
Michel menghela nafas begitu banyak penderitaan Raisya yang disebabkan karena dirinya dan juga ayahnya. Kalau bukan karena Jacky yang barusan menceritakannya, mungkin Michel tidak akan mengingat semua jasa Raisya padanya.
"Eh.. kamu mau makan apa nih?" Jacky sudah ada di depan satu mall.
"Aku.. ayam aja om." Michel yang perasaannya sudah mencair tidak lagi cemberut.
"Ya udah.. kita ke restoran cepat saji aja." Jacky dan Michel turun dari mobil. Dan mereka berjalan berdampingan menuju restoran cepat saji.
Setelah pesanan diterima mereka duduk di area terbuka. Keduanya mulai menikmati pesanan.
"Om.. aku boleh nanya gak?" Michel agak penasaran.
"Boleh. Kalau aku bisa jawab." Jacky melihat Michel serius.
"Sebenarnya kenapa sih om sama daddy bermusuhan?" Michel sangat penasaran dengan permusuhan mendiang ayahnya dan Jacky.
"Mmm... kamu janji tidak bakal benci om?" Jacky tidak mau dari cerita ini membuat Michel menjauh.
"Janji.. Michel gak bakal benci sama om." Michel langsung mengeluarkan jari kelingkingnya.
Jacky menyambut jari kelingkingnya dan menyatukannya dengan Michel sebagai janji.
"Mmm... mommy kamu cinta pertama om. Kami saling mencintai satu sama lain. Ayah kamu yang lahir dari istri kedua oppa sejak kecil suka iri sama om. Lalu.. " Jacky menghentikan bicaranya sedang menimbang apa boleh dia menceritakan hal itu pada Michel?
"Lalu apa om?" Tanya Michel penasaran.
"Janji ya kamu tidak marah?" Jacky memastikan Michel siap mendengarkan ceritanya.
__ADS_1
"Iya om. Kan tadi aku udah janji. Masa om gak percaya?" Michel agak cemberut.
"Oke.. Oke. Om percaya. Mmmm... mommy kamu diperkosa daddy kamu dan lahirlah kamu." Jacky terpaksa menceritakan hal itu pada Michel. Sejak itu mommy kamu membenci kamu dan daddy kamu. Begitu pun om. Om membenci kalian bertiga." Jacky tertunduk.
"Maaf om.. " Michel agak kaget mendengar cerita itu. Dia baru tahu kenapa mommy nya sampai sekarang terus saja membencinya bahkan tak ingin bertemu dengannya.
"Setelah datang ke Indonesia, om berusaha melupakan kejadian itu. Lalu om bertemu dengan bunda Raisya. Sejak itu om menyukai bunda kamu. Tapi sayang... om tidak berani mengungkapkannya pada bunda. Om masih trauma saat itu. Sampai daddy kamu datang ke Indonesia dan akhirnya takdir mempertemukan daddy kamu juga Raisya gara-gara kamu suka menempel akhirnya daddy kamu ikut posesif. Om.. tidak terima kenapa juga daddy kamu mau merebut Raisya dari om. Ini kali kedua daddy kamu merebut perempuan yang om sukai. Ujian tidak pantas selesai. Mommy kamu datang lagi dan menguji perasaan om. Om bingung. Satu sisi om juga suka sama Bunda dan om juga masih cinta sama mommy. Itu yang membuat bunda kamu beralih ke daddy kamu." Jacky menghela nafas. Ada sebongkah penyesalan yang terpancar dari wajahnya.
"Terus om pilih mommy?" Tanya Michel.
"Mmm... om bingung. Om tidak mau kehilangan keduanya. Akhirnya om membuat kesalahan fatal." Jacky merasa bahwa penderitaan Raisya selama ini adalah akibat dari dirinya sendiri.
"Maksud om?"
"Om... menukar posisi kerja bunda kamu agar bunda kamu tersiksa dibawah tekanan daddy kamu. Om berharap bunda kamu akan kembali pada om setelah melihat keburukan dari daddy kamu. Ternyata om salah. Bunda kamu malah tak bisa keluar dari jeratan daddy kamu Chel." Mata Jacky mengembun mengingat perbuatan sadisnya pada Raisya.
