
"Wah pinter ya bumil, makannya mau tambah?" Tawar Raisya karena nasi dan lauk habis masuk ke mulut Ratna.
"Assalamu'alaikum." Setelah Sarah tadi mendengarkan Raisya beralasan. Sejenak Sarah boleh tenang. Agar tidak dicurigai dia harus menemui Ratna.
"Waalaikumsalam. Dokter Sarah??" Ratna kaget matanya membesar ketika melihat Sarah ada di depannya.
"Kamu ngobrol dulu ya sama kakak aku! Aku kebelakang dulu menyimpan piring dan mengambil air untuk kamu." Raisya berdiri lalu berjalan ke arah dapur menyimpan piring bekas makan Ratna.
Ibunya Raisya langsung mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Raisya dengan mengikutinya ke dapur.
"Eh mamah.. " Hampir saja jantungnya berpindah tempat ketikan ibunya muncul tanpa diduga.
"Ini gimana? Mamah bingung Raisya!" Ibunya Raisya bingung sekali. Dia takut penyamaran Raisya terbongkar.
"Ya bagaimana lagi mah. Kita jangan ceroboh! Soalnya sedikit saja salah, Ratna bisa curiga. Lagian mamah tidak tahu kalau Ratna mau datang?" Raisya heran kok bisa Ratna tidak menghubungi ibunya terlebih dahulu jika mau datang.
"Mamah lupa Raisya. Biasanya kalau hari sabtu suka datang kesini. Walau tidak rutin. Ah.. dasar.. kudu panggih!" Ibunya Raisya menepuk jidatnya sendiri. (Ah dasar harus ketemu)
"Gimana atuh? Dia suka menginap?" Tanya Raisya.
"Kadang-kadang. Tapi kayanya ini mah bakal menginap. Mamah lihat dia bawa tas." Ibunya menduga Ratna bakal menginap soalnya Irwan tadi melihat membawa tas travel.
"Waduh.. gimana ini? Aku besok mesti terbang ke Bali mah! Bagaimana kalau Ratna menginap disini jadi akan repot. Takut minta ini itu." Sekarang giliran Raisya yang bingung. Karena permintaan ibu hamil suka aneh-aneh. Apakah karena dorongan hormon atau memang kondisi mental ibu hamil yang suka sensitif.
"Ya.. Mudah-mudahan sih... Ratna tidak aneh-aneh. Mamah kasihan juga, sudah hamil besar masih ungkag-ingkig." Ibunya Raisya termenung.
"Ya udah kita ke depan lagi. Jangan sampai gerak-gerik kita mencurigakan!" Ucap Raisya pada ibunya.
"Iya." Keduanya kembali ke ruang makan dan Raisya membawa air minum untuk Ratna ke ruang keluarga yang berada di tengah-tengah.
"Wah asik bener nih ngobrolnya." Ucap Raisya melihat keakraban antara Ratna dan Sarah.
"Raisya beneran kamu besok mau pergi?" Raut wajahnya terlihat sedih.
"Iya. Ada syuting di sana." Raisya duduk lalu menyodorkan segelas air putih untuk Ratna.
"Jangan sedih! Ibu hamil tidak boleh sedih! Harus gembira!" Ucap Raisya membesarkan Ratna.
"Aku boleh menginap disini?" Ratna menatap Sarah silih berganti dengan Raisya.
"Ya tentu boleh." Jawab Raisya. Sesuai dengan dugaan ibunya.
Kring
Kring
__ADS_1
Suara handphone Ratna berbunyi. Tertera nama yang sudah dikenalinya.
"Halo Jack."
"Kamu lagi dimana Ratna?" Tanya Jacky seperti mencemaskan sesuatu.
Sarah yang berada di samping Ratna langsung memberi isyarat pada Ratna dengan menyimpan telunjuknya di atas bibir.
Ratna yang mengerti isyarat itu mengangguk.
"Aku.. lagi.. di rumah teman." Jawab Ratna dengan terbata.
"Teman?"
"Iya. Ada Jack?"
"Kamu ada info lagi tidak tentang Sarah? Aku kasihan melihat Adam. Sekarang dia mabok, mungkin karena kecewa tidak menemukan Sarah. Tadi dia pergi ke apartemennya. Tapi mereka susah pada pergi. Kali aja kamu tahu Rat?" Selidik Jacky berharap Ratna mengetahui keberadaan Sarah.
Mata Sarah memandang Ratna. Dia khawatir kalau Ratna bicara keceplosan.
