi pernikahan mereka baik-baik saja kan?" Nathan agak mengerutkan dahinya. Kenapa Raisya dan suaminya tidak tinggal bersama malah lebih nyaman berpisah seperti itu.


"Mmm.. sangat baik." Jawab Irwan bohong.


"Mmm... Wan... sebenarnya aku ingin bicara masalah Michel. Sekarang Michel memilih tinggal dengan Raisya. Bagaimana nanti dengan suaminya? Apa nanti tidak akan menjadi masalah?" Nathan agak khawatir karena Michel sekarang tinggal dengan mantan istrinya sedangkan mereka sudah mempunyai keluarga.


"Ya.. aku khawatir aja, kalau nanti suaminya Raisya tahu nanti bisa salah paham." Ucap Nathan tak ingin merepotkan.


"Michel bisa serumah dengan saya kok pak. Rumah kami masih ada kamar kosong. Jika Michel nyaman, ya silahkan saja. Tapi pak Nathan kalau bisa jangan terlalu menekan Michel. Ya.. namanya juga anak abg, mereka labil. Mereka butuh pendekatan yang baik." Ucap Irwan yang mempunyai banyak adik.


"Aku titip Michel ya untuk sementara. Semoga dia tidak merepotkan kalian. Dan kamu jangan menolak bantuanku ya! Aku nanti akan mengirimkan satu Art dan satu orang supir untuk mengurus kebutuhan Michel selama tinggal bersama kalian. Aku juga akan mengirimkan sejumlah uang untuk kalian gunakan selama Michel tinggal bersama kalian. Aku berharap Michel bisa kembali secepatnya ke rumahku." Dengan berat hati Nathan harus merelakan Michel untuk tinggal bersama Raisya. Tapi apa boleh buat, daripada Michel kabur lagi.


"Sebenarnya pak Nathan tak harus repot-repot. Di rumah kami sudah ada art. dan sopir. Tapi jika itu membuat hati pak Nathan tenang, ya.. saya nanti akan membicarakannya dengan Ratna. Bagaimana pun kami akan mempunyai tanggungjawab setelah Michel memutuskan tinggal dengan Raisya."


"Aku ucapkan Terima kasih ya Wan."


"Sama-sama pak. Semoga Michel bisa memaafkan bapak dan kembali berkumpul bersama." Iwan menatap iba Nathan. Bagaimanapun dia pastinya akan merasa kesepian dan cemas. Tapi apa boleh buat. Setiap perbuatan pastinya mempunyai konsekuensi masing-masing."

__ADS_1


Sementara itu Raisya di dalam restoran membantu si kembar dan juga Ratna.


"Bun.. bunda makan dulu! Tadi Michel lihat bunda belum makan. Nanti kalau bunda sakit kasihan Arsel." Ucap Michel mengkhawatirkan kondisi Raisya hang sempat tidak nyaman karena keberadaan Nathan di sisinya.


"Iya.. ma kasih sayang." Raisya mengelus punggung Michel.


"Sya.. Arsel mana?" Tanya Ratna penasaran.


"Tadi tidur. Aku titip ke Irwan dulu." Jawab Raisya sambil mengunyah makanan.


"Ohh.. " Ratna membereskan tas perbekalan yang tadi dibawanya.


"Michel.. kamu beneran mau tinggal sama bunda?" Tanya Raisya ingin memastikan pilihan Michel untuk tinggal bersamanya.


"Mmm.. bunda keberatan tidak kalau Michel tinggal sama bunda?" Ada rasa sedih yang masih tersimpan di dalam hati Michel. Setelah mendapatkan perlakuan Nathan kemarin, anak itu membutuhkan waktu untuk menyendiri. Padahal dalam di dalam lubuk hatinya, dia merasa sangat sedih harus meninggalkan ayahnya sendirian tanpa dirinya.


"Bunda sih tidak masalah. Tapi.. bagaimana dengan daddy? Apa dia tidak akan sedih ditinggalkan kamu?" Raisya menatap wajah Michel sendu. Dia tidak tega melihat Michel bersedih. Anak itu butuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


"Bunda... " Michel bukannya menjawab malah memeluknya sambil menangis.


"Sudahlah.. kamu mesti banyak bersabar dan kuat." Raisya balas memeluknya menguatkan mentalnya menghadapi ujian kehidupan yang akan dilaluinya.


Ratna dan si kembar menatap lekat pada Raisya dan Michel yang sedang saling memeluk.


"Mama.. kak Michel sedih ya ma?" Rara yang sering aktif bertanya, dia melihat Ratna.


"Iya sayang. Kamu harus sayang sama kak Michel ya! Kasihan kak Michel." Ratna mengelus lembut si kembar.


Rara menuntun Riri mendekati Michel. Keduanya memeluk Michel ikut memberikan dukungan moril.

__ADS_1


Michel melonggarkan pelukannya lalu memeluk si kembar.


__ADS_2