Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
kita pisah


__ADS_3

"Gue juga Rat!" Raisya mengiyakan apa yang baru Ratna katakan. Mereka bicara saling berbisik.


"Kita keluar dari sini aja Sya! Ratna melirik Raisya, mengajaknya untuk keluar dari galeri yang baru saja diinjaknya. Ratna agak takut. Kalau saja tangannya tidak digandeng Raisya pastilah akan terlihat jelas tangannya bergetar.


"Iya. Kita keluar. Pelan-pelan tapi pasti!" Raisya langsung menarik tangan Ratna yang terasa agak dingin dan berbalik melangkah keluar dari galeri.


"Ratna!" Suara itu semakin jelas terdengar seiring namanya dipanggil.


"Kabur!" Raisya langsung mempercepat langkahnya keluar dari galeri dengan niat mencari pintu keluar. Keduanya merasa takut.Dengan hati yanga was-was mereka ingin lari dari mall itu. Seperti seorang pendosa lari dari kesalahannya.


"Susul dia!" Dia memerintahkan laki-laki yang ada di samping untuk menyusul Ratna.


"Baik!" Tanpa menunggu lama dia pun berlari mengejar keduanya.


"Bu Raisya." Raisya menoleh ke belakang. Terdengar namanya dipanggil oleh seseorang yang suaranya berbeda dengan yang pertama.


Raisya menghentikan langkanya sambil mengambil nafas yang masih terengah-engah. Begitupun Ratna yang sama-sama melarikan diri sambil bergandengan dengan Raisya.


Raisya membalikkan badan melihat ke arah belakang.


"Pak Reza." Raisya menatap laki-laki yang lumayan tampan dengan baju kemeja biru motif abstrak menghampirinya.


"Kok kalian malah pergi sih! Ratna dipanggil pak Nathan. Kamu ke sana sebelum dia marahin kamu!" Pak Reza memegang dadanya, nafasnya agak sedikit sesak setelah barusan setengah berlari mengejar Raisya dan Ratna.


"Lah.. mau apa? Kan ini libur! Masa aku harus kerja lembur?" Tolak Ratna sambil mengeratkan tangannya memegang Raisya.


"Kamu ke sana dulu! Kamu mau dia memecat kamu?" Reza yang terkenal kalem bahkan selama ini nampak seperti robot berjalan, tapi hari dia mengeluarkan emosinya dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Sya? Ratna melihat Raisya dengan wajah ketakutan.


"Aku antar kesana!" Raisya mengerti ketakutan Ratna dan terpaksa dia mengantarkan Ratna kembali ke galeri.


"Kenapa kita harus ketemu dia sih?" Ratna bicara pelan.

__ADS_1


"Takdir." Raisya menjawab sambil melihat ke depan.


"Bagaimana kalau dia marah sama aku Sya?" Sindrom panik Ratna mulai keluar.


"Tenang aja Rat! Paling dia nyuruh kamu lembur. Kamu harus tenang! Jangan panik! Nanti kerjaan kamu malah kacau." Saran Raisya menguatkan Ratna. Tangannya Ratna begitu dingin.


Raisya mengambil telapak tangan Ratna lalu menggosok-gosoknya.


"Tangan kamu dingin Rat!" Raisya khawatir jika Sindrom panik Ratna kambuh. Bisa-bisa pingsan disini.


"Pak Reza tunggu dulu sebentar! Saya harus bantu dulu Ratna. Takutnya dia kena hipotermia." Raisya mengajak duduk dahulu di kursi dan menggosok telapak tangan Ratna agar suhu tubuhnya bisa naik.


"Kamu bawa kayu putih ga Rat?"


"Ada kayanya!" Ratna membuka tas tentengnya dan membawa kayu putih yang selalu setia ada dalam tasnya.


Raisya mengambil Kayu putih lalu menggosokkan ke seluruh tangan Ratna agar terasa hangat.


"Lumayan sekarang sudah hangat. Nanti selesai ini kamu minum air hangat ya!" Saran Raisya pada Ratna. Dia mencoba membantu Ratna untuk mengembalikan suhu tubuhnya. Raisya sudah hafal betul. Selama beberapa tahun kebersamaannya dengan Ratna dia hafal harus menangani Ratna jika penyakitnya kambuh.


