
Setelah mereka bernyanyi berdua di tas panggung, keintenan mereka berlanjut di bawah. Amora sangat lihai sekali mendapatkan perhatian dari Nathan.
"Pak Nathan sepertinya kehausan, mau saya ambilkan minuman?" Tawar Amora yang tahu, sejak tadi Nathan belum menyentuh apapun yanga da di meja prasmanan.
"Mm... boleh." Ucap Nathan.
Tak lama kemudian Amora membaw du gelas berisi satu air mineral, yang satu air jus.
"Anda boleh memilih." Amora menyodorkan dia gelas yang dibawanya.
"Terimakasih." Nathan mengambil air mineral. Benar saja, setelah tadi memyanyi dua lagu kerongkongannya terasa kering sekali.
"Anda menyanyi merdu sekali, sampai para tamu kembali meminta Anda kembali menyanyi." Puji Amora dengan senyuman menggoda.
"Mmm.. biasa saja." Nathan agak malu-malu.
"Mungkin nanti kita bisa mencobanya, kalau lagi senggang. Di rumahku ada tempat karaoke khusus buat keluarga. Kapan-kapan pak Nathan boleh beduel dengan saya jika mau." Amora yang senang bernyanyi, sampai-sampai pak Hadi menyediakan ruangan khusus untuk karaokean.
"Oh ya?" Nathan melebarkan mata.
"Mmm.. atau kalau anda ingin bebas kita bisa menyewa ruangan di luar. Nanti akan saya pilihkan tempat karaoke yang bagus." Amora yang sering nongkrong-nongkrong di tempat karaoke tahu tempat mana yang bagus sekitar Jakarta.
"Wah.. kamu rupanya suka ya?" Obrolan mereka mulai nyambung.
"Ya..karena hobi menyanyi jadi suka sama keluarga atau teman-teman datang ke sana." Amora sedikit menyembunyikan kebiasaannya.
"Oh.. begitu. Kenapa tidak mencoba menjadi artis?" Usul Nathan memberikan saran.
"Ah.. itu cuman hobi saja pak kalau lagi be te. Saya tidak menjadikannya sebagai profesi. Suara saya juga tidak sebagus mereka." Amora berpura-pura merendah.
"Mmm.. begitu ya?" Nathan tidak mau lagi mengomentari.
Setelah acara duel Nathan bersama Amora acara ditutup mc. Satu persatu menyalami Nathan untuk perpisahan dan ucapan terimakasih mereka.
"Duh.. kemana ya papa?" Ucap Amora yang suara masih terdengar oleh Nathan. Padahal dia sengaja agar Nathan bisa mengantarkannya.
"Kenapa?" Nathan menoleh ke arah Amora.
__ADS_1
"Sepertinya papa pulang duluan. Aku tidak membawa mobil. Dompet saya juga tadi saya titipkan sewaktu naik ke panggung." Keluh Amora agar mendapatkan simpati Nathan.
"Mmm.. tunggu sampai tamu selesai berpamitan. Nanti aku akan antarkan." Ucap Nathan yang masih menyalami beberapa tamu. Amora tersenyum puas. Akhirnya malam ini dia bisa diantar oleh Nathan.
"Pak Nathan.. saya pamit dulu!" Irwan dan Ratna menghampiri Nathan. Disampingnya ada Michel yang sedari tadi mengekor pada Ratna.
"Oh.. iya." Nathan tiba-tiba menarik tangan Irwan dan menjauh dari Ratna, Amora juga Michel.
"Ada apa pak Nathan menarik saya?" Heran Irwan.
"Kamu.. jangan keluar ya! Aku butuh kamu untuk membantu menjalankan usahaku." Nathan setengah berbisik.
"Tidak.. saya sudah bulat pak." Irwan tetap tidak mau, dia bersiteguh dengan pendiriannya.
"Please... tolong aku Wan.. aku janji. Aku tidak bakalan mengganggu kehidupan Raisya, apalagi dia sudah menikah. Aku butuh kamu wan... " Mata Nathan menyiratkan kesungguhan.
Irwan masih terdiam. Tidak bisa memutuskan keinginan Nathan agar tetap bekerja.
"Aku tidak memaksa kamu untuk bekerja keras. Cukup kamu bekerja di sisiku. Aku butuh keberadaan kamu Wan." Nathan begitu berharap jika Irwan membatalkan pengunduran dirinya.
