
3 tahun kemudian
Seperti dua tahun terakhir ini Jason hanya bisa termenung melihat wajah yang dirindukan nya itu masih juga tertidur pulas. Wajahnya tenang seperti sedang bermimpi indah.
"Sayang... apa yang harus aku lakukan?" Malam ini Jason nampak putus asa. Setelah dokter memvonis istrinya mati otak dan kemungkinan kecil dia akan kembali sadar.
Sungguh perkataan dokter tadi siang membuat Jason semakin terpuruk. Dua tahun ini Jason selalu menyemat doa buat istrinya yang telah koma paska melahirkan putra mereka tercinta.
Wajahnya yang biasa bersih kini terlihat semakin tidak terurus. Entah sejak kapan dia tak bercukur. Namun meski begitu kegagahannya masih nampak terlihat.
Kalau bukan karena putra mereka tercinta, Jason mungkin sudah sejak lama putus asa. Dialah yang selalu memberinya semangat untuk tetap mempertahankan dan merawat Raisya dengan baik. Dibantu orang-orang terdekat nya, Jason mengurus sang putra dengan baik. Tapi hari ini semangat nya begitu drop begitu mendengar vonis dokter yang tak siap didengar nya.
Kini wajah tampan duplikasi nya sudah berumur 2 tahun. Sudah pintar mengoceh, dan berlarian. Tiap hari anak tampan itu selalu dibawa ke rumah sakit agar dia bisa bertemu dengan ibunya yang masih asik tidur seperti putri tidur. Tapi hari ini putra tampannya tak dibawanya karena Jason harus berbicara serius dengan dokter yang biasa menangani Raisya.
"Sayang... bangunlah! Aku...tak siap jika harus kehilangan dirimu. Apa yang membuatmu asik tertidur lama sayang? Bukankah kamu sudah berjanji akan menemaniku sampai tua nanti?" Jason mengelus lembut tangan istrinya yang semakin hari semakin pucat karena jarang terkena sinar matahari.
Tanpa disadari Jason tertidur di samping ranjang Raisya. Mungkin lelah bekerja dan sekarang pikiran nya pun melayang tak menapaki bumi. Dengkuran halus mulai terdengar. Jason selalu setia setiap malam tertidur di samping Raisya meski keesokan harinya badannya akan terasa kaku.
"Hany... tanganku pegal." Suara lirih terdengar pelan sekali, bahkan seperti nyaris seperti angin.
"Hany... " Matanya yang satu melihat pucuk kepala yang sedang tertidur di samping nya dengan posisi menindih tangannya.
Karena lemah dan sudah dua tahun ini dia tergeletak di atas blankar, dia tak mampu menggerakkan tangannya lebih. Terlebih sekarang tangannya tertindih wajah laki-laki yang selalu setia menemani nya.
"Ah.. tanganku kesemutan. Bagaimana ini?" Dia hanya bisa bergumam lirih.
Matanya melihat ke samping melihat tangannya yang masih dipasang selang infus. Sekarang kedua tangannya terasa sakit. Yang satu karena selang infus, yang satu lagi karena kesemutan.
Dia berusaha berjuang sekuat tenaga menarik tangannya yang lemah yang masih terpasang infus. Karena berjuang mengangkat tangannya yang sedang tertindih rasanya tidak mungkin. Itu terlalu berat dirasakan nya.
Perlahan tangannya diangkat lalu dengan gemetaran di berusaha mengelus rambut laki-laki yang selama ini dicintainya.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga akhirnya tangannya sampai di kepala laki-laki itu. Dia tersenyum manis seperti biasa. Bahagia melihat laki-laki yang selalu meratukannya tiap waktu.
Gerakan tangan yang halus di kepala Jasin seolah terbawa mimpi. Jason tersenyum dalam tidur nya. Dia yang pulas seolah gerakan itu terjadi di alam mimpinya.
"Hany... " Panggilnya lagi.
"Hany... " Suara serak itu dipaksakan untuk bersuara lebih keras lagi.
Sayup-sayup telinga Jason mendengar panggilan yang sudah lama dirindukannya itu. Alam bawah sadarnya kini perlahan beralih ke alam sadar. Jason perlahan bergerak mengedipkan matanya. Dan pangilan itu semakin jelas terasa nyata di telinganya.
