
"Sya, maaf aku gak bisa bareng pulang sama kamu. Ada acara makan-makan sama temen-temen satu divisi." Keluh Ratna dari balik handphone.
"Gak pa-pa Rat. Lagian aku juga mulai hari ini pindah kost jadi tidak usah antar jemput." Raisya baru memberitahu Ratna soal kepindahan kos nya.
"Apa? Kok gak bilang-bilang sih! Kamu tega ih!" Ratna kecewa pada Raisya yang tidak memberitahukan soal kepindahannya.
"Bukan begitu Rat. Lu tahu sendiri gue mesti ngirit. Sedangkan waktu bulanan aku sudah habis. Kalau kelewat nanti harus bayar untuk satu bulan Rat." Jelas Raisya yang harus memulai mengurangi pengeluarannya.
"Iya." Ratna berkata pelan. Tak bisa memaksa Raisya untuk meminta izin padanya karena Raisya mempunyai permasalahannya sendiri.
"Kalau gitu selamat happy ya!" Sambung Raisya menyemangati.
"Iya. Assalamu'alaikum." Ratna menutup teleponnya.
Raisya berusaha membereskan semua pekerjaannya yang harus disesuaikan sebelum kepindahannya besok. Walau sekarang kepindahannya ke Divisi pemasaran agak tidak nyaman karena ada Nathan di sana. Tapi bagaimana mana lagi. Raisya untuk waktu sekarang belum bisa mencari lowongan kerja lagi. Mungkin nanti malam dia akan mulai mencari lowongan kerja freelance atau part-time. Mengingat biaya hidup di Jakarta lumayan besar sedangkan gajinya kini tidak memadai untuk membiayai dirinya karena beban yang harus ditanggungnya ke bank.
"Sya gue balik duluan ya!" Hesti melongok dari samping kubikel Raisya.
"Oh iya mbak. Saya mohon maaf ya mbak selama kerja dengan mbak banyak salah dan khilaf." Ujar Raisya untuk mengakhiri hari kerjanya di divisi keuangan.
"Lah kok melow gini kaya lebaran." Hesti memeluk Raisya.
"Jangan mewek ah.. kan kita masih bisa ketemu nanti di kantin!' Ucap Hesti padahal sudah keluar air mata.
"Nih buat mbak Hesti biar tambah glowing handphonenya." Raisya memberikan casing yang belum sempat dibungkus karena acara pindahan begitu mendadak.
"Wah elu masih inget Sya? Ah.. aku jadi mewek gini. Gak rame ah gak ada si Jacky Chan. Yang melow cuman gue seorang." Hesti memeluk Raisya malah air mata nya bertambah deras.
"Lah mbak.. jangan sedih gitu. Aku masih disini kok! Cuman beda divisi doang." Raisya menepuk bahu Hesti menguatkan dirinya agar tidak bersedih.
"Sorry gue juga banyak salah ya Sya! Aslinya ruangan ini kaya tambah sepi gak ada elu dan si Jacky. Bener-bener angker nih perduitan! Kayanya disini cocok dihuni kencit-kencit." Hesti meski bersedih masih juga bisa bercanda.
__ADS_1
"Ih ampun si embak.. kok bisa-bisa nya!" Raisya tersenyum melihat tingkah Hesti.
"Ya udah kita foto selfie dulu sebelum ganti penghuni!" Hesti siap memasang kamera berfoto ria di depan kubikel Raisya.
"Oke!" Raisya pun siap-siap mengeluarkan benda pipih nya untuk selfi.
"Wah.. ini baru ya Sya? Yang dikasih oak Adam?" Hesti terkagum-kagum melihat handphone Raisya merk terkenal keluaran terbaru.
"He he.. " Raisya nyengir kuda menanggapi komentar Hesti.
"Wah elu beruntung banget dikelilingi pria-pria tajir. Kalau gue yang sakit mana ada yang ngasih spesial. Yang ada cuman ucapan doa saja." Imbuh Hesti.
