
"Dad.. lapar.. " Michel merajuk.
"Kamu mau makan apa sayang?" Nathan masih sibuk dengan tabletnya.
"Aku ingin ayam tepung.. " Michel bergelayut di sikut Nathan.
"Hmm.. kita makan di foodcourt aja. Biar daddy tidak keliling lagi cari makanan." Ucap Nathan yang sudah melihat tulisan besar foodcourt di depan matanya.
Seharian ini Nathan mencari sekolah yang cocok untuk Michel ditambah membeli peralatan sekolah nya di mall membuat lututnya agak sakit. Dia memilih tempat makan yang mudah dijangkau karena kakinya agak lelah untuk berjalan.
"Dad.. disana ada bangku kosong." Ajak Michel sambil menarik tangan Nathan. Keduanya menjadi sangat akrab seperti adik kakak apalagi tinggi Michel sudah tubuhnya boros.
"Ya.. " Nathan mengikuti kemana Michel pergi.
"Alhamdulillah... kaki daddy akhirnya bisa duduk juga." Nathan langsung menselonjorkan kakinya yang sedari tadi sudah tidak kuat pegal.
Nathan menyimpan barang belanjaan kebutuhan Michel di kursi kosong. Sekarang dia mirip emak-emak kemana Michel belanja di sana pula dia ada. Ya maklum naluri perempuan memang suka belanja dan berlama-lama dalam memilih barang tidak sesimpel laki-laki. Tapi Nathan jadi lebih banyak bersabar apalagi Michel beranjak abg yang emosinya labil.
"Kamu pesan saja makanannya! Daddy ikutan aja sama kamu." Nathan tak ingin ribet memilih menu, asal bisa dimakan perutnya kini jarang protes, berbeda dengan dulu.
Sekarang Nathan mengalami banyak perubahan semenjak bercerai dengan Raisya. Dia lebih bisa mengatur emosinya berkat seorang guru spiritualnya yang mengajarkan dia lebih banyak ilmu agama.
"Maaf saya pesan ayam geprek 2 ayam geprek, 2 ayam tepung, 2 nasi dan dua minuman air mineral." Ucap Michel pada pelayan.
"Baik.. totalnya jadi 125 ribu." Ucap kasir.
"Papa aku peyen ayam gepek... " Irwan yang mengantri di belakang Michel melirik apa yang ada dalam nampan yang dibawa Michel. Arsel mengikuti kebiasaan Raisya yang menyukai makanan pedas.
"Maaf Pak.. ayamnya habis... tinggal menu yang lain." Ucap pelayan.
"Wah nak.. ayamnya abis... " Irwan nampak kecewa.
__ADS_1
"Peyen ayam gepekkk... " Arsel menangis dalam pangkuan Irwan.
"Duh.. gimana nih.. kita pesen ayam lain aja ya? Nanti papa pulang beli yang banyak gimana?" Irwan mencoba merayu anak kecil yang sedang menangis menginginkan ayam yang dibawa Michel.
"Gak mau... peyen cekalang.. huaw... huaw... " Arsel mulai mengeluarkan jurus petir membahana.
"Waduhhh.... papa telinganya sakit." Irwan gak tahan mendengar tangisan Arsel sampai orang-orang yang di semua foodcourt menatap ke arah yang sama, yaitu Arsel.
"Om... bawa aja satu!" Ucap Michel pada Irwan karena Michel merasa kasihan pada Irwan yang meringis menahan kerasnya tangisan Arsel.
"Waduh.. maaf ya dek... anak om.. merepotkan. Biar om ganti pake uang ya?" Irwan memberikan satu lembar uang merah senilai seratus ribu rupiah.
"Gak usah om.. Michel ikhlas kok! Ini masih ada satu kok!" Jawab Michel memberikan satu wadah yang berisi ayam geprek.
"MasyaAllah... udah cantik, baik nih adek... " Puji Irwan pada Michel.
"Mmm... terimakasih kasih om." Michel berlalu dari hadapan Irwan begitu pun Irwan langsung melangkah ke arah meja yang sudah ada keluarganya di sana.
"Lah... kenapa ayamnya satu?" Nathan melihat nampan yang dibawa Michel sambil melongo. Sejak berpisah dari Raisya Nathan mencoba beberapa makanan kesukaan Raisya diantaranya ayam geprek dan nasi goreng terasi. Padahal sebelumnya Nathan tidak bisa makan pedas.
