
"Aku berangkat dulu ya beb... " Irwan mencium pucuk kepala Ratna untuk pergi ke tempat yang baru saja Ratna sebutkan.
"Iya.. Hati-hati yang.. " Ratna mengantar suaminya sampai depan halaman. Beberapa anak buah suruhan Nathan sudah duluan sampai di tempat.
"Iya." Irwan mejukan mobilnya menyusul Nathan ke area pekuburan. Kalau bukan karena sayang sama Raisya, malas sekali berhubungan dengan Nathan. Irwan yang tahu betul penderitaan Raisya, tidak ingin anak abg itu mengalami hal yang sama dengan Raisya.
"Bagaiamana? Sudah ada petunjuk?" Irwan paling belakangan tiba di tempat.
"Belum. Tadi sudah disisir tapi tak ada tanda-tanda." Jawab Nathan dengan raut wajah yang kacau.
"Apa kita tanyakan ke pengurus? Mungkin saja mereka melihatnya. Atau laporan ke rt setempat." Irwan memberikan ide.
"Ya baik." Nathan bersama Irwan mendatangi pengurus malam dan rt setempat. Tapi hasilnya nihil. Mereka berjanji akan mencarinya besok pagi dengan mendatangi rumah-rumah warga.
"Sudah malam Pak Nathan. Sebaiknya besok pagi kita lakukan kembali pencarian." Irwan menghentikan pencarian karena kondisi pisiknya sudah lelah.
"Baiklah. Aku akan kembali besok." Terlihat wajah lelah juga bingung di diri Nathan.
Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan wajah kecewa karena belum menemukan keberadaan Michel.
"Bagaimana Michel sudah ditemukan?" Ratna yang masih menunggu Irwan sangat penasaran dengan kabar pencarian suaminya.
"Belum." Irwan melepas jaket lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan kaki dan tangannya.
"Tidurlah! Besok mungkin akan dilanjutkan lagi." Irwan langsung berbaring mengajak Ratna untuk istirahat.
Keesokan hari.
Nathan bangun lebih pagi. Dia bersiap untuk pergi ke kantor. Meski masalah pencarian Michel belum menemukan titik terang, dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya di kantor.
"Za.. tolong cancel beberapa meeting. Aku akan melanjutkan pencarian Michel." Ucap Nathan pada Reza.
"Baik pak. Oh iya pak, bagaimana dengan lamaran nona Amora?" Reza sudah menerima berkas dan email tentang CV Amora.
"Mmm... aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu bisa menilai kelayakan silahkan tempatkan di tempat yang sesuai. Atau kamu bisa minta rekomendasi dari yang lain agar bisa seimbang." Ucap Nathan yang belum bisa menilai tentang lamaran Amora.
"Baik pak." Reza mengerti apa yang harus diambilnya.
Setelah memeriksa beberapa pekerjaan. Nathan pergi ke luar. Dia kembali menyusuri area pemakaman yang diduganya kemungkinan Michel mengunjungi makam itu. Karena tidak tempat yang dikenal Michel selain tempat itu.
__ADS_1
Di lain tempat Michel sedang asik bersama bu Suri memberi pakan ayam. Sejenak Michel melupakan masalahnya, dia asik dengan dunia sederhana yang dimiliki oleh sepasang suami-istri itu.
"Ih.. lucu ya bu.." Michel asik memainkan anak ayam.
"Awas nanti dipatuk nak! Induk ayamnya marah nanti." Bu Suri tersenyum melihat Michel berlarian mengejar anak ayam.
"Hmmm... pak! Bagaiamana kalau orang tua anak itu mencari?" Bu Suri berbisik pada suaminya, pak Ahmad.
"Iya.. biarkan dulu anak itu bahagia. Kalau sudah tidak betah, nanti bapak antarkan ke rumahnya." Pak Ahmad tidak mau memaksa Michel untuk berterus terang. Dia pun masih ingin menikmati perasaan bahagianya dengan kehadiran Michel bersama mereka.
"Awww... ibu.. bapak... " Michel meringis.
"Kenapa nak?" Bu Suri langsung menghampiri Michel cemas.
"Dipatuk bu.. sakit." Entah kenapa Michel merasa langsung manja pada bu Nuri.