Jason sontak terbangun dan mengangkat wajahnya dan beralih pada perempuan yang sedang terbaring.
Dia tersenyum manis.
"Sayang... " Jason terpana melihat wajah yang sedang menatapnya dan melemparkan senyum tercantiknya.
"Mmm... " Jawabnya halus.
"Sayang... kau bangun sayang?" Jason melepaskan tangan yang sedang digenggam nya dan mengucek kedua matanya. Dia khawatir itu hanya halusinasi dia semata.
"Aku tidak sedang bermimpi kan sayang?" Jason kini menepuk kedua pipinya. Dan dirasa tepukan nya itu terasa sakit. Berarti dia sedang di alam nyata.
"Sayang... " Jason menghamburkan diri memeluk perempuan yang selalu tertidur itu.
"Kamu bangun sayang??" Jason memeluk perempuan lemah itu dengan kuat. Lalu air matanya tak tahan untuk tidak turun melihat perempuan yang selama ini dirindukan nya itu terbangun. Dia sedang tidak bermimpi.
"Hany.. aku tercekik." Ucapnya lirih.
"Astaghfirullah.. maafkan aku sayang." Jason langsung melepaskan pelukannya dan menatap perempuan itu dengan buraian air mata. Tangannya masih menggenggam bahu yang kurus kering itu dengan kuat karena masih tak percaya melihat Raisya terbangun, padahal vonis baru saja dijatuhkan dokter.
"Hany... sakit." Raisya lagi-lagi mengeluh karena genggaman Jason terasa sakit mencengkram nya terlalu kuat.
__ADS_1
"Oh.. maaf sayang.. " Jason melepaskan genggaman itu. Dia baru sadar bahwa kekuatan nya telah menyakiti Raisya.
"Aku... hubungi dokter dulu ya!" Jason memijit tombol untuk memanggil tim medis agar segera datang. Pikiran Jason beberapa detik seperti blank. Dia tidak tahu harus berkata apa selain menatap istrinya dengan masih beruarai air mata.
"Hany... kenapa menangis?" Suara lirih itu kembali bertanya melihat sang suami berlinang air mata.
Jason langsung menyeka air matanya.
"Sayang... aku... rindu sama kamu. Rindu sekali. Terimakasih sudah bangun sayang... " Jason kembali memeluk Raisya, tapi kali ini dia memeluk nya dengan penuh perasaan.
"Aku juga rindu hany... " Jawab Raisya tersenyum.
Tak lama kemudian dokter dan perawat pun datang ke ruang ICU dimana Raisya mendapatkan perawatan.
"Dokter... " Jason melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah dokter. Dia memberikan kesempatan pada tim medis untuk memeriksa istrinya yang baru saja siuman dari komanya. Jason pun bergeser agar dokter leluasa memeriksa Raisya.
"Ini suatu keajaiban." Dokter yang biasa menangani Raisya begitu kagum melihat pasiennya bisa siuman setelah dua tahun koma dan baru tadi siang dia memvonisnya dengan mati otak.
Setelah itu dokter memeriksa Raisya sesuai prosedur. Dokter pun tersenyum.
"Selamat ya bu Raisya. Semoga anda lekas sembuh dan kembali berkumpul. Semuanya terlihat baik." Ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan dengan detail pada Raisya.
"Terima kasih." Ucap Raisya lirih melihat ke arah dokter.
"Beri pasien minum terlebih dahulu sebelum dipindahkan ke ruang perawatan!" Titah dokter pada perawat juga asisten nya.
"Baik dok!" Jawabnya kompak.
"Selamat pak Jason. Karunia Tuhan yang telah memberikan kesempatan pada bu Raisya untuk kembali siuman." Dokter menepuk bahu Jason.
"Terima kasih dok." Jawab Jason tersenyum bahagia.
__ADS_1
Raisya pun dipindahkan ke ruang perawatan. Semua orang dikabari oleh Jason mengenai berita baik ini. Dia merasa sangat bahagia melihat istrinya kembali sadar. Tak henti-hentinya Jason mengucap syukur. Kini kehidupan nya kembali normal. Dia sudah berkumpul kembali dengan lengkap. Ada istri dan juga putranya tercinta. Sungguh ini adalah kebahagiaan yang tak bisa dilupakannya.
Tamat