"Eh jangan gitu! Doa gak bisa diuangkan mbak. Kalau kita memilih sakit atau sehat. Pastinya kita akan memilih sehatlah. Sehat tuh lebih berharga dari uang mbak." Raisya menasehati Hesti yang mengeluh atas nasibnya selama ini.
"Beneran sih Sya! Ah.. gue jadi kangen elu Sya... " Hesti kembali memeluk Raisya.
"Eh mbak aku titip ini ya buat bu Mia!" Raisya menunjukkan satu barang yang ada di dekat meja kerjanya.
"Sya gue pulang ya.. elu gak pa-pa sendirian?" Hesti berpamitan.
"Iya mbak. Ati-ati di jalan ya mbak!' Ucap Raisya mengakhiri pertemuannya dengan Hesti.
"Elu juga Sya! Jangan malam-malam. Biarin kalau gak beres bisa dilanjut di rumah. Ntar besok juga bisa nyusul. Namanya juga perpindahan darurat. Sampe sekarang gue heran siapa yang mindahin elu sama Ratna. Kok gue curiga sama pak Nathan ya?" Hesti menyipitkan matanya.
"Gak pa-pa mbak. Takdir." Ucap Raisya.
"Ya udah. Assalamu'alaikum." Hesti berlalu pergi dari ruang. Ruangan ini begitu terlihat sepi. Tinggal Raisya yang masih mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.
Waktu berjalan tak terasa. Adzan magrib sudah berkumandang. Raisya segera mengambil air wudlu dan shalat di ruangan. Setelah shalat dia melanjutkan pekerjaan sampai jam 7. Setelah itu dia membawa sisanya untuk dikerjakan di rumah. Karena kantor sudah sepi sekali. Setelah merapihkan semuanya Raisya mengumpulkan Barang-barangnya dalam satu box dan menaruhnya di bawah meja kerjanya. Rencananya besok pagi akan dibawanya saat perpindahan.
Raisya berjalan lalu menekan tombol lift. Tak lama kemudian pintu terbuka. Sejenak pandangannya terhenti ketika melihat seseorang yang ada di dalam lift.
__ADS_1
"Kenapa gak masuk?" Adam menegur Raisya yang masih melongo di depan pintu lift.
"Eh.. iy iya." Raisya bergerak masuk ke dalam lift. Di dalam lift hanya ada Adam dan Raisya.
"Kamu pulang pake apa?" Adam memulai bicara.
"Iya pak?" Raisya seperti gugup ditanya oleh Adam.
"Saya antar ya!" Adam menawarkan untuk mengantarkan Raisya.
"Gak usah pak! Terimakasih kasih. Lagian saya kost nya deket kok! Bisa jalan kaki." Tolak Raisya dengan halus.
"Hhhm. Bagaimana kalau saya temani sampai kost?" Adam malam ini terlihat aneh.
"He he gak usah pak! Gak enak sama yang lain. Nanti apa kata karyawan lain kalau melihat bapak jalan sama saya." Tolak Raisya yang agak sedikit takut melihat tingkah Adam.
"Gak pa-pa saya aja biasa-biasa." Adam datar tidak terlalu ambil pusing.
"Iya Pak! Yang gak biasa itu saya pak." Raisya mengungkapkan ketidaknyamanan pada Adam.
"Bukankah Jacky tidak ada disini?" Adam tiba-tiba membicarakan Jacky.
"Maksudnya apa ya pak?" Raisya agak heran dengan perkataan Adam.
"Kalian pacaran kan? Tenang aja kalau kamu jalan sama saya Jacky tidak tahu kan?" Adam bicara lebih detail.
"Maaf pak! Saya tidak ada hubungannya dengan Jacky." Ucap Raisya tegas.
"Lalu kedekatan kalian selama ini apa? Tidak mungkin seorang laki-laki memperlakukan perempuan sebaik itu kalau dia tidak punya hati sama sekali." Ucap Adam pada Raisya.
"Maaf pak! Kami hanya sekedar teman. Tidak menjalin hubungan apapun." Raisya sedikit agak kesal dengan Adam.
__ADS_1
"Raisya. Kamu jangan pura-pura munafik. Jacky sangat menyukai kamu Raisya."