
Hati, siapa tahu dengan isi hati manusia. Terkadang tidak bisa ditebak dan diterka. Terkadang rumit dan sulit untuk memahami hati. Apalagi menata hati yang sedang berantakan. Hanya meminta kepada sang Pemiliknya saja. Kita berlabuh menengadahkan segala kegundahan dan kelegaan. MilikNya semua yang ada padi diri.
"Bebeb... " Suara itu terdengar samar. Telinga Raisya seakan berdiri memastikan apakah ada Ratna? Karena panggilan itu hanya diucapkan dia seorang.
"Ayang.. kamu?" Raisya mencoba manggilnya kembali untuk memastikan apakah benar ada Ratna.
Karena begitu shalat isya dia langsung meringkuk di atas sajadahnya tak kuat ingin tidur.
"Hhmm." Orang dibalik pintu menjawab pendek setelah tadi beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada yang menyahut. Akhirnya dia harus memangil bebeb.
"Maafin aku sayang. .. tadi aku ketiduran. Yuk masuk!" Raisya menyuruh Ratna masuk kostan nya.
"Aku juga tahu tadi pas kamu baca Quran, tapi aku gak tega mau ngetuk pintu. Eh nih.. tadi si Jacky nitip ini.. katanya handphone kamu ilang ya? Pantesan saja gue telpon gak aktif." Ratna menyodorkan kotak berisi handphone baru merk terkemuka.
"Wah.. ini ngutang apa ngasih sih...?" Raisya bukannya gembira malah mengerutkan dahi.
"Mending lu tanya dulu deh! Daripada jadi beban. Mending kalau dia ngutangin. Lah..kalau harus dibayar dengan yang laen repot." Ratna menunduk teringat dengan kejadian tadi pagi.
"Iya. Aku pinjam deh handphone kamu. Biar aku telpon Jcaky." Raisya meminjam handphone Ratna.
"Nih!" Ratna menyodorkan handphone nya.
"Aku pinjam sebentar!" Raisya berjalan ke arah dapur agar pembicaraannya tidak terdengar Ratna.
"Assalamu'alaikum Jack."
"Waalaikumsalam. Dengan siapa ini?" Suara diseberang telepon bertanya.
"Ini aku Jack! Raisya."
"Oh apa bidadariku?" Suara itu mulai menggoda.
"Ini Jack. he he... Handphone yang elu kasih berapa harganya? Gue gak tahu elu mau beliin handphone buat gue. Tahu gitu gue mau yang biasa-biasa aja. Gak mau I-phone. Gua gak ada receh buat bayarnya. He he." Canda Raisya.
"Ya elah.. buat elu apa sih yang gak buat gue!"
"Sombong ammattt!" canda Raisya.
"Suer loh Ra.. elu mau gue kawinin juga, gue bisa Ra! He he.. " Jacky terkekeh menggoda Raisya.
"Emang lu berani ngasih mas kawin Jaguar?"
__ADS_1
"Bisa! Asal elu mau aja kawin sama gue!'
"Eh kalau kawin mah beda sama nikah loh Jack! Gue gak mau ah.. gue mau nikah aja sama bos yang punya perusahaan. He he... " Canda Raisya.
"Kalau gue yang punya, elu mau gak Ra?" Nada suara Jacky tiba-tiba terdengar berubah.
"Gak gak.. Jack, gue becanda. Sekarang gue mau serius Jack. Ini gue kembalikan aja ya handphonenya. Gue gak kebayarJack beli handphone tipe elu mah. Gue gak mau ngutang apalagi berhutang budi." Raisya akhirnya membicarakan niatnya pada Jack.
"Gue ngasih lo Ra! Gue gak ngutangin, juga gak mau elu berhutang budi sama gue. Pake ajalah Ra!"
"Gak lah Jack! Ntar gue beli sendiri kalau mau. Lagian gue mau beli yang sesuai kantong aja deh. Lu bisa kembaliin ke gerai nya lagi!" Ucap Raisya.
"Lu buang aja!" Jacky menutup teleponnya, dia tersinggung.
"Jack.. Jack.. Ya elah.. dia nutup telepon?" Raisya menatap layar handphone nya yang berbunyi tut tut karena ditutup Jack.