"Jangan sampai membuat dia kaget. Kalau penyakitnya kambuh gosok tangannya pake kayu putih atau kasih air hangat. Kalau telat bisa berabe nanti mesti dibawa ke rumah sakit." Terang Raisya.


"Coba ambil nafas Rat!" Ratna menurut dia mengambil nafas lalu mengeluarkannya dengan perlahan-lahan.


"Sudah enakan?" Raisya melihat wajah Ratna yang tadi sempat memucat.


Ratna mengangguk.


"Baik kita temui pak Nathan!" Raisya bangkit dari kursinya sambil menggandeng Ratna. Mereka masuk ke dalam galeri dengan perasaan was-was. Raisya dan Ratna tertunduk ketika keduanya ada di depan Nathan.


Nathan berdiri sambil melipatkan dadanya. Mengelilingi keduanya layak seseorang yang baru memergoki pencuri yang tertangkap basah.


Nathan menatap nyalang pada Raisya, mendekati wajah Raisya. Sampai deru nafasnya pun terdengar jelas dan hembusannya mengenai kulit Raisya.

__ADS_1


Tak dilewatinya secuil pun dari penampilan Raisa kali ini. Dari atas kepala sampai ujung kakinya.


"Heh.. penampilan kampungan, ngomong so tau! Apa otak lu kosong apa?"


Deg


Barusan yang nyembur apa ya?


Raisya tertunduk tak berani mengangkat wajahnya. Dia tahu maksud perkataan Nathan. Dia mungkin sedang menyindirnya karena tadi sudah berani berkomentar tidak baik tentang galeri perusahaan.


"Aku gak butuh orang yang hanya gede omong tapi gak punya bukti. Mau membuktikan bagaimana? Level aja jauh di bawah!" Nathan seolah menghina penampilan Raisya yang terlihat sederhana dan lebih parahnya pakaian yang dia kenakanan tak ada satu pun yang bermerk.


Ratna melirik pada Raisya. Baru kali ini ada bos yang omongannya pedas. Ratna merasa benar-benar kesal dengan nada bicara Nathan apalagi seperti nya sedang ditujukan pada Raisya.


"Ratna! Kamu tetap disini! Bantu Reza! Bagus kamu datang dan aku bisa memperkerjakan kamu! Dan biarkan orang tak berguna itu pergi!" Nathan melengos lalu masuk ke sebuah ruangan.


"Bu Raisya boleh pergi dan kamu Ratna tetap tinggal disini sampai pekerjaan selesai." Reza mengulang kembali apa yang dikatakan Nathan.


Keduanya mengangkat wajah setelah melihat Nathan tak ada lagi di depan Ratna dan Raisya.


"Tapi pak Reza.. Ini hari libur. Kemarin tidak ada konfirmasi bahwa kita akan bekerja di weekend ini kan?" Ratna menolak perintah Reza.


"Terkecuali kalian berdua ingin berhenti bekerja!" Reza tahu konsekuensi dari sebuah penolakan dari Ratna. Bukan hanya Ratna yang akan dipecat tapi Raisya juga.


Apa jadi nya jika Raisya kalau di pecat. Bukankah baru saja Raisya diberikan beban utang untuk membayar ke Bank selama 4tahun? Ratna tak ingin sahabatnya terancam


"Sya, aku bekerja dulu ya! Kamu gak apa-apa kan?" Ratna menatap wajah sahabatnya itu dengan wajah sendu.


"Gak pa-pa Rat! Namanya juga orang bekerja. Kapanpun harus siap. Kamu mau air hangat? Biar nanti kubelikan!" Raisya masih bisa memikirkan Ratna yang baru saja terkena sindrom panik. Walaupun dia sendiri terkena hinaan Raisya tak begitu mengambil hati. Itulah Raisya dia tak mudah tersinggung walaupun orang menghinanya. Apalagi dia sadar yang menghina tadi adalah orang penting di perusahaan. Dan dia sadar diri dengan kesalahan dan kekurangannya


"Gak usah Sya! Kamu makan aja duluan. Takutnya lapar. Kalau kamu kesal balikan aja ke hotel" Ratna meminta Raisya untuk tidak menunggu nya


"Iya ntar balik ke hotel. Ntar aku kabari!" Raisya mengusap bahu Ratna.

__ADS_1


Ratna secara spontan memeluk Raisya.


"Maafin aku ya Sya!" Ratna terisak.


__ADS_2