Suami, Rupa Madu Mulut Racun

Suami, Rupa Madu Mulut Racun
Berpamitan


__ADS_3

Seminggu sudah Arsel dirawat. Hari ini adalah hari kepulangannya. Anak itu sudah ceria kembali, menandakan dia sudah pulih.


"Rat.. aku ingin pulang ke Bandung. Sekalian aku sudah kangen sama mamah." Ucap Raisya sambil membereskan pakaian Arsel.


"Ya.. terserah kamu. Aku sih dukung aja. Kamu butuh healing juga. Tapi bagaimana dengan Michel?" Ratna setengah berbisik bicara pada Raisya.


"Iya.. aku juga bingung. Anak itu juga tidak mau sekolah. Aku tidak bisa memaksa. Kalau aku bicara sama Nathan... untuk waktu sekarang aku agak ogah." Raisya menghentikan gerakannya mengamati Michel yang sedang main handphone bersama adiknya Arsel. Keduanya sudah nampak akrab. Selama di rumah sakit Michel dan Arsel selalu bermain bersama dan keakraban mereka terjalin begitu saja.


"Coba kamu bicara dulu sama Michel baik-baik! Kalau kamu main bawa, pastinya Nathan bakal ngamuk Sya." Bisik Ratna.


"Iya. Aku coba bicara setelah semuanya beres dikemas." Raisya melanjutkan acara beres-beresnya agar bisa cepat pulang. Rencananya dia akan pulang ke rumah Ratna dulu. Keesokan paginya dia baru akan berangkat ke Bandung sambil liburan. Sudah lama dia tidak pulang ke rumah ibunya. Ada rasa rindu menyelinap ingin bertemu keluarga.


"Michel.. mau temani bunda keluar?" Raisya menoleh ke arah Michel yang masih asik bermain dengan Arsel.


"Boleh bun." Jawab Michel tak menolak.


"Arsel tunggu dulu ya sama tante Ratna! Bunda mau bayar biaya rumah sakit dulu." Raisya pamit izin takut Arsel mengamuk.


Tapi semenjak Arsel dirawat, anak itu tidak menunjukkan sikap arogannya. Malah terlihat lebih kalem. Bahkan dia asik bermain dengan Michel tanpa beban.


"Iya ma." Arsel mengangguk menurut.


Raisya dan Michel berjalan ke ruang administrasi rumah sakit. Rencananya setelah menyelesaikan pembayaran Raisya akan mengajak ngobrol Michel sebelum menemui Nathan. Setelah meninggalkan ruangan waktu itu, Raisya belum menemui lagi Nathan di ruang inapnya begitupun Michel. Anak itu meski dibujuk untuk menemui ayahnya, tapi bersikukuh tidak mau.


"Maaf Pak saya wali dari pasien Arsel dari ruangan VIP Blossom. Hari ini pasien sudah diizinkan pulang. Sekarang mau bayar administrasi perawatan." Raisya berbicara pada bagian administrasi rumah sakit.


"Sebentar ya bu.. saya cek dulu." Seorang laki-laki bagian administrasi langsung mengetikkan data di keyboard komputer.


"Bu Raisya.. " Dari belakang ada suara laki-laki memanggil Raisya. Raisya menoleh ke belakang.


"Eh pak Reza.. " Raisya agak kaget tiba-tiba Reza sudah ada di sampingnya.


"Maaf Bu.. untuk biaya perawatan Arsel sudah ditanggung pak Nathan." Ucap Reza sambil sambil mengambil nafas jeda. Rupanya tadi dia berlari mengejar Raisya setelah mendapatkan kabar bahwa Arsel akan meninggalkan rumah sakit.


Raisya terdiam.

__ADS_1


"Maaf Bu Raisya bolehkah saya meminta waktu anda sebentar?" Wajah Reza kelihatan cemas.


"Iya. Sebentar saya akan menyuruh Michel untuk kembali ke ruangan." Raisya berbalik berniat bicara pada Michel.


"Sebaiknya jangan!" Reza menahan Raisya.


Raisya mengerutkan dahi. "Kenapa?" Raisya heran kenapa Reza melarang Raisya dan Michel.


"Sebaiknya anda dan Michel datang ke ruangan pak Nathan. Beliau sedang kritis." Reza terpaksa mengatakan Nathan yang sebenarnya.


"Apa???" Raisya seketika lemas. Dia langsung memegang tangan Michel.


"Anda tak apa-apa?" Reza melihat Raisya khawatir. Badannya seperti akan limbung.