"Ohh.. "
"Kok Ohh Rat? Kamu lagi ada masalah? Kok kaya tidak bersemangat gitu?" Jacky mencurigai Ratna karena tiba-tiba nada bicaranya agak berbeda.
"Tidak. Mungkin aku sedikit gak enak badan." Jawab Ratna untuk menutupi kegugupannya.
"Iy.. Iya." Jawab Ratna gugup
"Ya udah dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Jacky menutup telepon.
"Waalaikumsalam."
"Ada apa Jacky menelpon mu?" Keinginan tahu Sarah tak bisa ditahan lagi. Dia takut kalau Jacky mengetahui keberadaannya.
"Jacky.. menanyakan anda dokter Sarah. Katanya pak Adam mencari anda ke apartemen." Ucap Ratna.
"Berarti teman kakak yang mesum itu yang memberitahu mantan suami kakak?" Ucap Raisya dengan polosnya. Dia tidak menyadari kalau Ratna ada di sana dan bisa saja penyamarannya diketahui.
Sarah hanya tersenyum tipis sambil mengedipkan mata memberi isyarat pada Raisya.
Raisya terdiam sedangkan Ratna mengerutkan dahi mencerna apa yang sedang dibicarakan Raisya dan Sarah.
"Dokter Sarah kenapa tidak mau bertemu dengan pak Adam? Sampai sekarang pak Adam belum menikah lagi. Mungkin masih berharap dokter Sarah bisa kembali rujuk." Ucap Ratna yang tahu perkembangan Adam selama di kantor.
"Sudahlah! Kamu jangan ikut memikirkan! Setiap orang punya prinsip yang dipegang. Aku hanya ingin melihat Raisya bahagia. Buat aku sekarang itu sudah cukup." Sarah tak ingin Raisya celaka kembali. Dia ingin memastikan Raisya akan menikah dan mendapatkan jodoh yang baik. Setelah itu Sarah bisa tenang. Sekian tahun Sarah tidak bersama dengan adiknya itu, ada niat ingin mengganti waktu-waktu yang hilang bersamanya dengan waktu kebersamaan yang bahagia.
__ADS_1
"Maafkan dokter Sarah.. saya kurang sopan bicara." Ratna meminta maaf.
"Tidak apa-apa, panggil saja kak Sarah. Sekarang saya sudah tidak jadi dokter." Ucap Sarah yang memang sejak kesibukannya menjadi manajer Raisya, Sarah memilih berhenti dari bekerja. Selain ingin mengurus Raisya diapun lebih menikmati profesi barunya.
"Oh begitu? Jadi kak Sarah sekarang bekerja sebagai apa?"
"Ya manajernya Raisya. Aku menikmati profesi ini sekarang. Jadi kami mempunyai waktu senggang untuk menikmati hidup."
"Baguslah kak."
"Ayo sekarang kamu istirahat! Kamu pasti lelah kan? Suamimu juga sepertinya sudah menunggumu." Terlihat Irwan agak bosan karena ditinggalkan Ratna tak ada teman mengobrol.
Dilain tempat Jacky tak putus harap. Dia langsung menelepon yang dianggapnya bisa memberi kabar keberadaan mereka.
"Halo.. "
"Iya Halo Jack."
"Kamu lagi dimana?"
"Lagi di Bandung."
"Lagi ngapain?"
"Kepo banget.. Lagi nemenin binilah."
"Eh.. dikira lagi di rumah. Lagi dimana sih kalian udah hamil gede juga masih keluyuran. Ini lagi dirumah mamahnya Raisya."
"Bini elu mana?" Jacky sengaja memancing Irwan. Barangkali saja Irwan bisa jujur. Jacky tak percaya begitu saja omongan Ratna.
"Tuh.. lagi ngobrol sama Sarah juga sama adiknya." Irwan yang belum dikasih tahu untuk merahasiakan keberadaan Sarah, malah dengan polosnya bicara jujur.
"Apa Sarah?" Jacky langsung terhenyak begitu mendengar satu nama disebut.
"Iya. Sarah mantan istrinya pak Adam."
"Oh iya ma kasih wan." Jacky langsung menutup telepon.
"Ishh.. kaya belelet aja tuh Jacky."
"Dam.. lu bangun! Jangan mabok! Sarah ketemu Dam. Lu sadar sekarang juga! Atau dia pergi lagi."
"Lu bohongin gue lagi Jack? Ah.. kalian semua bohongin!
" Eh.. malah ambruk! Ini mah mesti nunggu besok sadar."
__ADS_1
"