"Ya.. baiklah. Kamu boleh diskusi dahulu dengan Ratna. Aku berharap kamu bisa bekerja seperti biasa. Aku tunggu!" Nathan tak ingin Irwan keluar dari perusahaan.
Keduanya masing-masing kembali pada Ratna juga Michel.
"Pak saya pergi duluan." Irwan dan Ratna segera berlalu dari ruangan.
"Mari.." Nathan mengajak Amora. Mereka bertiga berjalan berdampingan. Michel agak memicingkan mata. Kenapa sekarang mereka pulang bertiga.
Nathan pergi ke arah kemudi, Amora buru-buru mendahului Michel agar dia bisa duduk di samping Nathan. Michel melihat sinis pada perempuan yang berjalan mendahuluinya. Terpaksa Michel duduk di belakang karena kursi depan sudah terisi Amora.
Mobil pun melaju ke jalan besar. Sepanjang jalan Michel hanya berselancar melihat produk-produk yang ada ditoko online milik Ratna. Dia tiba-tiba serius melihat satu persatu model yang ada di laman toko online itu. Padahal kemarin boro-boro berminat membeli, melihat pun enggan.
Nathan melihat sesekali dari kaca spion depan melihat ke belakang.
Amora tak mau kehilangan kesempatan bersama dengan Nathan. Dia memulai pembicaraan ringan dalam mobil agar tidak terlihat kaku.
"Maaf Pak.. saya jadi merepotkan bapak." Ucap Amora sambil melihat ke samping. Yah melihat Nathan dari dekat menambah dirinya semakin tertarik pada Nathan. Dia nampak gagah juga tampan. Aura mapan dan dewasanya semakin terlihat ketika dia melihatnya sedekat ini.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Saya juga tidak mempunyai acara lagi. Rumah kamu juga searah." Ucap Nathan tanpa menaruh curiga apa-apa.
"Terima kasih pak." Ucap Amora sambil membungkuk.
Dilihatnya Michel ke belakang. Ternyata Michel malah sudah tertidur.
"Michel sepertinya kecapean ya pak?" Imbuh Amora pada Nathan.
"Iya. Mungkin tadi kecapean habis belanja sama-sama teman-temannya." Jawab Nathan fokus melihat ke arah jalanan.
"Bapak sudah berapa lama menjadi single parent?" Meski Amora sudah mengetahui seluk beluk Nathan, tapi pura-pura tidak tahu.
"Berapa ya? Cukup lama." Jawab Nathan pendek. Dengan mengingatnya itu seperti membuka luka lama.
"Bapak tidak coba menikah lagi?" Amora sejak tadi melihat ke samping menikmati pemandangan gratis yang dihasilkan dari wajah Nathan yang tampan.
"Sudah." Pertanyaan Amora berhasil membuat Nathan mengingat dua orang dengan nama yang sama. Sampai sekarang Nathan belum mengetahui keberadaan yang sebenarnya tentang Raisya.
"Lalu kenapa bapak terlihat sendiri?"
"Kami bercerai lagi."
"Oh.. kenapa?"
"Saya terlalu mencintainya?" Ucap Nathan mengakui perasaannya. Sepeninggal Raisya dia baru tahu berdasarkan riset, bahwa mesin pendeteksi yang melingkar dipergelangan tangannya menandakan bahwa dia sedang jatuh cinta dengan Raisya saat itu. Tapi karena dia mengidap gangguan emosi, jadi Nathan sulit membedakan perasaannya.
"Wah, saya baru tahu ada orang yang berpisah karena terlalu mencintai." Kali ini Amora sangat jujur.
Nathan terdiam.
"Apa Anda berniat untuk mencari pengganti ibunya Michel?"
"Belum.. "
Entahlah pertanyaan demi pertanyaan yang dilayangkan Amora semakin membuat dada sesak. Pandangan tentang Raisya seolah muncul dalam pikirannya sekarang. Setiap kekejaman yang dilakukannya semakin terasa menyakitkan hatinya. Dia menyesalinya. Kenapa dia bisa berbuat sekejam itu waktu itu pada Raisya, tapi tidak kepada perempuan lainnya. Itu bentuk ekspresi rasa kepemilikan dirinya yang terlalu ambisius.
"Mungkinkah bapak bisa memulainya dari sekarang?" Amora tak ingin berlama-lama untuk menyatakan rasa sukanya.
__ADS_1