"Kenapa begitu om?" Michel semakin penasaran dengan kehidupan ayahnya dan Jacky.
"Maafin kesalahan daddy ya om. Aku gak tahu daddy sejauh itu berbuat tega sama bunda juga om." Michel tertunduk. Dia merasa malu dengan perbuatan daddy nya. Dia baru mengerti kenapa selam ini daddy nya selalu konseling. Mungkin dia juga sadar bahwa perbuatannya salah dan tak bisa mengendalikan diri dari perbuatannya.
"Mmm.. gak pa-pa. Itu masa lalu Chel." Jacky tak mau berlarut-larut menyesali kejadian itu.
"Tapi.. om kan akhirnya menikah dengan mommy. Lalu kenapa om berpisah dengan mommy? Kan katanya cinta." Michel masih penasaran dengan alasan kenapa ibunya bercerai juga.
"Janji ya kamu tidak akan marah?" Jacky kembali memastikan Michel siap.
"Iya. Oke. Aku janji seribu kali deh ah." Michel agak kesal.
__ADS_1
"Iya.. om takut menceritakannya. Soalnya ini area dewasa lho. Michel belum waktunya tahu." Jacky tidak mau suatu hari dia menyesalinya.
"Gak pa-pa aku tak mau nantinya malah salah paham. Terus kalau nunggu aku gede, apa mungkin kita akan mempunyai kesempatan?" Michel berkaca dari mendiang ayahnya yang meninggal waktu muda.
"Oke. Kalau kamu siap om cerita. Tapi sambil makan ya!" Jacky melihat nasi Michel masih lumayan banyak karena fokus mendengarkan.
"Oke om." Michel antusias mendengarkan sambil melanjutkan makannya.
"Malam pertama pernikahan kita. Mommy kamu malah tidur sama daddy kamu. Padahal daddy kamu sudah menikah sama Bunda. Mommy kamu tega mengirimkan video itu dan akhirnya bunda kamu tidak tahan melihat perbuatan daddy kamu sama mommy kamu. Sejak itu om tak bisa memaafkan perbuatan mommy kamu Chel." Jacky akhirnya harus terus terang.
Hening
Michel dan Jacky terlalu bingung.
"Mmm.. maafin mommy ya om. Sepertinya om begitu banyak menderita." Setelah mendengarkan cerita itu Michel jadi tidak enak hati.
"Gak apa-apa Chel. itu ujian kita mungkin." Jacky menghabiskan minuman cola dingin untuk menyegarkan pikirannya. Kalau tidak ada Michel mungkin Jacky akan merokok.
"Aku kok kasihan sama bunda ya.. Dia sabara banget om." Michel teringat Raisya yang sudah mendapatkan ujian bertubi-tubi.
"Ya.. om tidak bisa menyalahkan. Sepertinya kita berdua adalah pelaku kejahatannya, sedangan mommy dan bunda kamu adalah korban. Maka dari itu om.. ingin menikahi bunda kamu untuk menebus kesalahan om sama kalian." Jacky menatap Michel. Dia sedang melihat reaksi anak itu. Apakah dia setuju atau tidak dengan keputusannya itu.
"Mmm.. om. cinta ya sama bunda?" Michel balas menatap.
"Sangat." Jawab Jacky mantap.
"Mmm.. Aku sih terserah bunda. Ada baiknya bunda menikah dengan om yang masih kerabat daddy. Aku tidak tahu kalau bunda menikah dengan laki-laki lain. Bagaimana dengan Arsel? Pastinya kan tidak nyaman. Kalau om kan masih kerabat jadi oppa dan omma juga tidak canggung." Ucap Michel terus terang.
__ADS_1
"Mmm.. jadi kamu setuju kalau om menikah sama bunda kamu?" Jacky seperti mendapat lampu hijau.
"Aku sih no problem. Tapi kan yang mau menikah om sama bunda. Ya itu terserah kalian.. aku ngikut saja selama bapak tiri aku tidak galak."