"Ya ampun... kenapa sih dia?" Raisya terdiam memikirkan sikap Jacky.
"Kenapa Beb?" Tiba-tiba Ratna sudah ada di depannya.
"Astaghfirullah.. Ratna.. kaget." Raisya memegang dadanya benar-benar kaget mendengar suara Ratna yang sudah ada di depannya.
"Gue mau pipis gak kuat, minggir beb!" Ratna segera masuk ke dalam kamar mandi.
"He he sorry beb.. " Ratna bicara di dalam kamar mandi.
Raisya kembali berjalan ke depan.
"Lah.. Ratna... ari maneh rek hijrah kamana? Ieu ngagembol tas sagala?" Mata Raisya melongo melihat tas travel dipinggir pintu. Tadi dia gak begitu memperhatikan Ratna yang membawa tas bawaannya.
(Lah Ratna kamu mau pindahan kemana?)
"Bebeb.. Maafin gue." Ratna merangkul pundak sahabatnya dari belakang.
"Ini maksudnya apa Ratna?" Raisya masih heran dengan maksud Ratna membawa tasnya ke kostan nya.
"Gue mulai besok kost sama elu disini." Jawab Ratna tanpa beban.
"Ya ampun Rat.." Mata Raisya menatap tak percaya kelakuan Ratna.
"Iya aku gak enak juga kalau gak bareng kamu Beb. Mobil gue di bengkel. Terus kalau berangkat dari rumah kan naik mobil online gue sendirian. Kalau gue berangkat dari sini kan bisa bedua naik mobil online nya." Oceh Ratna sambil tersenyum manja mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Ih geuleuh Ratna siaga anu cacingan.. 'Raisya kembali bicara dengan logat sundanya.
(Ih sebel, kamu kaya cacingan)
" Kalau aku kost sama kamu kan kita bisa pulang pergi bareng, terus biaya kostnya bisa dibagi dua, terus kita bisa ngerjain laporan bareng sama kamu beb." Ratna seperti biasa memberi alasan yang membuat Raisya kadang tak bisa mengelak.
"Iya tapi.. Rat.. ini kasurnya kecil, elu mau tidur. dimana?"
"Ya cukup beb, kita tidur bersama aja." Usul Ratna pada Raisya. Melihat kasur yang disediakan lumayan cukup berdua.
"Gak Rat.. elu tidur rusuh. Gue juga risih Rat.. " Raisya merasa keberatan.
"Iya udah gue online aja beli kasur lagi ya.. he he." Ratna kembali merayu Raisya.
"Eh gue mau tanya serius sama elu Rat. Elu jawab yang jujur kenapa elu pindahan kesini?"
"Hhhmm gue gak tahu Raisya. Gue gak bisa jawab." Ratna langsung diam. Di duduk termenung menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya. Ratna kali ini tidak bisa menjawab pertanyaan Raisya.
"Ya udah.. untuk malam ini gue izinin lu menginap disini. Tapi besok elu harus balik ke rumah elu lagi. Gue gak menerima alesan lagi lu nginap disini. Lu belajar untuk tidak ketergantungan Rat!" Raisya lalu duduk di samping Ratna sambil menatap Ratna. Raisya tahu kalau Ratna tak bisa jauh-jauh dari Raisya karena trauma.
Di lain tempat Michel mengerjap-ngerjapkan matanya. Lalu melirik mengamati sekelilingnya. Entah kenapa Michel menjerit membuat Baby sitter kaget dan menghampirinya.
"Kenapa Michel? Tenang ini suster sayang.. " Suster itu berusaha menangkan Michel.
"Tante... " Dia bangkit dari tempat tidurnya lalu keluar kamar mencari-cari seseorang.
"Ada apa suster?" Nathan keluar dari kamarnya lalu turun mendekati Michel yang sedang menangis.
"Gak tahu tuan, tadi memanggil-mangil tante."
Nathan menggendong Michel yang sedang menangis.
"Michel tidur sama Daddy yuk!"
"Tante mana?"
"Michel kangen sama tante?"
Michel mengangguk.
"Nih tante kasih kamu handphonenya.
__ADS_1
Katanya kalau nanti Michel kangen tinggal dipeluk!"