"Ohh.. iya. Emang kenapa?" Nathan mulai mengambil ayam tepung dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
"Masa anak kecil itu pengen ayam geprek dad? Apa tidak kepedesan?" Jawab Michel sambil membuka botol ayam mineral untuk ayahnya. Ya
Michel menjadi lebih mandiri. Selain harus mengurus dirinya dia pun harus mengurus ayahnya yang belum memutuskan untuk menikah lagi paska bercerai dengan Raisya.
"Mmmm... kamu juga waktu kecil nangisnya kaya gitu loh Chell... " Kejadian itu menginginkan Michel sewaktu kecil.
"Iya Michel juga tahu. Makanya Michel tadi kasih satu, kasian kan papanya kerepotan. Tapi Michel aneh aja masa anak kecil suka pedes." Michel mulai menyuapkan ayam geprek yang tinggal satu lagi, itupun masih saling comot sama Nathan.
"Ya.. karena dibiasakan. Kamu juga dulu gak suka pedes. Jadi ikut-ikutan daddy makan pedes." Imbuh Nathan mengomentari kebiasaan ayah dan anak.
__ADS_1
"Kan Michel ngikutin daddy.. Lah daddy..? Kenapa coba?" Michel juga merasa aneh tiba-tiba ayahnya jadi menyukai makanan pedas.
"Ternyata enak makan pedes itu." Nathan tersenyum mengingat Raisya bukan karena makannya.
"Mmm... ingat bunda kali?" Sindir Michel. Hubungan mereka sekarang lebih akrab dibandingkan dulu. Ya... setiap orang bisa berubah, jika memang ada keinginan untuk merubahnya. Nathan dan Michel asik dengan obrolan mereka sambil menikmati pesanannya.
Di meja lain sudah berkumpul keluarga besar. Diantaranya kedua orang tuanya, Ratna dan sikembar, Irwan, Ratna juga Arsel.
Tiga meja dibuat satu. Karena mereka cukup repot kalau membawa anak-anaknya. Segala perbekalan dan makanan anak ditenteng kemana-mana, mereka membutuhkan ruang yang cukup leluasa agar bisa nyaman.
"Kenapa tadi Arsel menangis?" Tanya Raisya yang sedang memangku salah satu anak Ratna. Karena Arsel sudah berada di pangkuan Irwan.
"Pengen ayam geprek. Tapi ayamnya habis. Jadi malu dikasih pelanggan lain." Jawab Irwan yang sedang memangku Arsel sambil menyuapinya.
Irwan sangat senang sekali mendapatkan kesempatan mengasuh Arsel, walaupun anaknya sering rewel. Mungkin karena sikembar perempuan jadi Irwan ada teman main sesama lelaki.
"Ya ampunn... kamu!" Raisya langsung memasang muka garang yang membuat Arsel langsung mencari perlindungan di balik dada Irwan.
Semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu anak bule Raisya yang tampan sedang menyusup di dada Nathan.
Suara tertawa mereka sampai menyita perhatian Nathan.
"Kenapa dad?" Michel melihat perubahan raut wajah Nathan setelah melihat Meja yang sedang dikelilingi satu keluarga besar.
Michel lalu mengikuti apa yang dilihat Nathan.
"Tuh.. anak itu dad.. yang tadi menangis kaya petir. Mmm.. kayanya dia dimanja banget ya dad?" Michel mengamati orang-orang yang sedang tertawa di meja seberang yang sedang menguyel-nguyel bocah bule itu karena wajahnya imut dan tampan.
"Mmmm.. " Jawab Nathan pendek. Ada perasaan iri melihat kebersamaan satu keluarga seperti itu. dalam hati Nathan. Selama ini Nathan hanya menghabiskan waktunya hanya dengan Michel. Kalaupun kadang-kadang berkumpul dengan keluarga Alberto, tapi tidak bisa seakrab interaksi mereka.
"Dad.. kok melamun?" Michel tak ingin ayahnya bersedih segera membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Eh.. " Nathan kembali melihat Michel.
"Kangen bunda ya?" Ucap Michel menebak isi pikiran Nathan.