"Bawa saya kesana!" Suara Raisya tercekat. Kabar itu membuat badannya hampir ambruk. Ada kekhawatiran yang sangat. Pasalnya kemarin sewaktu terakhir bertemu, Nathan nampak baik-baik saja.


"Mari saya bantu!" Reza berniat akan menuntun Raisya yang kelihatan lemas.


"Biar saya saja om!" Michel langsung mengalungkan sebelah tangan Raisya ke punggungnya.


Ketiganya berjalan berdampingan dengan langkah pelan. Dada Raisya terasa sesak begitu sampai di depan pintu ruangan Nathan.


"Apa yang terjadi dengan pak Nathan?" Raisya bertanya keadaan keadaan Nathan sebelum memasuki ruangannya.


"Pak Nathan terkena virus. Badannya terus drop. Saya harap bu Raisya bisa kuat, dan bisa memberikan semangat agar imunnya kuat." Reza dengan hati-hati memberitahu kabar penyakit yang sekarang diderita Nathan.


"Baik." Raisya mengambil nafas agar tidak kelihatan lemah dihadapan Nathan. Meski dia sendiri memang rapuh.


Krekkk...


"Assalamu'alaikum... " Raisya dengan menguatkan hati melangkah masuk ke ruangan perawatan Nathan. Sepasang mata melihat ke arah dirinya juga Michel.


Nathan dengan selang udara yang menempel di area hidung juga mulutnya menatap lemah ke arah pintu. Meski terhalang dengan alat bibirnya mengembangkan senyum bahagia.


Raisya juga Michel duduk ditepian kasur. Nathan meraih tangan Michel lalu menggenggam tangannya lemah. Nathan ingin sekali bicara tapi dadanya benar-benar sakit. Netranya bergiliran menatap dia perempuan beda umur yang dicintainya dengan penuh rindu. Hampir seminggu dia tak melihat wajah mereka. Wajah-wajah yang selalu diinginkannya dekat dan bercengkrama.

__ADS_1


Nathan tak bisa berbuat apa-apa setelah tuan Robert memisahkan kamar mereka karena alasan ketidaknyamanan. Justru setelah ruangan itu dipisahkan kondisi kesehatannya malah drastis menurun. Dia mengidap pneumonia.


"Sya.. " Nathan memaksakan diri memanggilnya.


"Iya aku disini." Jawab Raisya menenangkan.


"Pak Nathan.. " Reza menyodorkan tablet untuk komunikasi. Untuk mengurangi bicara, Nathan berbicara lewat bahasa tulisan.


Dia mulai menuliskan sesuatu.


"Bagaiamana kabar anak kita Arsel? Aku kangen."


Raisya melihat apa yang ditulis Nathan.


"Arsel.. alhamdulillah sudah sehat. Sekarang mau pulang. Kamu cepat sehat ya!" Raisya memberi semangat.


Nathan tersenyum bahagia. Dia menuliskan sesuatu lagi.


"Sya.. aku ingin menikah segera. Please... mau ya?" Please mengedipkan matanya. Wajahnya begitu berharap Raisya langsung mengiyakan.


"Aku harus minta izin dulu. Aku mau pulang dulu ke Bandung. Kamunya harus cepat sembuh ya!" Raisya tak bisa langsung menjawab. Terus terang saja, Raisya masih menimbang rasa tentang perasaannya pada Nathan. Ada yang harus ditata kembali luka dan iba yang bersamaan hadir di hatinya.


Michel langsung menghampiri. "Daddy... Michel akan disini menunggu daddy. Daddy cepet sembuh biar kita nyusul ke Bandung. Michel mau bareng sama daddy ke sana." Untungnya Michel mengerti apa yang harus dilakukannya. Ini bukan kali pertama dia harus mengurus ayahnya yang sakit.


Nathan langsung tersenyum bahagia. Seperti ada energi positif melihat Michel memberi semangat padanya.


Nathan menuliskan sesuatu. "Bolehkah aku ingin bertemu putra kita?"


"Iya baik. Aku akan bawa Arsel kesini." Jawab Raisya.


Raisya mengetikkan sesuatu lalu mengirimkan pesan pada Ratna.


"Terimakasih ya Sya!" Nathan berkata lirih.


Raisya mengangguk.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu diketuk lalu muncul Ratna dan Irwan sambil menggendong Arsel.


"Ayo sayang.. pamit dulu sama daddy." Irwan mendekatkan Arsel pada Nathan berpamitan.


__ADS_2