"Duh cup. cup.. " Bu Nuri langsung melihat luka yang dipatuk induk ayam.
"Pak sini!" Bu Nuri memanggil suaminya.
"Kenapa bu?" Pa Ahmad dengan langkahnya yang tergopoh-gopoh menghampiri Michel.
"Iya.. iya.. bapak beli dulu ke warung. Ibu cuci lukanya dulu!" Pak Ahmad seperti linglung bolak-balik entah apa yang dicarinya.
"Eh.. bapak kenapa?" Michel malah bingung melihat sepasang suami-istri itu seperti kebingungan.
"Iya iya.. bapak mau ke dalam dulu mengambil uang." Pak Ahmad akhirnya sadar harus mengambil uang untuk membeli obat.
"Bapak pergi dulu ya nak! Sabar ya!" Pak Ahmad langsung berlari menuju warung.
"Sama ibu dicuci dulu ya lukanya. Bu Nuri mengambil gayung lalu mencuci luka patukan.
"Sakit.. " Michel mendadak manja. Padahal lukanya tak seberapa.
"Sakit ya.. cup cup." Bu Nuri meniup-niup luka Michel. Padahal dengan ditiup tidak mengurangi atau menambah rasa sakitnya.
"Mbak.. ada obat merah sama tensoplas?" Pak Ahmad masih menahan nafas karena barusan habis berlari dan membuat nafasnya tersenggal-senggal.
"Oh... harus ke apotik pak." Jawab penjaga warung yang tidak menyediakan obat-obatan.
__ADS_1
"Waduh... " Pak Ahmad menggaruk kepalanya bingung. Karena apotik lumayan agak jauh dari rumahnya.
"Buat siapa pak? buat ibu?" Penjaga warung yang masih tetangganya bertanya ikut merasakan kekhawatiran. Karena keduanya sudah tua dan tidak ada anak yang menjaganya.
"Mmm.. itu.. buat nak Michel." Pak Ahmad yang polos mengatakan sejujurnya.
"Michel? Siapa Michel? Ada saudara pak Ahmad?" Penjaga warung agak heran, dengan nama asing yang ada di rumah pak Ahmad.
"Mmmm... anu.. " Pak Ahmad bingung kalau harus terus terang.
"Bapak ke apotik ya.. " Pak Ahmad langsung melengos menghindari pertanyaan tetangganya.
"Eh pak... " Penjaga warung memanggil pak Ahmad, tapi yang dipanggil malah pergi terburu-buru. Penjaga warung mencurigai gerak-gerik pak Ahmad. Pasalnya tadi malam ada beberapa orang mencari-cari seorang anak, tapi dia lupa namanya.
"Ada apa bu?" Seorang laki-laki muncul dari dalam rumahnya menanyai istrinya yang nampak gelisah.
"Pak.. bukannya tadi malam ada orang yang mencari orang hilang?" Dia melihat suaminya.
"Iya. Emang kenapa bu?" Tanya suaminya pada istrinya.
"Mmm.. pak Ahmad barusan mau membeli obat luka. Kok ibu curiga ya pak. Kan di rumahnya cuman ada istrinya. Tapi tadi dia menyebutkan nama Michel, apa tidak sebaiknya bapak menghubungi pak Rt?" Penjaga warung yang notabene adalah pemilik warung itu memberikan saran pada suaminya.
"Oh begitu?" Suaminya manggut-manggut.
"Iya pak. Biar pak Rt yang memeriksa ke rumah pak Ahmad. Kasian mereka mencari-mencari orang hilang." Laki-laki itu membenarkan apa yang dikatakan istrinya.
"Baiklah. Bapak ke rumah pak Rt dulu. Siapa tahu orang yang dicarinya memang ada di rumah pak Ahmad." Tanpa menunggu lama, laki-laki itu memakai sandal lalu berjalan menuju rumah pak Rt yang tidak jauh dari rumahnya.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Pak rt keluar untuk melihat tamu yang bertandang ke rumahnya.
"Eh..pak Dedi. Ada apa ya?"
"Maaf pak, apa kemarin ada yang mencari orang hilang?"
"Iya."
"Namanya Michel bukan?"
__ADS_1